Spider-Man Terjerat Tipu Daya

Peter Parker alias Spider-Man bertualang ke Eropa dan mencari cinta. Malah jadi korban hoax dan tipu daya.

11 July 2019
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Spider-Man Terjerat Tipu Daya
Judul: Spider-Man: Far From Home | Sutradara: Jon Watts | Produser: Kevin Feige, Amy Pascal | Pemain: Tom Holland, Jake Gyllenhaal, Zendaya, Jon Favreau, Samuel L. Jackson, Jacob Batalon, Marisa Tomei, Cobie Smulders, J.K. Simmons | Produksi: Columbia Pictures, Marvel Studios, Pascal Pictures| Distributor: Sony Pictures Releasing| Genre: Superhero | Durasi: 129 Menit | Rilis: 2 Juli 2019

MACAM-MACAM perasaan yang berbekas selepas angkat bokong dari bangku bioskop usai menyaksikan Spider-Man: Far From Home. Suguhan 129 menit itu menjadi sekuel Spider-Man: Homecoming (2017) sekaligus jadi edisi ke-23 keluaran Marvel Cinematic Universe (MCU).

Spider-Man: Far From Home (selanjutnya disebut Far From Home), film yang paling dinanti setelah demam Avengers: Endgame (2019), merajalela di tanah air sejak 3 Juli lalu. Selain tak kalah dalam mengaduk perasaan, film ini juga memuat memori tentang mendiang Tony Stark/Iron Man yang jadi martir dalam Endgame sebelumnya.

Namun, film garapan sutradara Jon Watts ini tak hanya mengumbar kepedihan. Penonton bakal dibikin tertawa oleh kelakuan sahabat Parker, Ned Leeds (Jacob Batalon) atau kelakuan Happy Hogan (Jon Favreau) yang kasmaran dengan sang bibi May Parker (Marisa Tomei). Ada juga haru, kesal dan tentunya terkejut seiring jalannya adegan per adegan.

Sebagaimana maksud di sub-judulnya, Spider-Man alias Peter Parker (diperankan Tom Holland) kali ini tengah bertualang ke seberang Atlantik –Benua Eropa. Reputasinya seolah sedang di-global-kan, Watts meracik aksi-aksi Spider-Man menangkal kemungkaran lintas Eropa, mulai dari Venezia hingga London.

Tapi jangan harapkan jalan ceritanya bakal mainstream. Lalu, bukan MCU namanya kalau keluaran terbarunya ini tak menyajikan sejumlah twist. Spider-Man kali ini pun bukan melawan alien laiknya para koleganya di seri-seri Avengers, tapi justru nyaris sendirian melawan Mysterio alias Quentin Beck (Jake Gyllenhaal). Mysterio mulanya dianggap kawan tapi ternyata merupakan lawan lewat tipu daya dan teknologi ilusi usai memanfaatkan salah satu barang canggih warisan Stark.

MJ, kekasih Spider-Man yang diperankan Zendaya (Foto: spidermanfarfromhome.movie)

Perjuangan Peter Parker diperumit dengan dua pertanyaan: Apa yang diinginkan dalam hati dan apakah ia siap jadi penerus Stark? Di satu sisi Spider-Man ingin kembali menikmati kehidupan remaja seumurnya, di mana ia sangat jatuh hati pada MJ (Zendaya). Tapi di sisi lain ia jadi sosok yang dipercaya mendiang Stark untuk menjaga perdamaian bumi.

Selanjutnya, baiknya Anda tonton sendiri. Selain beraneka perasaan yang bakal Anda kecap, Anda juga akan diajak melihat keindahan beberapa kota tua di Venezia, Praha, dan London sebagai penyegar mata untuk menyelingi sejumlah efek CGI nan canggih.

Telinga Anda juga akan dibikin nyaman oleh sejumlah music scoring dengan tata suara apik garapan komposer Michael Giacchino. Potongan lagu “Back in Black” milik AC/DC lagi-lagi mengembalikan memori tentang Iron Man alias Tony Stark yang menggemari lagu cadas ini.

Sosok Pemred Kharismatik The Daily Bugle

Sebagaimana lazimnya keluaran-keluaran MCU, Far From Home punya dua credit title yang pastinya tak boleh dilewatkan para penggemar Marvel. Salah satu yang paling menarik adalah kemunculan cameo pemred suratkabar The Daily Bugle yang bertransformasi jadi thedailybugle.net. Siapa lagi kalau bukan sosok menyebalkan tapi bikin kangen, J. Jonah Jameson.

Pemred pemberang yang khas dengan kumis bergaya sikat gigi dan cukuran rambut cepak flattop ini kembali diperankan aktor senior J.K. Simmons. Kehadirannya sebagai cameo di salah satu credit title-nya seolah menggulirkan nostalgia dengan trilogi Spider-Man (2002-2007) garapan Sam Raimi kala Peter Parker/Spider-Man masih diperankan Tobey Maguire.

Sebagaimana di trilogi racikan Raimi, sosok J. Jonah Jameson muncul untuk bikin ruwet reputasi Spider-Man lagi. Ia kini muncul untuk “ikut” menyebarkan hoax bahwa penjahat dan ancaman perdamaian sesungguhnya adalah Spider-Man, berbekal dari viralnya video unggahan Mysterio sebelum meregang nyawa.

“Kami selalu tahu bahwa kami ingin identitas Spider-Man terbongkar dan rasanya mesti terbongkar lewat berita. Kantor berita utama apa yang ada di dunia Spider-Man? Jawabannya selalu The Daily Bugle. Ketika Anda bicara The Daily Bugle, Anda bicara soal J. Jonah Jameson. Takkan tepat rasanya jika pemerannya bukan J.K. Simmons,” sambung sang sutradara kepada polygon.com, Minggu (7/7/2019).

Karakter sosok bernama lengkap John Jonah Jameson itu sendiri “dilahirkan” duo legenda komik Marvel Stan Lee dan Steve Ditko pada 1963 atau setahun setelah Spider-Man dirilis. Stan Lee dan Ditko pertamakali merilisnya di komik The Amazing Spider-Man edisi nomor satu keluaran Maret 1963.

Karakter J. Jonah Jameson yang diperankan aktor senior J.K. Simmons (Foto: Columbia Pictures)

Jonah Jameson diciptakan sebagai sesosok pemred suratkabar The Daily Bugle tempat Peter Parker bekerja sebagai fotografer. Karakternya gabungan dari kharismatik, pemarah, nyolot, dan selalu menyebut Spider-Man dengan “Freak, Menace!” (Aneh, Ancaman!).

“Saya tak begitu ingat dari mana saya mendapat karakternya. Mungkin kombinasi dari semua orang yang saya kenal. Saya mendapat gagasan tentang Jonah sebagai penerbit pemberang dan Spidey menjadi fotografer lepas yang bekerja untuknya,” terang Stan Lee kepada Leonard Pitts Jr pada 1981 dalam “An Interview with Stan Lee” dan dimuat Jeff McLaughlin di Stan Lee: Conversations.

Baca juga: Goodbye Stan Lee!

Namun tak lama setelah ia menciptakan karakternya dibantu ilustrator Steve Ditko, Stan Lee sadar bahwa ada pula karakter yang mirip kepunyaan DC Comics, saingan Marvel Comics, tempat Stan Lee berkarya. Yakni, karakter Perry White, pemred suratkabar The Daily Planet, tempat Clark Kent alias Superman bekerja sebagai wartawan lepas. Karakter bikinan George Putnam Ludlam itu lebih dulu muncul di komik Superman edisi ketujuh keluaran November 1940.

“Saya mengubah karakter Jonah Jameson sebeda mungkin (dari karakter Perry White). Saya buat karakternya lebih pemberang dan reaksioner. Ia berpikir bahwa masa-masa indah Amerika adalah di masa kepresidenan Herbert Hoover. Dia benci remaja, kaum hippies, rambut gondrong dan gitar. Saya pikir akan lucu jika membuat tokoh seperti itu walau dia bukan penjahat. Dia hanya mewakili segmen masyarakat yang sangat kolot,” tandasnya.

Superhero, Film, Marvel
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
2 Suka
BOOKMARK