Mencintai Tubuh dan Sejarah Kelamnya

Lewat Kucumbu Tubuh Indahku, Garin Nugroho mengajak kita untuk menyembuhkan trauma dengan memahami sejarah lewat memori yang tersimpan dalam tubuh.

17 April 2019
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Mencintai Tubuh dan Sejarah Kelamnya
Juno kecil (Raditya Evandra) dan Bibi penjual ayam (Endah Laras). Sumber: Fourcolours Film.

SAMBIL duduk santai di halaman rumahnya, Juno (diperankan Rianto) bermonolog, menceritakan masa kecilnya dengan bahasa Jawa logat Banyumas. “Uripku isa dideleng sekang leng (hidupku bisa dilihat dari sebuah lubang),” katanya. Dari sanalah kisah hidup Juno mulai diceritakan.

Juno kecil (Raditya Evandra) tinggal bersama ayahnya. Ketika bermain di hutan, Juno mendapati ayahnya sedang mandi di sungai sambil meluapkan emosi. Ada kesedihan dan kemarahan. Di pertengahan film, terungkap tentang sejarah keluarga dan trauma sang ayah.

Tak lama kemudian, sang ayah pergi. Juno dirawat seorang guru tari lengger (Sujiwo Tedjo) yang menjelaskan arti lengger. Leng berarti lubang dan ngger berarti jengger, jambul pada ayam jago. Penari lengger adalah orang yang berdandan seperti perempuan (leng, lubang) namun sejatinya lelaki (jengger). Si guru tari lengger menyadari ada sisi feminin dan maskulin dalam tubuh Juno, bekal seorang penari lengger.

Tapi tak berapa lama kemudian Juno harus pindah lantaran guru tarinya membunuh penari yang meniduri perempuannya. Juno lantas dirawat oleh bibinya yang berjualan ayam.

Juno sering membantu bibinya mengecek ayam-ayam yang akan bertelur. Saking ahlinya, dia jadi dukun ayam, melewatkan jam sekolah dengan mlipir ke pasar, tempat warga desa mengantri untuk mengecek ayam-ayam mereka.

Piye, arep ngendog ora (Bagaimana, akan bertelur kah)?”

“Isih suwi, Pakdhe (Masih lama, Pakdhe),” kata Juno setelah memasukkan jarinya ke dubur ayam.

Malang bagi Juno, dia ketahuan membolos oleh bibinya. Selain dimarahi, jarinya ditusuk dengan jarum.

Ketika cerita beralih pada masa remaja, konsep feminin-maskulin makin kuat. Juno remaja (Muhammad Khan) tinggal bersama pakdhenya (Fajar Suharno), seorang penjahit. Di sinilah ia bertemu dengan seorang petinju (Randy Pangalila) yang menganggapnya seperti adik sendiri. Namun hanya si petinju yang berpikir demikian, lain halnya dengan Juno.

Petinju (Randy Pangalila) dan Juno (Muhammad Khan). Sumber: Fourcolours Film.

Penuh Simbol

Ada banyak simbol dalam Kucumbu Tubuh Indahku. Selepas filosofi lengger dijelaskan di awal film, bentuk-bentuk lubang dan jengger kerap muncul. Misal, ketika Juno kecil menggulung kaset dengan pulpen, kemunculan alu dan lumpang, merogoh dubur ayam, atau adegan tertusuk jarum yang berkali-kali ditampilkan. Simbol-simbol ini dimasukkan dengan halus hingga memperkuat jalan cerita.

Baca juga: Perang Ayam

Pemilihan nama Juno pun agaknya tak sembarangan. Juno dari Arjuna, salah satu Pandawa. Dalam Mahabarata, Arjuna penah menyamar sebagai perempuan pengajar tari bernama Wrehatnala ketika diasingkan. Melalui Juno, sineas seakan ingin menggambarkan tokoh lelaki berkuasa seperti Arjuna punya sisi feminin.

Namun, saling silang dalam Kucumbu Tubuh Indahku tidak hanya ada pada tokoh Juno. Tokoh-tokoh perempuan seperti istri bupati (Queen Dorotea) dan asistennya (Anneke) juga digambarkan punya sisi maskulin dan penuh kontrol.

Latar suara yang dengan mulus dihadirkan Mondo Gascaro berhasil menguatkan kesan romantis nan menyayat hati dalam film. Pilihan lagunya, seperti “Rindu Lukisan”, “Apatis”, dan “Hanya Semalam” juga berfungsi jadi penanda zaman yang mengiringi tiap perubahan hidup Juno yang penuh trauma, air mata, dan darah.

 

Akting Raditya Evandra patut diacungi jempol. Lewat ekspresi dan gerak tubuhnya, dia berhasil menampilkan beragam emosi Juno kecil yang polos. Endah Laras pun begitu luwes memerankan warga dusun yang lepas dari stereotip orang kampung, seperti caranya berdandan sebelum ke pasar, memegang dan membawa ayam ketika naik motor, makan di tengah pasar yang penuh ayam tanpa rasa jijik, juga caranya nggembol duit (menyimpan uang dalam lipatan kain batik) seperti yang dilakukan ibu-ibu penjual zaman dulu. Meski ia digambarkan hidup sendiri (tanpa suami dan anak), aura keibuannya begitu kuat ketika berinteraksi dengan Juno.

Muhammad Khan dengan sukses menampilkan feminitas seorang remaja lelaki yang mulai paham tentang tubuh dan seksualitasnya. Usut punya usut, Rianto sendiri yang mementori Khan tentang gerak-gerak feminin hingga bisa ditampilkan dengan natural. Luapan emosi yang ia tampilkan di pemandian mengajak penonton bersimpati. Kondisi penuh pertumpahan darah di sekitar Juno memang mungkin memancing frustasi.

Adegan kilas balik tentang perjalanan hidup Juno pun diceritakan dengan apik lewat monolog dan tarian penuh emosi oleh Rianto yang memang seorang penari dan koreografer profesional. Meski mayoritas pemeran bukan aktor dan aktris terkenal, Garin Nugroho berhasil mengarahkan pemainnya untuk bisa berekspresi lewat bahasa tubuh.

Baca juga: Sendratari Kristiani

 

Namun ada yang sedikit mengganjal, logat yang tidak konsisten. Rianto dan guru SD Juno berlogat Banyumas, tempat lengger berasal. Sementara Juno kecil, guru tari lengger, bibi, dan pakdhe berlogat Yogyakarta, dus manajer tim lengger (Mbok Tun) berlogat Jawa Timuran. Melihat inti ceritanya tentang lengger namun ada tokoh-tokoh yang berbahasa Jawa non-Banyumas mengingatkan pada adagium, “Ora ngapak, ora kepenak.”

Tubuh yang Menyimpan Trauma

Lewat film kesembilanbelasnya ini, Garin Nugroho mengajak penonton untuk memahami sejarah lewat ingatan yang tersimpan dalam tubuh. Karena lewat tubuh, segala realitas hidup dialami secara langsung. Lewat tokoh Juno, Garin menceritakan tentang sejarah kekerasan dan pertumpahan darah dalam setiap peralihan hidupnya.

Kakeknya dibunuh karena dituduh PKI, sementara guru tari lenggernya melakukan pembunuhan dengan amat dingin. Tubuhnya menyimpan banyak trauma dan kepedihan yang bila tidak diselesaikan akan menggerogoti jiwa si pemilik tubuh.

Seperti biasa, Garin mengusung banyak pesan dalam film ini. Yang terpenting, bagaimana tubuh dan seksualitas dimaknai seiring zaman dan bagaimana kondisi sosial-politik memengaruhi sejarah ketubuhan Juno. Garin menantang ide kolot untuk tidak membahas apa yang mestinya dibahas. Sebaliknya, dia hendak mengajarkan penonton untuk berdialog dengan tubuhnya, tentang sejarah hidup, dan sejarah bangsa.

Kucumbu Tubuh Indahku menjadi film yang amat puitis. Juno menjadi simbol bahwa manusia atau bangsa punya trauma mendalam dalam tubuh yang mestinya diselesaikan. Kalau tidak, seperti dipesankan pakdhe penjahit sebelum meninggal, akan menjadi “Bencana neng jero awak.”

film, resensi
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
0 Suka
BOOKMARK