top of page

Menggoreskan Kisah Tragis Adinda dalam Lukisan

Lukisan “Kesaksian Adinda” menyajikan aneka simbol yang terlihat indah tapi memunculkan kematian bagi rakyat jelata.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Lukisan "Kesaksian Adinda-Keganasan Kapitalisme" di Pameran The Book That Killed Colonialism (Riyono Rusli/Historia)

6 Okt 2023
4 menit membaca

Diperbarui: 15 Mei

EKSPRESI sesosok dara dalam sebuah potret lukisan itu begitu datar tapi sepasang mata bolanya menatap tajam. Beberapa helai rambut hitamnya melambai ke samping tertiup angin. Namun takkan ada satupun pesan yang bisa keluar dari bibir manisnya karena ia terbungkam beraneka simbol –berupa barisan titik-titik, tentakel bercapit seperti kepiting, seekor kerbau terbalik, dan seekor kupu-kupu– yang saling bertumbukan dan menyumpal mulutnya.


Tidak hanya mulut yang ditutupi. Dadanya juga tertutup gambar seporsi burger dan kepala kerbau yang bak menggambarkan pembungkaman terhadap hatinya. Burger berbendera VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur, red.) itu kemudian dicokoti tiga ekor tikus putih.


Lukisan unik yang tersapu dengan cat akrilik di atas kanvas berdimensi 120 x 100 cm itu merupakan lukisan realis bertajuk “Kesaksian Adinda-Keganasan Kapitalisme” karya Bambang Prasadhi. Sang pelukis terinspirasi dari buku Max Havelaar (1860) karya Eduard Douwes Dekker yang bernama pena Multatuli.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page