top of page

Tiga Hari Tanpa Tempe

Sejarawan menyebut penemuan tempe adalah sumbangan Jawa pada seni masak dunia.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ibu Nani menjual tempe di Pasar Gandaria, Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat. (Micha Rainer Pali/Historia.ID).

6 Nov 2012
4 menit membaca

Diperbarui: 21 Feb

PAGI itu, Jumadi, 30 tahun, asyik menghitung uang di kiosnya di pasar Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Sementara seorang perempuan paruh baya awas mengamati dagangan Jumadi. Matanya menyisir lapak, mencari sesuatu di tumpukan sayuran. “Bang, tempenya mana?” tanya perempuan itu. Jumadi berhenti menghitung lalu berkata, “hari ini udah gak ada, bu. Kemarin masih ada kiriman,” kata Jumadi.


Mulai pengujung Juli yang lalu santer tersiar kabar pengrajin tempe mogok produksi. Namun baru pada 25 Juli Jumadi dan pedagang sayur lainnya di Lenteng Agung tak menerima pasokan tempe. Lewat surat edaran Nomor 29/org/VII/12, Pusat Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Puskopti) menginstruksikan kepada seluruh pengrajin tahu dan tempe agar menghentikan produksi sementara selama tiga hari (25-27 Juli 2012). Pengrajin tempe yang nekat tetap berproduksi akan di-sweeping dan tempenya disita. Aksi mogok itu sebagai protes atas naiknya harga kedelai dari Rp5.000 menjadi Rp8.200 per kilogram.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page