Spesies Baru Manusia Ditemukan

Spesies baru manusia ditemukan di Luzon Filipina. Temuan baru ini memperbarui pengetahuan tentang evolusi manusia.

12 April 2019
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Spesies Baru Manusia Ditemukan
Fosil bagian phalanx proksimal, tulang yang membentuk pangkal jari kaki Homo Luzonensis. (Dok. Callao Cave Archaeology Project).

Di bawah lantai berbatu Gua Callao di Pulau Luzon, Filipina, para peneliti menemukan sejumlah fosil yang diyakini sebagai spesies manusia purba yang sebelumnya tidak diketahui. Temuan baru ini pun disebut akan memperbarui lagi teori evolusi manusia yang selama ini dipahami.

Dijuluki Homo luzonensis, spesies yang baru diidentifikasi ini mendiami Luzon lebih dari 50.000 tahun yang lalu, selama zaman Pleistosen Akhir. Artinya, mereka berbagai bumi dengan hominin lainnya, termasuk Homo neanderthalensis (Neanderthal) dan Homo sapiens atau manusia modern.

Homo luzonensis, hidup di wilayah yang sama dan pada saat yang sama dengan spesies "Hobbit", Homo floresiensis. Fosil tengkorak “Hobbit” sebelumnya ditemukan pada 2004 di Flores. Menariknya, Homo luzonensis diduga juga bertubuh kerdil, bahkan lebih pendek dibanding Homo floresiensis. Diperkirakan tingginya di bawah tiga kaki, yaitu sekira 92 cm. Ini diketahui lewat gigi mungilnya yang ditemukan. Meski sama-sama mungil, dari bentuk gigi dan kakinya, dan juga sifat-sifat lainnya, Homo luzonensis merupakan spesies yang berbeda.

Sampai sekira 15 tahun yang lalu, spesies manusia seakan kesepian. Itu bila dibandingkan dengan gorila yang punya dua spesies, simpanse punya dua spesies, dan orang utan punya tiga spesies. Sementara manusia hanya satu jenis.

Namun tak selalu begitu. Ada suatu masa ketika Homo sapiens dan Homo Neanderthal hidup berbagi daratan Eropa selama lima milenium lebih. Hasil studi yang dipublikasikan jurnal Nature itu menyimpulkan adanya kemungkinan kalau kantong-kantong kultur Neanderthal bertahan hingga antara 41.030 dan 39.260 tahun lalu.

Kemudian, Homo floresiensis menjadi kerabat sezaman manusia yang ketiga. Setelahnya, pada 2010, para ahli genetika menyatakan satu tulang jari ditemukan di sebuah gua di Pegunungan Altai, Siberia barat. Ia membawa genom berbeda yang mengisyaratkan bahwa itu milik kelompok keempat, Denisovans. Lalu studi terbaru kali ini, penemuan baru yang menggambarkan spesies hominin yang sama sekali baru.

Seperti dilansir dari History (10/4), para ilmuwan telah lama mengetahui kalau generasi hominin purba menyebut pulau Luzon sebagai rumah di Asia Tenggara. Pada 2007, para arkeolog di Luzon menemukan tulang kaki tunggal (metatarsal) di Gua Callao, dari 67.000 tahun yang lalu. Analisis menunjukkan fosil itu milik anggota genus Homo. Namun tak diketahui spesies mana.

Dalam penggalian berikutnya pada 2011 dan 2015, tim peneliti internasional menemukan 12 tulang dan gigi hominin lainnya. Penelitian yang dipimpin Florent Détroit, dari Musée de l'Homme di Museum Sejarah Alam di Paris, dan Armand Mijares, dari Universitas Filipina di Kota Quezon menemukannya di lapisan batu yang sama di mana sebelumnya ditemukan tulang kaki tunggal. Hasil analisis yang diterbitkan di jurnal Nature menguak sisa-sisa jasad itu terdiri dari tiga individu yang berbeda, termasuk satu remaja.

Yang terkini, penelitian berhasil menggali beberapa fosil tulang kaki dan tangan, tulang paha dan gigi. Fosil-fosil itu memiliki beberapa ciri morfologis spesies hominin yang lebih primitif, seperti Australopithecus dan Homo erectus, dan yang lebih maju, termasuk Homo sapiens dan Homo floresiensis.

“Apa yang membuat mereka sebagai spesies baru sebenarnya adalah kombinasi dari semua fitur yang diambil bersama," kata Détroit, seperti dikutip History. “Jika Anda mengambil setiap fitur satu per satu, Anda tentu akan menemukannya dalam satu atau beberapa spesies hominin. Tetapi jika Anda mengambil secara keseluruhan, tidak ada spesies lain dari genus Homo yang serupa, sehingga menunjukkan bahwa mereka adalah spesies baru.”

Sementara, secara khusus, gigi yang ditemukan di Gua Callao berbeda dari yang dimiliki spesies hominin lainnya. Gigi premolar, gigi yang terletak di antara gigi taring depan dan gigi geraham, memiliki dua hingga tiga akar. Padahal Homo sapiens biasanya punya gigi premolar dengan satu atau paling banyak dua akar. Adapun gigi premolar itu, serta enamel gigi dan dentin, jaringan tulang keras yang membentuk tubuh gigi, lebih mirip dengan Australopithecus dan spesies purba dari genus Homo, seperti Homo habilis dan Homo erectus.

Di sisi lain, gigi molar (geraham)-nya sangat kecil. Ini mirip seperti milik manusia modern. "Individu dengan karakteristik gabungan semacam ini tidak dapat diklasifikasikan dalam spesies yang dikenal saat ini," kata Détroit.

Gigi molar dan premolar milik Homo luzonensis
(Dok. Callao Cave Archaeology Project).

Tulang kaki yang diidentifikasi sebagai Homo luzonensis juga menonjol. Ini karena kombinasi fitur primitif dan yang sudah berkembang. Tandanya, ia mungkin memiliki cara berjalan yang khas. Sementara bagian phalanx proksimal, tulang yang membentuk pangkal jari kaki, bentuknya melengkung. Itu dengan pelekatan otot pada tulang yang sudah sangat berkembang.

"Karakteristik ini tidak ada dalam Homo sapiens," kata Détroit.

Bahkan, tulang kaki yang ditemukan di Gua Callao lebih mirip dengan Australopithecus. Sementara Australopithecus diketahui hanya hidup di Afrika sekira 2-3 juta tahun yang lalu.

Hal itu menunjukkan, Homo luzonensis mungkin seperti Australopithecus, memiliki kemampuan untuk dengan mudah memanjat pohon. Ia juga sudah berjalan tegak dengan dua kaki meski tak jelas apakah mereka melakukannya.

Homo Luzonensis dan Evolusi Manusia

Meski spesies Homo lain diketahui telah menghuni pulau-pulau Asia Tenggara, para peneliti berpikir Homo luzonensis adalah satu-satunya hominin yang ada di Luzon pada saat itu. Homo sapiens paling awal yang dikenal di Filipina adalah fosil yang ditemukan di Gua Tabon di Pulau Palawan. Yang paling tua berusia 30.000 hingga 40.000 tahun lalu.

Sebaliknya, para arkeolog baru-baru ini menggali alat-alat batu dan tulang-tulang dari badak yang disembelih di lembah dekat Gua Callao. Ini menunjukkan bahwa Homo luzonensis atau leluhurnya berada di Luzon sekira 700.000 tahun yang lalu.

Luzon adalah pulau besar. Pulau ini tidak pernah dapat diakses oleh seluruh benua melalui jembatan darat. Akibatnya, banyak flora dan fauna yang endemik di pulau itu dengan keragaman genetik yang relatif rendah.

Fenomena itu, menurut para peneliti, dapat meningkat menjadi spesies yang berbeda secara signifikan dari spesies terkait di benua itu. Ini yang menjelaskan mengapa Homo luzonensis mungkin terlihat sangat berbeda dari kerabat hominin daratannya.

Setidaknya selusin spesies dalam genus Homo telah diidentifikasi sejauh ini. Homo sapiens adalah satu-satunya yang selamat.

Adapun jumlah pasti spesies manusia purba masih menjadi topik perdebatan yang berkembang selama bertahun-tahun.

Pada 2012, para ilmuwan mengumumkan fosil yang ditemukan di Tiongkok adalah milik manusia purba yang sebelumnya tidak diketahui. Mereka menyebutnya Red Deer Cave people. Penemuan itu kontroversial. Para ilmuwan pun berspekulasi, fosil dapat mewakili spesies baru tak dikenal atau mungkin mewakili populasi sangat awal dan primitif dari manusia modern, yang telah bermigrasi ke kawasan itu lebih dari 100.000 tahun lalu.

Seperti penemuan baru lainnya, terkuaknya keberadaan Homo luzonensis telah memperluas pemahaman ilmuwan tentang evolusi manusia. Homo luzonensis dan pembauran dalam ciri fisiknya menunjukkan evolusi Homo.

Détroit mengatakan, lima belas tahun yang lalu, evolusi manusia di Asia sangatlah sederhana. Dikatakan kalau Homo erectus keluar dari Afrika, menetap di Asia Timur dan Tenggara dan tidak ada yang terjadi sampai kedatangan Homo sapiens sekira 40-50.000 tahun yang lalu.

"Temuan ini adalah bukti baru yang signifikan untuk meningkatkan pengetahuan kita tentang evolusi manusia, terutama di Asia, di mana evolusi manusia jelas jauh lebih kompleks dan jauh lebih menarik daripada apa yang kita pikirkan sebelumnya,” ujar dia.

Prasejarah
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
0 Suka
BOOKMARK