- 3 Apr 2015
- 2 menit membaca
Diperbarui: 11 Jul
SUATU malam, Oktober 1957, M.M. Atmowiyono, guru di Sekolah Guru Bantu II Surakarta, mementaskan wayang di gedung Himpunan Budaya Surakarta. Dia melakonkan Dawud Mendapat Wahyu Keraton, yang diambil dari Perjanjian Lama.
Seorang penonton, Bruder Timotheus L. Wignjosoebroto FIC, kepala SD Pangudi Luhur Purbayan Surakarta, tergerak untuk menjadikan wayang sebagai sarana menyampaikan wahyu atau firman Tuhan. Dia mendiskusikannya dengan banyak orang, termasuk Atmowiyono.
Timotheus membentuk tim untuk merumuskan bentuk wayang wahyu, yang kemudian dilukis oleh Roosradi, kepala inspeksi pendidikan jasmani Kota Sala.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















