- 18 Nov 2020
- 6 menit membaca
Diperbarui: 1 hari yang lalu
LAGU kebangsaan Indonesia Raya jadi senandung paling familiar di kuping orang Indonesia. Lagu yang diperdengarkan di acara-acara setingkat RT hingga Istana Negara itu turut menggambarkan perjalanan sejarah Indonesia yang majemuk, termasuk.
Lagu yang digubah Wage Rudolf Supratman, pemain biola cum wartawan suratkabar Sin Po, pada 1924 itu pertamakali direkam dalam bentuk piringan hitam oleh seorang peranakan Tionghoa bernama Yo Kim Tjan (Johan Kertayasa) pada 1928. Sebelumnya, usai diperdengarkan pertamakali di Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928, Indonesia Raya diangkat lengkap dengan partitur dan liriknya oleh Sin Po di edisi 10 November 1928.
“Judulnya saat itu masih ‘Indonesia’. Zaman sekarang di media-media sosial banyak yang mengakui itu salah satu lagu kebangsaan terindah. Lagunya baru pada tahun 1929 diubah menjadi Indonesia Raya. Lalu tahun 1950 muncul gagasan untuk merekam dan mengaransemennya dengan simfonik lengkap,” terang musisi Addie Muljadi Sumaatmadja dalam webinar “Tionghoa dalam Alunan Musik Klasik, Pop, & Jazz” yang digagas Roemah Bhinneka Surabaya, Senin (16/11/2020) malam.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












