- 13 Mar 2023
- 5 menit membaca
Diperbarui: 6 hari yang lalu
HINGGA kini, Curaçao bersama Sint Maarten dan Aruba belum sepenuhnya menghirup udara kemerdekaan. Curaçao masih menjadi wilayah otonomi Kerajaan Belanda di Karibia meski perlawanan menuntut kebebasan terhadap kolonialisme Belanda sudah berlangsung begitu lama.
Tula jadi salah satu pemimpinnya kala terjadi Pemberontakan Budak 17 Agustus. Maka setelah Perdana Menteri (PM) Belanda Mark Rutte meminta maaf atas nama pemerintah Kerajaan Belanda terkait perbudakan di masa kolonial, Desember 2022 lalu, nama Tula bergaung lagi. Kisah kepahlawanan Tula pun turut diungkap dalam pameran bertajuk “Slavery: Ten True Stories of Dutch Colonial Slavery” yang digelar di markas PBB, New York, Amerika Serikat, 27 Februari-30 Maret 2023 atas kerjasama Rijksmuseum dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Curaçao sepenuhnya jadi koloni Belanda sejak kebangkrutan Kongsi Dagang Hindia Barat, WIC, pada 1791. Letaknya berdekatan dengan Saint-Domingue (kini Haiti) yang saat itu masih koloni Prancis. Maka gema moto Revolusi Prancis (1789-1799), “liberté, égalité, fraternité” yang mencapai wilayah koloni Prancis, menyebar pula ke Curaçao.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















