top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Hikayat Setusuk Sate

Sate populer sejak sekira abad ke-19. Dijajakan di jalanan hingga menjadi menu wajib di meja makan orang Eropa.

4 Mei 2021

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Pedagang sate di pinggir jalan. (Wereldmuseum Amsterdam/Wikimedia Commons).

  • 4 Mei 2021
  • 4 menit membaca

Diperbarui: 16 Feb

SEHARI usai Proklamasi, dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Sukarno terpilih sebagai presiden pertama Indonesia. Lepas sidang, dengan berjalan kaki, Sukarno pulang ke rumahnya di Jalan Pegangsaan. Di jalan, dia bertemu dengan tukang sate pinggir jalan. Lalu, meluncurlah perintah pertamanya sebagai presiden: “Sate ayam lima puluh tusuk.”


Tanpa sungkan, dengan berjongkok di dekat got dan tempat sampah sebagaimana orang kebanyakan, Sukarno melahap sate pesanannya. “Itulah seluruh pesta perayaan terhadap kehormatan yang kuterima,” kata Sukarno dalam otobiografinya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

Advertisement

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Kala Sultan Mehmed Memburu Dracula di Bulan Puasa

Kala Sultan Mehmed Memburu Dracula di Bulan Puasa

Murka karena utusannya dibantai dengan bengis, Sultan Mehmed II membalas dengan kekuatan penuh. Walau berhasil kabur, nasib Vlad Dracula berakhir tragis.
Pahit Getir Hidup Sjahrir

Pahit Getir Hidup Sjahrir

Menjelang akhir hayatnya, Sutan Sjahrir hidup sebagai tahanan dalam perawatan. Namun, justru pada saat itulah putrinya merasakan kehidupan sebagai keluarga yang utuh.
Gowa Masuk Islam

Gowa Masuk Islam

Islamisasi di Gowa dan Makassar makan waktu panjang meskipun raja-raja di sana sangat terbuka.
Pusat Listrik Negara di Medan Merdeka

Pusat Listrik Negara di Medan Merdeka

Menikmati secangkir kopi di sebuah kedai yang dulunya berperan dalam penerangan kota. Bangunan ini menjadi perusahaan pemasok listrik sejak masa kolonial.
bottom of page