top of page

Sukarno dan Anjingnya

Sukarno pernah memelihara anjing. Kisahnya dia jadikan tamsil dalam tulisannya tentang Islam.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Sukarno dan anjingnya, Si Ketuk Kuning. (Repro Fatmawati: Catatan Kecil Bersama Bung Karno).

15 Jan 2014
2 menit membaca

Diperbarui: 9 Mar

UNTUK edisi Maulid April 1940, redaksi Pandji Islam meminta Sukarno menulis artikel tentang Maulid Nabi Muhammad Saw. Dia memenuhi permintaan itu dan menulis artikel berjudul “Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara.”


Sukarno membuka dan menutup tulisannya dengan tamsil yang mengejutkan: Pada suatu hari, anjingnya menjilat air di panci dekat sumur. Anak angkatnya, Ratna Djuami berteriak, “Papie, si Ketuk menjilat air di dalam panci!” Sukarno menjawab, “Buanglah air itu, dan cucilah panci itu beberapa kali bersih-bersih dengan sabun dan kreolin.”


Ratna termenung sebentar, kemudian dia bertanya, “Tidakkah Nabi bersabda bahwa panci ini musti dicuci tujuh kali, di antaranya satu kali dengan tanah?”

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page