Mencari Letak Kerajaan Kanjuruhan

Lokasi kerajaan tertua di Jawa Timur masih misterius.

01 February 2019
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Mencari Letak Kerajaan Kanjuruhan
Sisa-sisa Candi Karangbesuki. (ripribro.blogspot.co.id).

Kerajaan Kanjuruhan membuka peradaban Hindu-Buddha di Jawa bagian Timur. Ketika itu Kerajaan Tarumanegara berkuasa di Jawa Barat dan Kerajaan Kalingga dan Mataram Kuno di Jawa Tengah. Namun, riwayat Kanjuruhan tak banyak dibahas termasuk soal di mana keratonnya berdiri.

Arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar dalam Kaladesa mengungkapkan, Kerajaan Kanjuruhan terletak di dataran tinggi Malang, di pedalaman Jawa bagian timur. Pusatnya berada di selatan gugusan Gunung Arjuno, Anjasmara, Welirang, dan Penanggungan.

“Gunung-gunung itu memang tak lebih tinggi dibandingkan dengan Gunung Semeru. Namun, dalam sejarah perkembangan peradaban selanjutnya, wilayah di sekitar pegunungan Arjuno-Anjasmara tampil dan berperan penting dalam sejarah kuno Indonesia,” tulis Agus.

Di mana letak pastinya? Nama Kanjuruhan disinyalir pada masa kemudian berubah menjadi nama Dusun Kejuron. Letaknya tak jauh dari Dinoyo, di tepi Kali Metro.

Dusun itu menjadi salah satu tempat ditemukannya fragmen Prasasti Dinoyo. Sejauh ini prasasti itu satu-satunya sumber mengenai Kerajaan Kanjuruhan. Prasasti bertarikh 682 Saka (760 M) ini ditemukan terbelah menjadi tiga bagian. Bagian tengah yang terbesar ditemukan di Desa Dinoyo, Malang. Sedangkan bagian atas dan bawah ditemukan di Desa Merjosari dan Dusun Kejuron, Desa Karangbesuki, Malang.

Di dekat lokasi penemuan Prasasti Dinoyo di Desa Kejuron, sampai sekarang masih berdiri Candi Hindu dengan ciri arsitektur abad ke-8 M. Masyarakat menamainya Candi Badut.

Tempat di mana ditemukan Prasasti Dinoyo dan Candi Badut, terdapat dua aliran sungai yang saling bertemu: Sungai Metro dan Sungai Brantas. Agus menjelaskan, dalam konsep Hindu-Buddha suatu wilayah yang banyak dialiri oleh sungai dianggap sebagai daerah tempat dewa bersemayam.

“Tidak mengherankan pula apabila ditemukan Prasasti Dinoyo karena wilayah itu merupakan tempat yang direstui dewa-dewa dan kekuatan dewata berkumpul di aliran sungai yang saling berpadu satu dengan lainnya,” lanjut Agus.

Di wilayah yang sama terdapat reruntuhan bangunan kuno lain, yang oleh penduduk setempat dinamakan Candi Besuki (Wasuki) atau Candi Urung. Sisa kepurbakalaan Candi Besuki yang tertinggal hanyalah pecahan bata besar yang berserakan di tepi tanah garapan penduduk di lahan yang agak sedikit membukit.

Belum dapat dipastikan apakah itu merupakan bangunan candi atau bangunan lain, seperti dharmasala atau asrama untuk para pendeta. “Bisa juga dahulu merupakan bangunan berupa batur terbuka tanpa dinding dengan atap yang terbuat dari bahan cepat rusak sebagai tempat kaum agamawan menyepi dan mengasingkan diri, sedang ritual diadakan di Candi Badut,” jelas Agus.

Namun, menurut Suwardono dalam Sejarah Indonesia Masa Hindu Buddha, nama Kanjuruhan menjadi nama Kejuron sekarang rupanya kurang tepat. Dukuh Kejuron letaknya di tepi Sungai Metro di sebelah selatan Candi Badut. Sejak penemuan Prasasti Dinoyo hingga sekarang di Kejuron tidak pernah ditemukan sisa-sisa kepurbakalaan.

“Justru penemuan berkali-kali muncul hinga kini di Kawasan Dinoyo-Merjosari-Tlogomas, seperti situs dan frgamen bangunan candi, Patirtan yang sekarang menjadi tendon air PDAM Dinoyo, pondasi bata, fragmen umpak dari sebuah bangunan, arca-arca, serta benda-benda logam dari emas dan perunggu,” katanya.

Menurut Suwardono, Kejuron berasal dari kata “juru”, nama suatu jabatan pada masa lampau. Hal ini dikuatkan dengan adanya Dukuh Kajeksan, sekitar 500 m sebelah utara dekat Kejuron. “Oleh masyarakat sekarang diucapkan nDesan,” lanjutnya. Dengan begini, letak pasti pusat kerajaan Hindu-Buddha pertama di Jawa Timur itu pun masih perlu ditelurusi lebih lanjut.

Kerajaan
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
0 Suka
BOOKMARK