top of page

Bekasi Lautan Api di Mata Dua Saksi

Peristiwa pembumihangusan Bekasi oleh Inggris dari mata seorang veteran dan seorang Tionghoa.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Serdadu Inggris membakar permukiman di Bekasi dengan menyiramkan bensin ke rumah-rumah warga. (Imperial War Museum).

13 Des 2018
4 menit membaca

Diperbarui: 24 Mar

EDI B. SOMAD masih ingat betul situasi di Bekasi 73 lampau kala kota di pinggiran timur Jakarta itu mendadak bagaikan inferno (neraka) pada 13 Desember 1945. “Dibombardir, Bekasi dijadikan lautan api. Tangsi polisi di alun-alun dihantam. Juga area Kayuringin, Pasar Bekasi, Kampung Duaratus, Kampung Tugu. Hampir semua habis jadi debu,” kenang veteran berusia 90 tahun itu saat ditemui Historia di kediamannya di Tambun Selatan, akhir November 2018.


Ratusan permukiman warga ludes dilahap api. Puluhan ribu warga sipil dipaksa mengungsi ke luar kota dalam peristiwa yang dikenal sebagai Bekasi Lautan Api itu.


Segenap elemen bersenjata republik, baik Tentara Keamanan Rakyat (TKR) maupun laskar, memilih tak meladeni amukan Sekutu yang merangsek dari garis demarkasi di Cakung dan maju hingga ke Gedung Tinggi (kini Gedung Juang) Tambun. “Gara-garanya itu, para awak pesawat (Sekutu) dieksekusi,” lanjutnya.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
It was not without reason that Ahmad Subardjo was nicknamed “The Guarantor of Independence” in Indonesia. However, he was absent when Sukarno proclaimed independence.
bg-gray.jpg
Saat memimpin Jakarta, Sudiro dihadapkan pada kondisi berantakan. Putar otak demi pembangunan kota, termasuk cari dana di luar lungsuran dari pusat. Sering pula gagasannya ditolak pemerintah pusat.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo was born in Karawang to a family of Acehnese and Javanese nobility. The beloved son of a civil service police officer, he moved to Batavia to continue his education at a Dutch school.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
For Indonesia reconciliation is a necessity, yet it will not be easy to achieve.
For Indonesia reconciliation is a necessity, yet it will not be easy to achieve.
Inilah Piala Dunia, hajatan sepakbola sejagat yang selalu ditunggu. Di luar lapangan hijau ada drama-drama yang tak kalah menarik.
Inilah Piala Dunia, hajatan sepakbola sejagat yang selalu ditunggu. Di luar lapangan hijau ada drama-drama yang tak kalah menarik.
Warna batik pun menyala dengan sentuhan Tionghoa.
Warna batik pun menyala dengan sentuhan Tionghoa.
Kasus 1965 disidangkan melalui Pengadilan Rakyat Internasional. Akankah mencuri perhatian internasional?
Kasus 1965 disidangkan melalui Pengadilan Rakyat Internasional. Akankah mencuri perhatian internasional?
Buku ini hadir dengan membawa perspektif baru dalam memandang konflik Israel versus Palestina, yang selama ini nyaris terabaikan: sepakbola.
Buku ini hadir dengan membawa perspektif baru dalam memandang konflik Israel versus Palestina, yang selama ini nyaris terabaikan: sepakbola.
Beberapa negara Eropa Timur ingin menyamakan tragedi Holocaust dengan kejahatan komunis Soviet.
Beberapa negara Eropa Timur ingin menyamakan tragedi Holocaust dengan kejahatan komunis Soviet.
transparant.png
bottom of page