top of page

Duel Preman Medan Zaman Perang Kemerdekaan

Para jagoan revolusi unjuk kekuatan. Lewat adu jotos satu lawan satu, yang kalah menjadi pengikut yang menang.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 10 Des 2020
  • 2 menit membaca

Rawan. Kata itu menggambarkan keadaan keamanan di kota Medan pada zaman revolusi. Pemerintah Republik Indonesia (RI) kala itu memang belum mantap. Koordinasi antara pusat dengan daerah masih kacau. Sementara kekuasaan tentara Jepang maupun tentara Sekutu tidak dihiraukan orang lagi. Walhasil gerombolan bandit merajalela di sepenjuru kota. Praktik kriminalitas seperti perampokan dan pencopetan seolah tidak terbendung. Dalam situasi penuh ketidakjelasan itu, tersebutlah nama salah satu pentolan preman Medan bernama Amat Boyan.


“Amat Boyan, salah seorang residivis yang amat bengal, ‘king’ daripada para penjahat di kota Medan kala itu,” demikian diungkapkan Biro Sejarah Prima dalam Medan Area Mengisi Proklamasi.


Menurut Tengku Luckman Sinar dalam Kronik Mahkota Kesultanan Serdang, Amat Boyan berbasis di Tembung, sebelah tenggara kota Medan. Amat Boyan seperti dituturkan seniman  Augustin Sibarani dalam Karikatur dan Politik, termasuk kriminal kelas kakap yang melarikan diri dari penjara. Kejagoan dan sisi brutalnya dipergunjingkan banyak orang.


Ulah Amat Boyan yang kerap kali meresahkan mendapat sorotan dari para anggota Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) Medan yang dipimpin oleh Sarwono Sastro Sutardjo. Pada 25 November 1945, Sarwono membentuk badan intelijen dan polisi istimewa bernama Markas Pengawal Pesindo. Mereka yang terlibat dalam badan itu bertujuan menguasai kota Medan dengan jalan menghimpun para bandit lokal. Untuk menundukkan Amat Boyan, ditunjuklah Sibarani, inspektur umum Markas Pengawal Pesindo.


Sibarani adalah mantan petinju. Postur tubuhnya besar, tegap, dan kekar. Dia bertugas mengumpulkan semua pencopet, penggarong, dan para residivis lainnya di kota Medan. Hingga suatu ketika, Sibarani harus menguji nyali Amat Boyan, preman yang paling disegani.


Sewaktu berhadapan dengan Amat Boyan, Sibarani memberikan dua pilihan. Pilihan pertama, Amat Boyan tunduk kepada Markas Pengawal Pesindo. Pilihan kedua, adu kekuatan dalam duel satu lawan satu tanpa senjata kecuali tangan dan kaki telanjang. Sibarani menjanjikan, kalau Amat Boyan menang, dia boleh keluar menghimpun kekuatan sendiri. Amat Boyan memilih menantang Sibarani untuk baku hantam.


Pertarungan antara Amat Boyan dan Sibarani pun terjadi. Duel para abang jago itu berlangsung seru dan lama. Para anggota Markas Pengawal Pesindo menyaksikannya dengan antusias.


“Akhirnya, setelah babak belur, Amat Boyan terpaksa mengaku kalah kepada Sibarani dan bersedia menjalankan perintah-perintah Markas Pengawal Pesindo,” tulis Biro Sejarah Prima.


Pada 1 Desember 1945, Sarwono membentuk unit pasukan yang berada langsung di bawah pimpinannya sendiri. Barisan bersenjata ini dinamakan “Pasukan Cap Kampak". Dalam Pasukan Cap Kampak, Amat Boyan menjadi salah satu penggeraknya. Mereka menjadi kelompok laskar yang turut mewarnai perang revolusi di kota Medan.

 

Bagaimana sepak terjang Amat Boyan selanjutnya? Nantikan di artikel berikutnya. (Bersambung).

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
transparant.png
bottom of page