top of page

Perempuan-Perempuan Bersenjata

Pada masa lalu perempuan-perempuan bersenjata lengkap bertugas mengawal raja dan istana.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Srikandi dalam wujud wayang Jawa. (kluban.net).

20 Apr 2019
2 menit membaca

Dewi Drupadi, istri Prabu Yudistira versi wayang Jawa, bersumpah tidak akan mengonde rambutnya sebelum bermandikan darah Raden Dursosono, seorang Kurawa yang pernah menghinanya. Dewi Woro Srikandi, istri Arjuna, dengan panahnya mencabut nyawa Resi Bisma, guru para Kurawa. Dalam Perang Bharatayuddha, dia tampil sebagai panglima terkemuka Pandawa.


Pada masa lalu, perempuan punya ruang yang besar dalam dunia militer. Ann Kumar, sejarawan Australian National University, menyebut sumber paling penting tentang korps perempuan dari keraton Jawa adalah buku harian yang ditulis seorang anggota prajurit éstri Mangkunegaran. Buku itu ditulis pada dasawarsa terakhir pemerintahan Mangkunegara I yang bertakhta tahun 1757-1795.


“Mempertahankan korps prajurit seperti ini bukanlah inovasi atau idiosinkrasi Mangkunegara I sendiri. Dia hanya meneruskan adat yang sudah lama dianut,” tulis Ann Kumar dalam Prajurit Perempuan Jawa.


Orang-orang Belanda yang berkunjung ke istana raja-raja Jawa, pada masa jaya Sultan Agung, menyebut dikawal oleh ajudan perempuan. Sultan Yogyakarta kedua juga memiliki korps prajurit éstri.


Rijklof van Goens, duta besar luar biasa Belanda diutus lima kali ke Keraton Mataram pada pertengahan abad ke-17. Dia menyebut sekira 150 perempuan muda tergabung dalam korps prajurit éstri. Tiga puluh di antaranya mengawal raja saat muncul di depan orang banyak. Sepuluh dari mereka mengusung perkakas raja, seperti bejana air minum, perkakas sirih, pipa tembakau, keset, payung, kotak minyak wangi, dan pakaian-pakaian yang akan diberikan kepada tamu yang disukainya. Sementara 20 orang lain, lengkap dengan senjata tombak dan tulup, mengawalnya dari semua sisi.


Van Goens juga mencatat para prajurit itu tidak hanya dilatih menggunakan senjata. Mereka juga menari, menyanyi, dan memainkan alat musik.


Sejarawan asal Inggris, Peter Carey, menulis seorang penyewa tanah kesultanan dari Prancis, Joseph Donatiёn Boutet menyaksikan Korps Srikandi di Surakarta, saat berkunjung pada masa Pakubuwono V (1820-1823). Sebanyak 40-an perempuan duduk berbaris di bawah takhta sunan. Mereka dibekali persenjataan lengkap, berikat pinggang dengan sebilah keris. Masing-masing memegang sebilah pedang atau sepucuk bedil.


“Harus diakui mereka pasukan kawal yang mengagumkan,” catat Peter Carey dalam Perempuan Perempuan Perkasa.


Kebiasaan merekrut perempuan dalam satuan militer juga dijumpai di luar Jawa. Laksamana Prancis, Augustin de Beaulieu yang datang ke Aceh pada 1620-1621, melaporkan bahwa Sultan Aceh konon memiliki 3.000 prajurit perempuan yang bertugas mengawal istana. Mereka tidak diperbolehkan keluar dari kompleks istana dan laki-laki tidak diperbolehkan menemui mereka.


“Tak seorang pun boleh masuk ke tempat itu kecuali para kasim yang kabarnya berjumlah 500 orang,” catat Beaulieu.


Mereka punya pasar sendiri sebagaimana pasar biasa di kota, di mana mereka memperdagangkan hasil kerja mereka sendiri. Mereka juga memiliki pengadilan sendiri dan beberapa kelompok dengan kapten masing-masing. Bahkan mereka punya jabatan perwira jaga sendiri. Ini seperti di luar istana.


Peter Mundy, seorang Inggris, saat mengunjungi Aceh pada 1637, juga sempat melihat pengawal perempuan berjalan membawa busur dan panah. “Mungkin juga di istana-istana lain di Indonesia, perempuan juga dipekerjakan sebagai pengawal istana,” kata Ann Kumar.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
It was not without reason that Ahmad Subardjo was nicknamed “The Guarantor of Independence” in Indonesia. However, he was absent when Sukarno proclaimed independence.
bg-gray.jpg
Saat memimpin Jakarta, Sudiro dihadapkan pada kondisi berantakan. Putar otak demi pembangunan kota, termasuk cari dana di luar lungsuran dari pusat. Sering pula gagasannya ditolak pemerintah pusat.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo was born in Karawang to a family of Acehnese and Javanese nobility. The beloved son of a civil service police officer, he moved to Batavia to continue his education at a Dutch school.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Drama persaingan sekaligus persahabatan dua pembalap flamboyan legendaris yang memicu adrenalin.
Drama persaingan sekaligus persahabatan dua pembalap flamboyan legendaris yang memicu adrenalin.
Mayoritas museum di Indonesia masih menampilkan sisi rekreasi.
Mayoritas museum di Indonesia masih menampilkan sisi rekreasi.
Nusantara memiliki pencapaian kebudayaan paling awal di banding negara lain, dari angka nol hingga tempat belajar bahasa Sanskerta.
Nusantara memiliki pencapaian kebudayaan paling awal di banding negara lain, dari angka nol hingga tempat belajar bahasa Sanskerta.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
 Sejak dini, Sandiaga terobsesi beragam olahraga. Menurun dari orangtuanya
Sejak dini, Sandiaga terobsesi beragam olahraga. Menurun dari orangtuanya
transparant.png
bottom of page