top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Sri Lanka Tempat Pembuangan VOC

VOC menjadikan Sri Lanka tempat pembuangan orang-orang yang dianggap berbahaya dari Nusantara.

11 Jul 2022

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Lukisan armada VOC di Colombo, Ceylon (kini Sri Lanka), karya Johannes Kip. (themaritimegallery.co.uk/Wikimedia Commons).

Setelah melihat Singapura dan Malaysia, banyak orang Indonesia yang percaya negara-negara jajahan Inggris lebih baik nasibnya ketimbang jajahan Belanda. Jajahan Inggris lain, India, saat ini terhitung maju industrinya. Namun, kabar buruk datang dari Sri Lanka, jajahan Inggris yang dulu disebut Ceylon. Negara itu bangkrut.


Meski dikenal sebagai jajahan Inggris, namun Sri Lanka pernah dikuasai VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Daerah itu dijadikan tempat pembuangan orang-orang yang dianggap berbahaya oleh VOC dari Jawa, Sulawesi, dan Maluku.



VOC membuang salah seorang raja Mataram ke Sri Lanka sekitar tahun 1708. “Amangkurat III ditawan dan dibuang ke Sri Lanka, tempat dia wafat pada tahun 1734,” tulis M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200–2008.


Bangsawan Jawa lain yang dibuang ke Sri Lanka adalah Pangeran Ario Mangkunegoro. Pembuangan itu membuat hati anaknya, Raden Mas Said menjadi keras. Dia melawan Belanda dan keraton Mataram Pakubuwono sampai akhirnya diakui sebagai penguasa di sekitar Surakarta sebagai Mangkunegaran I.



Selain dari Jawa Tengah, VOC juga membuang bangsawan dari Banten ke Sri Lanka. Sultan Banten Zainal Arifin dan istrinya Syarifah Fatimah dekat dengan VOC. Mereka berdua berusaha menstabilkan kekuasaan mereka.


“Sultan bahkan mendukung pembuangan pangeran-pangeran dari keluarganya sendiri yang membandel ke Sri Lanka,” tulis Adolf Heuken dalam Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta.


Syekh Yusuf al-Makassari dibuang ke Sri Lanka karena membantu Raja Banten Sultan Ageng Tirtayasa melawan VOC. 
Syekh Yusuf al-Makassari dibuang ke Sri Lanka karena membantu Raja Banten Sultan Ageng Tirtayasa melawan VOC. 


Dari Sulawesi, VOC membuang Karaeng Sangunglo, anak Raja Gowa Sultan Fakhruddin, yang kemudian juga diasingkan ke sana. Pada masa itu, sudah ada komunitas Melayu di Sri Lanka.


Suryadi dalam “Sepucuk Surat dari Seorang Bangsawan Gowa”, jurnal Wacana Vol. 10 No. 2, Oktober 2008, menyebut bahwa Karaeng Sangunglo, anggota Resimen Melayu yang berada di bawah VOC, membelot kepada Kerajaan Kandy dan berperang melawan VOC pada 1761–1762.



Sementara itu, sekitar tahun 1803, dua anak Sultan Fakhruddin, Kapten Nuruddin dan Kapten Saifuddin bergabung dengan Resimen Melayu di bawah Inggris. Mereka saudara lain ibu dari Karaeng Sangunglo.


Armada Kerajaan Kandy berhasil menghalau armada Inggris. Kedua kapten itu sempat ditahan raja Kandy dan diminta menjadi perwira militer Karaeng Sangunglo, tapi mereka menolak.

Tak hanya keluarga Sultan Fakhruddin, puluhan tahun sebelumnya ulama terkenal dari Gowa, Syekh Yusuf al-Makassari juga dibuang ke Sri Lanka pada 1684 karena membantu Raja Banten Sultan Ageng Tirtayasa melawan VOC. Syekh Yusuf kemudian dipindahkan ke Cape Town, Afrika Selatan.



Dari daerah Maluku, terdapat pula seorang bangsawan yang dibuang ke Sri Lanka. Menurut Ricklefs, sebelum terpaksa dijadikan penguasa oleh VOC di Tidore, Sultan Hairul Alam Kamaluddin Kicili Asgar pernah dibuang ke Sri Lanka. Setelah Sultan Nuku berkuasa dan melawan VOC, bangsawan itu dipulangkan ke Tidore dan dijadikan sultan boneka VOC.


Setelah Sri Lanka pindah tangan pada 1794, Sri Lanka tidak lagi menjadi tempat pembuangan bagi VOC atau Belanda. Setelah tahun 1800, VOC tidak ada lagi. Musuh pemerintah kolonial Belanda biasanya hanya dibuang ke pulau yang berbeda. Misalnya, Imam Bonjol dan Pangeran Diponegoro dibuang ke Sulawesi Utara, Cut Nyak Dhien dibuang ke Sumedang, dan paling jauh ke Papua.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Dari Brussel ke Jalan Astrid di Kebun Raya Bogor. Raja dan Ratu Belgia dari berbagai masa punya cerita di Indonesia.
Riwayat Konglomerat Dasaad

Riwayat Konglomerat Dasaad

Jaringan bisnis Dasaad membentang di dalam dan luar negeri. Ia tercatat sebagai pengusaha Indonesia pertama yang membuka kantor cabang di Amerika Serikat.
Brigitte Bardot yang Kontroversial

Brigitte Bardot yang Kontroversial

Brigitte Bardot tak sekadar ikon perfilman yang dijuluki “Marylin Monroe-nya Prancis”. Ia juga “lokomotif sejarah perempuan”.
bottom of page