top of page

Badai Tentara Merah Menyapu Pasukan Baja Jerman

Petaka pasukan baja Jerman di gerbang kota Moskow. Dihempas cuaca beku dan gelombang jutaan Tentara Merah.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Memanfaatkan puluhan divisi segar dari Siberia, Tentara Merah menyapu bersih ancaman Jerman di gerbang kota Moskow. (Twitter @EmbassyofRussia).

5 Des 2020
6 menit membaca

Diperbarui: 25 Jun

SEMALAMAN Heinz Otto Fausten berjuang mati-matian melawan cuaca minus 30 derajat Celcius yang membekukan tubuh di tengah Operasi Barbarossa (invasi Jerman Nazi atas Uni Soviet). Bersama beberapa rekannya di batalyon intai panzergrenadier Divisi Lapis Baja ke-7, Fausten berdiam di sebuah kantung pertahanan di tepi barat stasiun dan Kanal Moskow-Volga. Titik itu merupakan posisi terdekat pasukan Jerman dari gerbang barat kota Moskow yang berjarak 30 kilometer dari Kremlin, pusat pemerintahan komunis Uni Soviet.


Fausten berharap pagi 5 Desember 1941 membawakan sedikit kehangatan dari sinar mentari. Namun apa lacur, mata prajurit panzergrenadier (infantri mekanis) Jerman itu justru melihat gelombang manusia dari pihak musuh.


“Kanal Moskow-Volga terhampar di hadapan kami dan di seberang tepiannya, terdapat gelombang pasukan Rusia yang tiba-tiba datang. Banyaknya jumlah mereka membuat kami tak bisa berkata-kata. Barisan mereka bergerak tanpa ujung, serdadu yang naik ski dengan mantel putih mereka. Ada juga barisan tank dan unit-unit artileri serta kendaraan tempur lain yang tak terhingga jumlahnya. Dari mana datangnya mereka?” kenang Fausten dikutip David Stahel dalam The Battle for Moscow.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page