top of page

Gerilyawan Republik Bernama Bun Seng

Dia tercatat sebagai anggota gerakan bawah tanah anti pendudukan Belanda di Padang. Berbagai aksi dilakukannya: mulai menyelundupkan senjata hingga aksi mata-mata.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 25 Jun 2019
  • 3 menit membaca

Bukittinggi 1947. Sjoeib panik bukan kepalang. Hingga menjelang tengah malam, tiga kadet yang ditugaskannya untuk menyelusup ke kota Padang sejak pagi buta, belum juga kembali. Dia sudah menduga ketiganya tertangkap tentara Belanda dan gagal melaksanakan misi.


“Saya sudah pasrah saja dan siap-siap melakukan rencana B, yakni memindahkan basis ke tempat lain,” kenang eks instruktur Sekolah Opsir Bukittinggi tersebut.


Beruntunglah keesokan paginya, ketiga kadet itu muncul. Dalam laporannya, mereka menyatakan diburu tentara Belanda dan terdesak hingga diselamatkan seorang pemuda Tionghoa. Sang pemuda menyembunyikan mereka di atas para-para rumahnya. Ketika tentara Belanda datang, dia bersikeras tidak mengetahui keberadaan “tiga ekstrimis” buronan militer Belanda tersebut. Siapakah sebenarnya pemuda Tionghoa itu?


Dia bernama Sho Bun Seng, gerilyawan TNI dari Kesatuan Singa Pasar Oesang. Bun Seng cukup populer di kalangan para Republiken. Selain mencari senjata, tugas lelaki kelahiran Kutaraja pada 1911 itu juga adalah menjalankan infiltrasi ke organisasi-organisasi masyarakat Tionghoa pro Belanda untuk kemudian melakukan “pembusukan” dari dalam.


Sebagai mata-mata, peran Bun Seng memang mumpuni. Suatu hari dia bisa berlaku sebagai seorang pawang buaya, di lain kesempatan dia berperan sebagai guru sejarah. Bahkan dalam riwayat singkatnya yang dikisahkan Letnan Kolonel (Purn) Abdul Halim (eks pejuang di Sumatera Barat), Bun Seng pun pernah menjadi pemain sandiwara.


“Zaman Jepang dia memang pernah menjadi penari di Dardanella, grup sandiwara terkemuka di Sumatera yang pernah melanglangbuana ke negara-negara Asia,” ujar Abdul Halim dalam Pengalaman Tak Terlupakan Pejuang Kemerdekaan Sumatera Barat-Riau.


Sikap anti Belanda Bun Seng bermula dari pengalaman masa remajanya di Padang pada 1926. Dengan mata kepalanya sendiri, dia menyaksikan bagaimana polisi-polisi Hindia Belanda memperlakukan secara kejam orang-orang yang terlibat dalam pemberontakan kaum komunis di Silungkang.


“Peristiwa itu ikut membakar dia punya rasa keindonesiannya,”ungkap Abdul Halim.


Kala api revolusi berkecamuk di Sumatera Barat, Bun Seng memutuskan untuk bergabung dengan gerilyawan Republik pimpinan Letnan Kolonel Ismail Lengah. Karena bakat telik sandinya, Ismail Lengah lantas menugaskan Bun Seng untuk bergabung dengan Kesatuan Singa Pasar Oesang pimpinan Mayor Kemal Mustafa. Sang komandan kemudian memberikan tugas kepada pemuda Tionghoa itu untuk menginfiltrasi Pao An Tui (PAT), milisi Tionghoa yang pro Sekutu dan Belanda, di Padang.


Tanpa banyak cakap, Bun Seng melakukan tugas itu. Guna menarik perhatian orang-orang Tionghoa di Padang, dia kemudian membentuk sebuah organisasi pemuda Tionghoa bernama Pemoeda Baroe. Lambat laun, kepemimpinannya dikenal banyak orang Tionghoa hinga kemudia dia didapuk sebagai ketua PAT Padang.


Oleh Bun Seng, PAT Padang disetir ke arah Republik. Sebagai pemimpin pemuda Tionghoa, alih-alih akrab dengan Sekutu dan Belanda, dia malah memiliki hubungan khusus dengan para pejuang Republik di pelosok dan terlibat aktif dalam penyelundupan senjata-senjata dari kota untuk para gerilyawan Republik.


“Salah satu langganan Bun Seng, selain Kesatuan Singa Pasar Oesang, adalah Batalyon Harimau Koerandji pimpinan Mayor Achmad Hoesein,” ujar Sjoeib


Pada Januari 1947, PAT Padang dibubarkan karena dianggap rawan digunakan untuk kepentingan Belanda. Tak hilang akal, dia kemudian bergabung dengan organisasi sipil orang-orang Tionghoa yakni Cu Hua Cung Hui. Di organisasi ini dia diangkat sebagai koordinator keamanan.


Jabatan itu menjadikan Bun Seng leluasa bergerak kemana-mana. Dengan alasan mengurusi persoalan orang-orang Tionghoa di Sumatera Barat, dia secara bebas bisa menemui simpul-simpul Republiknya. Tak jarang, Bun Seng pun mendapat tugas yang sangat pelik dan berbahaya dari para komandannya. Seperti pada suatu hari di tahun 1948, beberapa bulan sebelum militer Belanda melakukan agresi-nya yang kedua.


Seperti dicatat dalam buku Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI di Minangkabau 1945-1950 (Jilid I) karya Tim Penulisan Sejarah Revolusi Sumatera Barat, Bukittinggi menjadi salah satu wilayah yang dititipi “emas hitam” alias candu.  Barang tersebut dipelihara oleh pihak pemerintah Republik Indonesia sebagai modal revolusi melawan Belanda.


Letnan Kolonel Abdul Halim termasuk salah satu gerilyawan Republik yang ditugaskan oleh pemerintah untuk menyalurkan “emas hitam” itu. Dia kemudian meminta kepada Bun Seng agar barang-barang itu bisa ditukar dengan senjata. Bagaimana pun caranya.


Seperti biasa, Bun Seng menerima tugas itu. Bekerjasama dengan sebuah kesatuan TNI dari Kompi Bakapak dan suatu seksi Hizbullah pimpinan Letnan Samik Ibrahim, dia menjual puluhan kilogram candu itu ke pasaran gelap dan sukses menukarkannya dengan senjata-senjata berbagai jenis. Selain senjata, uang hasil penjualan itu pun dibelikan berbagai keperluan logistik para gerilyawan Republik.


Aktifitas berbahaya itu terus dijalani Bun Seng hingga Indonesia mencapai kedaulatannya di mata Belanda pada 27 Desember 1949. Ketika pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) berkobar di Jawa Barat, Letnan Muda Sho Bun Seng sempat ikut dikirimkan oleh kesatuannya untuk ikut menumpas pemberontakan tersebut.


Usai tugas selesai, Bun Seng tidak ikut pulang bersama pasukannya ke Sumatera Barat. Dia memutuskan untuk mengelola sebuah toko kecil di Muara Angke, Jakarta Utara dan membentuk sebuah keluarga. Umur Bun Seng cukup panjang hingga tahun 2000, dia menghembuskan nafas terakhirnya dalam kondisi hidup yang sangat sederhana.


“Malah bisa dikatakan kondisinya sangat memprihatinkan,” ujar Abdul Halim, kawannya saat berjuang di ranah Minang.


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Kala ditugaskan ke Pontianak, Rudy Blatt dapat informasi pembantaian rakyat oleh Jepang. Berinisiatif mencari para penjahat perang Jepang itu.
bg-gray.jpg
Pernah berguru ke Rahmah El Yunusiyah dan H.R. Rasuna Said, Shamsiah Fakeh getol memperjuangkan kemerdekaan negeri dan kaumnya. Kini, buku memoar aktivis Malaysia berdarah Minang itu dilarang pemerintah Malaysia.
bg-gray.jpg
Dalam novel-novel karangannya, Motinggo Boesje menyuguhkan bumbu seksualitas dan erotisme yang digandrungi pembaca. Di akhir masa kepengarangannya, dia menekuni sastra serius.
bg-gray.jpg
Soekaesih menulis brosur tentang pengalaman pahit sebagai tahanan politik di Boven Digoel. Dia berkeliling kota di Belanda untuk membagikan pengalamannya. Menuntut penutupan kamp konsentrasi itu dan pembebasan para tapol.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Pablo Escobar mengisi kebun binatangnya dengan kuda nil. Setelah kematiannya, kuda nil itu berkembang biak tak terkendali hingga menimbulkan masalah.
Pablo Escobar mengisi kebun binatangnya dengan kuda nil. Setelah kematiannya, kuda nil itu berkembang biak tak terkendali hingga menimbulkan masalah.
Tokeitai umumnya terkenal kejam. Namun ada yang baik di kamp perempuan meski sadis di kamp laki-laki seperti Sersan Yamadji.
Tokeitai umumnya terkenal kejam. Namun ada yang baik di kamp perempuan meski sadis di kamp laki-laki seperti Sersan Yamadji.
transparant.png
bottom of page