top of page

Perang Bubat dan Dampaknya Buat Majapahit

Perang Bubat membuat pemerintahan Hayam Wuruk lebih terbuka. Dia tak tergantung pada Gajah Mada.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Patung yang menyimbolkan Gajah Mada di Jatim Park, Kota Batu. (INDONESIAPIX/Shutterstock).

  • 22 Mei 2019
  • 3 menit membaca

TANAH lapang itu terletak di utara Kota Majapahit. Lapangan Bubat namanya. Tadinya tempat Raja Sunda, permaisuri, dan putrinya, serta para pengiring pengawalnya beristirahat seraya menunggu diterima Rasajanagara di Kedaton.


Namun, di situ Raja Sunda dan putrinya menemui ajal. Pernikahan Hayam Wuruk dengan Sang Putri Sunda batal. Cintanya terpaksa diperabukan.


Setelah peristiwa di Bubat itu, para petinggi keraton cemas. Semua orang menuding Mahapatih Gajah Mada biang keladinya. Bersama Sang Prabu, mereka meminta Gajah Mada menjelaskan tindakannya. Dia menjawab bahwa kebijakannya mensyaratkan agar setiap raja kecil mengakui kedudukan sebagai bawahan Majapahit sebelum menikmati hak-hak istimewa sebagai anggota imperium.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page