top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Ekspedisi Mataram Kuno ke Luar Jawa

Pandangan politik ke luar Nusantara bukan hanya milik Sriwijaya dan Majapahit. Raja-raja Mataram Kuno juga beberapa kali melakukan ekspedisi ke luar Nusantara.

12 Jun 2019

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Relief kapal di dinding Candi Borobudur.

PERJALANAN ekspedisi ke luar Nusantara bukan hanya dilakukan raja-raja Sriwijaya dan Majapahit. Penguasa Kerajaan Mataram Kuno telah melancarkan aneksasi ke kerajaan-kerajan di luar pulau Jawa.


Ada lima zona komersial di Asia Tenggara pada abad ke-14 dan awal abad ke-15. Zona Teluk Benggala mencakup India Selatan, Srilangka, Birma, dan pantai utara Sumatra. Lalu kawasan Selat Malaka. Kemudian Kawasan Laut Tiongkok Selatan yang meliputi pantai timur Semenanjung Tanah Melayu, Thailand, dan Vietnam Selatan.


Kawasan Sulu mencakup pantai barat Luzon, Mindoro, Cebu, Mindanau, dan pantai utara Kalimantan. Sementara Kawasan Laut Jawa terdiri atas Kalimantan Selatan, Jawa, Sulawesi, Sumatra, dan Nusa Tenggara. 


Menurut arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta, Baskoro Daru Tjahjono, zona-zona tadi tak terbatas waktu itu saja. Sejak masa sebelumnya sudah berlangsung.


“Sedemikian pentingnya menyebabkan gesekan perebutan dominasi di kawasan itu, baik oleh Arab, India, kerajaan di Asia Tenggara daratan, Mongol, maupun Jawa,” tulis Baskoro dalam “Mataram Kuno: Agraris atau Maritim?” yang terbit di Kemaritiman Nusantara


Konflik terbuka, lanjut Baskoro, pun terjadi seperti antara Mongol dengan Jawa, India dengan Jawa, Khmer dengan Jawa, serta Jawa dengan Sumatra. Pun konflik tertutup dengan Arab. 

Mengenai berbagai ekspedisi itu sebagian besar dikisahkan lewat sumber-sumber tekstual. Misalnya dalam Carita Parahyangan yang ditulis sekira abad ke-16, terungkap setelah membangun kembali kerajaannya, Sanjaya, raja Mdang atau Mataram Kuno, menganeksasi beberapa wilayah di luar kerajaannya. Nama wilayah yang disebutkan: Melayu, Kemir, Keling, Tiongkok, dan Kahuripan. 


Kemudian, kata Baskoro, terdapat sumber Arab yang ditulis Sulayman dalam perjalanannya ke India dan Tiongkok pada 851, yang menyebut Sribuza (Sriwijaya), Ramni (daerah di Sumatra), dan Kalah (Semenanjung Tanah Melayu), sebagai daerah Jawa (Mdang).


Keterangan aneksasi atas Sriwijaya diperkuat berita dari Tiongkok masa Dinasti T’ang. Dinyatakan bahwa Shih-li-foshih (Sriwijaya) mengirim utusan ke Tiongkok pada 670-673, 713-741, dan terakhir pada 742. Sejak itu tak ada lagi. 


Menurut Baskoro, ekspedisi yang dilancarkan Sanjaya bertujuan untuk menguasai lima zona komersial di kawasan Asia Tenggara. Artinya, data filologi menunjukkan kalau tradisi maritim sudah dianut kerajaan-kerajaan kuno Nusantara sejak lama. Bukan hanya oleh Sriwijaya dan Majapahit.


“Sebagai kerajaan yang mampu bertahan 300 tahun, mustahil Mataram Kuno tak punya armada laut yang kuat,” tulis Baskoro. 


Pandangan politik Sanjaya dilanjutkan penerusnya. Arkeolog Puslit Arkenas, Bambang Budi Utomo dalam Kapal-Kapal Karam Abad ke-10 di Laut Jawa Utara Cirebon menjelaskan, sekira abad ke-8, ada petunjuk kalau Jawa (Mataram) dan Khmer terjadi hubungan politik. Hubungan keduanya ketika itu tak begitu baik. 


Sumber sejarah yang menyiratkan itu justru diperoleh dari prasasti yang ditemukan di Kamboja. Isinya tentang penyerangan, diikuti pembakaran oleh pasukan yang datang dari Jawa. 


Menurut Bambang penyerangan Jawa atas Kamboja begitu membekas di hati rakyatnya. Ini pun menjadi cerita yang disampaikan oleh orang-orang Khmer kepada saudagar Arab ketika berkunjung pada 851. 


Saudagar Arab bernama Sulayman menceritakan kekalahan Raja Khmer akibat serangan pasukan Sri Maharaja dari Zabaj. Nama Sri Maharaja ini disebutkan juga di dalam beberapa prasasti abad ke-8, baik yang ditemukan di Kalasan, Yogyakarta (775) maupun yang di Tanah Genting Kra, yaitu Ligor B (778). 


Mungkin, kata Bambang, yang dimaksud Sri Maharaja pada berita Arab adalah Rakai Panamkaran, Raja Kerajaan Mataram. Dia naik takhta menggantikan ayahnya, Sanjaya, pada 746. “Sekaligus Datu Sriwijaya yang di dalam berbagai prasasti disebut dengan julukan ‘pembunuh musuh-musuh yang gagah berani’,” lanjutnya. 


Jawa rupanya tak hanya menyerang Kamboja. Mereka juga menyerang Champa.

Menurut tradisi Sejarah Vietnam, pada 767, Champa diserbu oleh penyerang dari K’un-lun dan Da-ba atau Chö-po (Jawa). Serangan terakhir yang cukup menghancurkan terjadi pada 787 sebagaimana tertulis dalam Prasasti Yang Tikuh yang dikeluarkan Raja Indrawarman.


Sejarawan sekaligus Direktur Miami University Art Museum, Robert S. Wicks dalam Money, Markets, and Trade in Early Southeast Asia menjelaskan keterangan dalam prasasti itu di antaranya berisi tentang pembangunan ulang Candi Bhadradhipatisvara yang terbakar akibat serangan pasukan Jawa.


Serangan Jawa ke kerajaan yang kini masuk bagian Vietnam itu cukup beralasan. Champa pada abad ke-7 menjalin hubungan persahabatan dengan Chen-la (Kamboja) yang banyak menguasai jalur perdagangan dan pelayaran di Laut Tiongkok Selatan. Berkat persahabatan itu, Champa memegang hegemoni pelayaran dan perdagangan di Laut Tiongkok Selatan.  Setidaknya hegemoni pelayaran dan perdagangan di Laut Tiongkok Selatan itu berlangsung hingga 767. Ketika itu Champa diperintah oleh Prthiwindrawarman.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Persekutuan Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja

Persekutuan Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja

Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja bersekutu melawan Belanda. Keduanya telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Prajurit Keraton Ikut PKI

Prajurit Keraton Ikut PKI

Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
bottom of page