top of page

Dari Pemberontakan ke Pemberontakan (Bagian II–Habis)

Secuplik kisah veteran Dwikora di perbatasan utara Kalimantan. Tak sadar capung besinya kena tembak.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kolonel Pnb. (Purn.) Abd Aziz Muhammad mengenang pengalamannya di Operasi Dwikora. (Randy Wirayudha/Historia.ID).

12 Sep 2024
6 menit membaca

Diperbarui: 1 Feb

USAI membentangkan sebuah peta, kedua tangan Kolonel Pnb. (Purn.) Abd Aziz Muhammad melipatnya kembali. Lalu sambil merebahkan punggung ke kursi, ia mengenang penugasannya di Sulawesi saat menjemput jenazah Kahar Muzakkar, pemimpin kelompok pemberontakan Komando Gerilyawan Sulawesi Selatan (KGSS) yang berafiliasi dengan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII Sulawesi Selatan).


“Di sanalah (Sulawesi) saya mulai dapat banyak jam terbang operasional. Karena saat itu kan (pemberontakan) Kahar Muzakkar lagi ramai. Jadi saya kebagian (tugas) ke Sulawesi sampai Kahar Muzakkar ditembak,” ujar Aziz kepada Historia.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page