top of page

Membalut Sejarah Popok

Penggunaan popok modern merupakan bentuk kasih sayang pada si buah hati atau kemalasan orangtua?

loading_historia_white.gif
transparant.png

Illustrasi Membalut Sejarah Popok.

3 Jan 2011
4 menit membaca

Diperbarui: 12 Des 2025

DULU bukanlah pemandangan aneh jika ada ibu menggantikan popok si kecil di tempat-tempat umum. Waktu itu popok kain masih menjadi pilihan utama.


Endang Sri Widayati, pegawai Dinas Pertanian, Peternakan, dan Kelautan Kota Pekalongan, menuturkan pengalamannya ketika memiliki bayi. Dia membuat sendiri popok bagi si buah hati dengan bahan kain katun dan mori. “Aku sulam, aku kasih bunga-bunga,” dan 10 menit kemudian jadilah satu popok. “Yang ngajari mami aku. Terpaksa, karena tak banyak yang jual popok,” ujarnya kepada MHO.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page