Persembahan Terakhir bagi Rajasa

Candi megah pendharmaan bagi pendiri Dinasti Rajasa tak ketahuan rimbanya.

1507916142000
  • BAGIKAN
Persembahan Terakhir bagi Rajasa
Diorama pembunuhan Mpu Gandring oleh Ken Angrok di Museum Mpu Purwa, Malang. Foto: Risa Herdahita Putri/Historia.

PENATAANNYA indah tiada tara. Pintu gerbangnya diapit tembok tinggi teratur. Di dalamnya terbentang halaman dengan bangunan tertata rapi. Aneka ragam bunga tanjung nagasari seperti bayangan. Di tengah-tengah candi menjulang tinggi bagai Gunung Mahameru dan di dalamnya terdapat arca Siwa.

Di selatan candi, ada bangunan terbengkalai. Tembok dan pintu gerbangnya yang mencirikan biara Budha, di mana di dalamnya terdapat tempat suci, masih berdiri. Tangga dan teras sebelah timur masih utuh namun yang sebelah barat rusak. Sanggar dan tempat pemujaan yang terbuat dari batu merah masih utuh. Di sebelah utara, tangga dan rumah sudahlah rata. Di luar, gapura pabaktan luhur. Namun, tanahnya telah longsor. Halamannya yang luas tertutup rumput. Jalannya penuh lumut.

“Laksana perempuan sakit merana lukisannya lesu-pucat,” begitulah Mpu Prapanca mengungkapkan kesedihannya melihat kondisi candi pendharmaan Sri Rangga Rajasa di Kagenengan dalam karyanya yang monumental, Nagarakrtagama, ketika mengiringi perjalanan Raja Hayam Wuruk pada Agustus-September 1359.

Sri Rangga Rajasa Amurwabumi adalah gelar yang disandang Ken Angrok ketika menjadi raja Tumapel (kemudian terkenal dengan nama Singhasari). Ken Angrok juga dikenal sebagai pendiri Dinasti Rajasa, yang menurunkan raja-raja Singhasari dan Majapahit.

Kini, berselang 700 tahun setelah Nagarakrtagama ditulis, candi pendharmaan itu seolah lenyap tak berbekas. Bahkan keberadaannya masih diperdebatkan banyak ahli.

“Persoalan di mana Kagenengan berada masih merupakan tanda tanya,” kata Dwi Cahyono, arkeolog yang juga dosen sejarah di Universitas Negeri Malang, kepada Historia.

Dengan petunjuk Nagarakrtagama, Dwi Cahyono meyakini kalau Candi Kagengan seharusnya berada di selatan Singhasari, di Malang bagian selatan.

Tak Bersisa

Di Dusun Genengan, Desa Parangargo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, terdapat sebuah situs dinamai warga setempat sebagai Sokan-Tegal Genengan.

Di sana terdapat areal lahan kosong selebar lapangan futsal yang dikelilingi tebu yang lebih tinggi dari orang dewasa. Tak ada jejak atau peninggalan apapun.

“Ya di situ itu tempatnya,” kata Devan Firmansyah, salah satu penggerak Komunitas Jelajah Jejak Malang (JJM), menunjuk areal pintu masuk Candi Kagenengan. “Ini adalah bagian profannya.” Profan adalah bagian yang tak dianggap utama dalam kompleks candi.

Devan dan Rudi Arianto atau biasa dipanggil Bhre, juga tergabung dalam Komunitas JJM, kemudian menunjukkan bagian lain dari situs itu. Mereka melintasi lahan kosong, menembus rumpun tebu, ladang berumput tebal, dan usai melewati dua sisi pematang, lahan yang ditumbuhi sengon muncul di depan mata.

“Selamat datang di Kagenengan, pendharmaan Ken Angrok,” ujar Devan mendramatisir. Dia bilang di situlah areal situs utama.

Tak tampak bangunan kuno. Yang terlihat hanya jejeran pohon sengon. Sedikit menuruni lahan, ada dua aliran sungai mengapit: Sungai Pancir dan Wadung. Warga setempat percaya, di tempat itulah Ken Angrok menghembuskan nafas terakhir.

Soleh (80), seorang warga Dusun Genengan, bercerita, ketika muda dia pernah nyantrik pada juru kunci Sokan-Tegal. “Setelah ditusuk, Ken Angrok tidak seketika meninggal. Dia sempat dibawa ke Gedangan untuk mencari sumber air Munung,” kata Soleh. Karena tak ketemu, oleh Dahyang Lohgawe, dia dibawa ke Sokan-Tegal. Namun, ketika akan diberi minum dari Sumber Banyu Panguripan, Angrok keburu tak bernyawa.

Keberadaan Sumber Banyu Panguripan masih dipercaya warga. Banyak yang mencarinya. “Katanya gaib, nggak semua orang bisa ketemu (Sumber Banyu Panguripan),” ujar Hari Purnomo, kepala desa Parangargo.

Hari juga bercerita, di lahan yang ditanami sengon dulu lebih tinggi dibandingkan tanah sekitarnya sebelum diratakan untuk dijadikan lahan garapan. Di tengah ratusan pohon sengon terdapat gundukan tanah persis makam, kendati tak ada jenazah siapapun di sana. Dua bentukan batu andesit dipasang bak nisan.

“Ya nantinya ini menimbulkan pertanyaan, siapa yang dimakamkan di sini karena bentuknya begitu,” ucap Hari, yang secara pribadi tak setuju adanya makam semu di situ.

Sebenarnya, di lahan sengon itu dulu ditemukan banyak struktur bata kuno. Namun, artefak itu sudah dihancurkan. Sebagian besar dilongsorkan ke sungai yang mengapit situs. Selain umpak, hanya tinggal satu lumpang batu lagi untuk memantapkan kekunoan situs Sokan-Tegal. Setelah ditemukan di Sungai Wadung, lumpang itu kini dimasukkan dalam pondok bambu dan diberi dupa orang warga.

Situs Sokan-Tegal pernah dituding sebagai sarang kemusyrikan. Untuk menyelamatkan artefak-artefak dari aksi pengrusakan, sebagian dibawa ke Punden Lor, Desa Parangargo. Punden itu disebut warga sekitar sebagai petilasan Prabu Anglingdarma atau Punden Mbah Angleng, tokoh legenda dalam tradisi Jawa. Cerita yang beredar, petilasan itu merupakan bekas keraton Raja Anglingdarma. Letaknya tak jauh dari Sokan-Tegal, tak sampai 15 menit dicapai dengan motor. Ia berada di Dusun Genengan dan masih satu desa dengan Sokan-Tegal.

Menurut Suwardono, jarak waktu ratusan tahun membuat ingatan penduduk akan keberadaan pendharmaan Ken Angrok kabur. “Runtuhan candi pendharmaan ini kemudian dianggap sebagai runtuhan keraton,” katanya.

Petilasan itu berada di tengah pemakaman umum, diberi cungkup dan pagar keliling. Pintu masuknya berupa gerbang dengan patung kucing putih di kiri-kanannya. Beberapa bata kuno, baik polos maupun berukir, disusun sebagai penghias taman. Arca Dewa Siwa dan Siwa Trisirah, yang dicat warna keemasan oleh warga, berdiri di kiri-kanan pintu masuk cungkup. Arca lainnya mirip Nandi, namun kepalanya sudah hilang, diberi kepala baru dari semen, yang justru membuatnya menyerupai celeng.

“Candi megah itu tinggal kayak begini,” ucap Devan. Wajahnya kecewa.

Pencarian di Malang Selatan

Selain di Wagir, ada beberapa tempat yang juga memiliki kemiripan nama dengan Kagenengan. Terdapat sebuah Desa Genengan di Kecamatan Pakisaji. Lokasinya berdekatan dengan Dusun Genengan di Wagir; tak sampai 5 km. Dwi Cahyono menduga, Genengan di Wagir dan Pakisaji dulunya satu desa.

Di Pakisaji ditemukan beberapa jejak kuno: yoni tanpa lingga di salah satu punden desa. Pada punden lainnya di desa yang sama, terdapat arca Durga. “Tapi kalau lihat ukuran yoni dan Durga, terbayang candinya tidak begitu besar. Sejauh ini tidak didapati temuan signifikan,” ujar Dwi.

Satu lagi yang bernama serupa, yakni Dusun Genengan, berada di Desa Girimoyo, Kecamatan Karangploso, sekitar 28 km dari Wagir. Di sini terdapat sejumlah peninggalan kuno: beberapa lumpang batu, batu gong, dan batu bermotif teratai. Di dusun tetangganya, Girimoyo, ditemukan arca Nandi yang oleh warga disebut Watu Banteng, lingga, yoni, dan beberapa umpak batu.

Tempat ini bisa diabaikan. Sebab, jarak tempuh dari Singasari ke Karangploso hanya 18 km. Mpu Prapanca memberitakan, Hayam Wuruk butuh waktu setengah hari perjalanan untuk menempuh jarak dari Singhasari ke Kagenengan.

Kemungkinan lainnya, kata Dwi, candi misterius itu ada di puncak Gunung Katu. Dwi berteori, di masa lalu Gunung Katu masuk dalam wilayah Kagenengan. Baik Dusun Genengan di Wagir maupun Desa Genengan di Pakisaji berada di sekitar lereng Gunung Katu.

“Dulunya mungkin wilayah Kagenengan mencakup wilayah-wilayah di sekitar Gunung Katu dan Gunung Katunya, jadi lebih luas lagi. Setelah sekian lama akhirnya berkembang dan muncul banyak desa,” ujarnya.

Dia menyoroti temuan-temuan di puncak Gunung Katu. Apa yang oleh warga disebut “kaca benggala” menurutnya adalah pedestal arca. Ukurannya yang hampir sebesar meja cukup besar untuk dijadikan pijakan arca yang juga besar. Sementara ujungnya yang melengkung merupakan cerat untuk kepentingan upacara.

“Ini pedestal, tapi salah memposisikan, dijadikan berdiri. Kalau pedestal segitu, arcanya besar, candinya juga pasti besar,” ujar Dwi.

Belum lagi soal pentingnya Gunung Katu bagi kosmologi di masa lalu. Gunung Katu, selain sebagai anak Gunung Kawi yang suci, juga disabuki aliran Sungai Metro di utara dan timurnya. Dalam pengertian kebudayaan masa itu, Sungai Metro dinilai sebagai sungai suci.

Menurut Dwi, kalaupun kini tak ditemukan runtuhan bangunan kuno, bisa jadi karena terguling ke arah lereng dan tekubur akibat gempa. Pasalnya, dia pernah menemukan gerabah berukir dan fragmen bata kuno di sana.

Belum Final

Di balik argumennya, Dwi menambahkan, penentuan lokasi candi pendharmaan Ken Angrok belumlah final. Katanya, jika ada sisa nama Genengan di sekitar Gunung Katu pun tak perlu tergesa menyebutnya sebagai sisa Kagenengan. Bisa jadi areal yang sekarang bernama Genengan hanyalah bagian dari Kagenengan kuno yang berhasil bertahan. Padahal kemungkinan areal kunonya lebih luas dari itu.

Pun tak menutup kemungkinan kalau jejak kekunoan yang ditemukan sejauh ini hanya menunjuk sisa candi desa. Padahal, Candi Kagenengan jelas merupakan candi negara.

Apalagi jika menilik kembali keterangan dalam Negarakrtagama. Ken Angrok, selain sebagai Siwa di Kagenengan, juga didharmakan sebagai Buddha di Usana. Sementara, Prapanca menulis di Kompleks Candi Kagenengan yang terbengkalai itu tak cuma ada candi bernuansa Hindu Siwa tapi juga Buddha. “Bangunan Buddhisnya mana, ini juga belum tahu,” kata Dwi Cahyono.

Meski begitu, baginya wilayah selatan Malang tetap cukup kuat untuk menjadi lokasi pencarian Candi Kagenengan. Ditambah lagi, pendiri Dinasti Rajasa itu memiliki kedekatan memori dengan wilayah selatan Malang. Di wilayah itulah ia berpetualang sebelum Singhasari menjadi pusat pemerintahan.

“Makanya menurut saya belum final. Jangan terlalu tergesa (menyimpulkan),” ujar Dwi.

Dia melihat sejauh ini banyak informasi yang terlambat sampai, baik kepada peneliti maupun pencinta sejarah. Banyak tinggalan yang tak lagi di lokasi semula. Pun banyak yang rusak dan hilang dicuri. Meski begitu, dalam tiga tahun terakhir makin banyak tinggalan arkeologis yang terungkap. Peran media sosial cukup besar.

“Orang mulai sadar. Ada kelompok-kelompok yang punya hobi blusukan akhirnya (tinggalan arkeologis) bermunculan,” katanya.

Maka dia berharap ada penelitian yang khusus membedah Candi Kagenengan. Dia meyesalkan di lokasi-lokasi yang begitu potensial itu hingga kini belum pernah dilakukan penggalian.

"Kagenengan ini istimewa. Dalam Negarakrtagama saja disebutkan panjang-lebar. Ini wajar karena titik pangkal munculnya Kerajaan Singhasari dan Majapahit," ujar Dwi.

Terlepas dari itu, keberadaan Ken Angrok tak perlu diragukan lagi. Hanya persoalan lokasi ini memang tidak mudah.

Riwayat Penelitian Kagenengan

BERDASARKAN tradisi dalam sejarah Singasari dan Majapahit, raja yang mangkat biasaya didarmakan dalam bentuk arca dewa. Ia juga dibuatkan candi pemujaan. Namun, tak seperti raja lainnya, letak pendharmaan Ken Angrok sebagai pendiri Dinasti Rajasa masih menyisakan misteri.

Nagarakrtagama bukan satu-satunya yang memberikan keterangan soal Candi Kagenengan. Pendharmaan Ken Angrok juga disebut dalam naskah Pararaton. Keterangan tiga lempeng Prasasti Mula-Malurung, yang ditemukan di Kediri pada 1998, menguatkannya. Prasasti berangka tahun 1254 M itu menyebut Nararya Smining Rat sebagai pencetus prasasti. Kakeknya pendiri Kerajaan Tumapel yang meninggal di Dampar Kencana (singgasana) dan didharmakan di Kagenengan.

Banyak peneliti coba menerka letak Kagenengan. Sekira 1915, P.V. van Stein Callenfels, arkeolog Belanda yang dijuluki Bapak Prasejarah Indonesia, pernah mengunjungi reruntuhan kepurbakalaan di Genengan-Wagir. Meski begitu, tak banyak yang dicatatnya.

Selanjutnya pada 1930, W. F Stutterheim, arkeolog Belanda, berkunjung ke Genengan-Wagir. Dia menyebut sudah banyak runtuhan yang hilang. Dia menemukan arca Nandi tapi tak lagi di Genengan melainkan di lereng sebelah utara Gunung Katu.

Pada 1997, Sukamto, sejarawan Malang, mengidentifikasikan Candi Kagenengan adalah Candi Kalicilik di Dusun Candirejo, Desa Candirejo, Kecamatan Pongok, Blitar. Pendapatnya sama dengan arkeolog Universitas Indonesia Agus Aris Munandar. Dia mendasarkan argumen pada kesamaan bentuk candi itu dengan Candi Sawentar dan Kidal, yang dibuat pada masa Singhasari. Apalagi, oleh Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles, Candi Kalicilik itu disebut sebagai Candi Genengan.

Dengan meujuk pada Nagarakrtagama, Dwi Cahyono meyakini kalau Candi Kagengan seharusnya dicari di selatan Singhasari. Kagenengan, menurutnya, ada di Malang bagian selatan.

KenAngrok, KenArok
  • BAGIKAN
0 Suka
BOOKMARK