Benteng Pertahanan Zaman Kerajaan

Kerajaan-kerajaan di Nusantara telah membuat benteng pertahanan jauh sebelum bangsa Eropa memperkenalkannya.

1546505795605
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Benteng Pertahanan Zaman Kerajaan
Situs Ratuboko. (Wikipedia).

Nambi dilantik sebagai patih amangkubhumi oleh Raden Wijaya ketika mendirikan Kerajaan Majapahit. Sang patih difitnah Mahapati tengah membangun benteng pertahanan dan menyiapkan pasukan untuk melawan Raja Jayanagara, putra Wijaya.

Prabu Jayanagara yang percaya bualan itu pun pergi ke Lumajang. Nambi dan sanak saudaranya dibinasakan. Benteng di Pajarakan diduduki.

Begitulah pemberontakan Nambi diberitakan dalam Nagarakrtagama, Serat Pararaton dan Kidung Sorandaka. Selain soal pemberontakan, kisah itu juga menggambarkan adanya benteng sebagai sistem pertahanan militer.

Dosen sejarah Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono menjelaskan sistem benteng telah dikenal masyarakat Nusantara sejak terbentuknya sistem sosial pertama kali. Itu dalam bentuk tanggul tanah berpola melingkar tanpa atau dengan disertai tatanan batu-batu kerakal guna melindungi permukiman atau tempat yang dianggap penting. Bagian luar dari benteng dapat dilengkapi ataupun tanpa disertai parit keliling.

Benteng purba yang berbentuk tanggul tanah antara lain dijumpai di Way Sekampung, daerah Lampung dan di Lahat. Benteng semacam itu lazim disebut benteng alam. Ada pula benteng Keraton Buton, yang meski dibuat dari batu, denahnya mengikuti benteng alam yang telah ada.

“Tidaklah benar bila dikatakan arsitektur banteng di Nusantara baru ada pada masa kolonial, sebagai buah dari difusi budaya Eropa yang mengenal arsitektur benteng dengan sebutan castile,” kata Dwi.

Baca juga: Mengungkap struktur dinding Benteng Rotterdam

Penghancur Benteng

Pada masa kerajaan Hindu-Buddha bentuk benteng menjadi makin kompleks. Fungsinya kian beragam dan bentuknya mungkin mendapat pengaruh dari perbentengan India, yang telah berkembang lebih awal dan lebih maju.

Di India, benteng dikenal sejak masa Pra-Aria. Terbukti dengan ditemukannya jejak benteng purba di beberapa situs tua, seperti Mohenjodaro, Harappa, dan Chanhudaro. Benteng-benteng itu lantas dihancurkan oleh kawanan komunitas semi-nomaden, yang dikenal dengan sebutan bangsa Aria.

“Dalam pustaka suci Veddha, sebutan untuk bangsa Aria adalah Puramdhara, yang artinya penghancur benteng,” kata Dwi.

Istilah pura dan puri dijumpai dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan. Serapan dari bahasa Sanskreta ini secara harafiah berarti “benteng, istana, kerajaan, kota, ibu kota, tempat tinggal raja, atau apartemen perempuan.”

Dalam Catatan Sejarah Dinati Tang dari abad ke-7 M terdapat informasi tentang penduduk Kerajaan Kalingga di Jawa yang membuat pertahanan dari Kayu.

Baca juga: Rupa istana raja-raja Hindu-Buddha

Di Situs Ratuboko dari abad ke-9 M dengan jelas memperlihatkan model pertahanan yang dilengkapi tanggul terjal berlapis balok-balok batu, pagar keliling dua lapis, parit, pos jaga dan pemantauan gerak lawan maupun lorong penyelamatan.

Ratuboko adalah kompleks vihara (abhayagirivihara). Bangunan itu merupakan keraton sekaligus benteng di atas bukit yang dipakai Balaputradewa untuk mempertahankan kedudukannya dalam menghadapi serangan dari kakak tirinya, Pramodhawarddhani, dan iparnya, Rakai Pikatan.

“Dalam prasasti Siwagrha (778 S = 896 M) Ratuboko digambarkan sebagi tempat pengungsian, yang dimaksud adalah pengungsian Balaputradewa,” kata Dwi.

Benteng Berbagai Kerajaan

Berdasarkan catatan I-Tsing, Kerajaan Sriwijaya dikelilingi oleh benteng. Sayangnya, catatan pelawat Tiongkok itu tak mendeskripsikan dengan lengkap bentuk dan bahan bangunan yang digunakan.

“Kemungkinan berupa balok-balok kayu atau bambu yang ditutupi semak-semak,” ujar Dwi.

Sedangkan Ma Huan dalam Yingya Shenglan yang ditulis pada abad ke-15 M, mendeskripsikan tembok yang mengelilingi kediaman raja di Majapahit. Temboknya berupa bata setinggi lebih dari 9 m dan panjangnya lebih dari 90 m. Gerbangnya dua lapis dan sangat bersih serta terpelihara. Rumah-rumah di dalamnya terletak 9-10 m di atas tanah. 

Penggunaan teknologi benteng juga disebutkan dalam data epigrafi. Prasasti Cane (1021 M) dari masa Raja Airlangga, memberitakan penduduk Desa Cane yang memperoleh anugerah sima berkat jasanya menjadi “benteng” di sebelah barat kerajaan. Mereka memperlihatkan ketulusan hati dalam mempersembahkan bakti kepada raja, tak gentar pertaruhkan jiwa raga dalam peperangan agar Sri Maharaja memperoleh kemenangan.

“Bisa jadi di Desa Cane terdapat benteng, dalam posisi sebagai ujung tombak untuk menghadapi serangan dari arah barat, mengingat lawan utama yaitu Wurawari, berlokasi di sebelah barat kerajaan,” kata Dwi.

Sedangkan keraton Airlangga berada di Wwatan Mas, lereng utara Gunung Penanggungan. Jejak arkeologisnya didapati di situs Jedong, Dusun Wotanmas, Desa Jedong, Ngoro, Mojokerto.

“Menilik dua pintu gerbang menghadap ke barat berserta pagar batu berukuran tinggi serta tebal, tanggul terjal berlapis bolok-balok batu, kolam depan di sisi barat situs maupun posisi topografisnya yang lebih tinggi daripada tanah di sekitarnya, hal itu menggambarkan arsitektur benteng-keraton,” kata Dwi.

Pada 1032 M, Wwatan Mas ditinggalkan lantaran serangan musuh. Selanjutnya dibangun kedatuan baru di Kahuripan. Kendati begitu, bekas kedatuan Airlangga itu terus dimanfaatkan hingga masa keemasan Majapahit. Buktinya, ada kronogram bertarik 1307 saka (1385 M) pada ambang pintu bagian atas gapura I. Kadatawan Wwatan Mas didukung oleh benteng, yang ditempatkan di bagian baratnya, yakni benteng Kuto Giring.

Pada masa yang lebh muda (1271 M), berdasarkan kitab Pararaton, Wisnuwarddhana memerintahkan pendirian benteng di tempat stategis, Canggu Lor. Letaknya di jelang percabangan bangawan Brantas, yang memecah menjadi tiga sungai: Kali Mas, Porong dan sebuah kali lainnya yang telah mati.

Pembangunan benteng Canggu Lor bagian dari serangan ke Mahibit yang diperkirakan berlokasi di tepi Brantas, dekat Terung. Benteng ini juga kemungkinan besar dibuat untuk melengkapi, melindungi, dan mendukung otoritas operasional pelabuhan transit pada aliran Brantas di Canggu Lor.

“Jika benar begitu, artinya telah ada konsep paduan pelabuhan dan benteng sejak masa Hindu-Buddha, yang nantinya pada Islam marak dilakukan,” kata Dwi. 

Baca juga: Arsitek kesultanan Banten

Pada masa Majapahit, selain kota benteng di Pajarakan milik Arya Nambi, juga terdapat di kawasan Nagari Lamajang. Ini dijumpai di situs Biting, Kelurahan Kutorenon, Kecamatan Sukadana, Lumajang. Bentuknya mengikuti empat aliran sungai: Bondoyudo di sisi utara, Winong di sisi timur, Cangkring di sisi selatan, dan Peloso di sisi barat.

“Sungai-sungai itu dimanfaatkan sebagai barier alam, semacam parit keliling pelindung benteng,” kata Dwi.

Benteng Kutorenon pun dilengkapi dengan enam buah menara intai yang mengingatkan kepada bastion dari benteng bergaya Eropa atau pada baluarti benteng Kraton Yogyakarta.

“Boleh jadi benteng ini adalah benteng purba masa Majapahit yang mengalami renovasi pada Masa Perkembangan Islam,” kata Dwi.

Majapahit
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
0 Suka
BOOKMARK