top of page

Lilik Sudjio, Gundala, dan Para Pahlawan

Sang sutradara membidani film pendekar dan pahlawan super. Gunakan teknik sederhana buat Gundala.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 7 Agu 2019
  • 3 menit membaca

Dunia perfilman Indonesia kembali ramai dengan film-film pendekar dan pahlawan super. Sebelumnya, sutradara Angga Sasongko membuat Wiro Sableng 212 (2018). Kini, Joko Anwar akan segera merilis film pahlawan super Gundala (2019).


Kabarnya, Bumilangit Studios juga sedang mempersiapkan film pahlawan fiksi Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Maza, Godam, Aquanus, Mandala, Si Buta dari Goa Hantu, dan Sri Asih.


Tokoh-tokoh pendekar dan pahlawan super tersebut merupakan tokoh komik yang populer pada 1970-an sampai 1980-an dan beberapa pernah diadaptasi ke media film.


Majalah Ria Film No. 412menyebut dunia perfilman Indonesia tahun 1980-an memang banyak yang mengadaptasi komik populer. Karya-karya komikus seperti Ganes TH, telah banyak diadaptasi saat itu. Sedangkan adaptasi komik Gundala sendiri muncul belakangan setelah ditangani Lilik Sudjio.


Teknik Sederhana Film Gundala


Film Gundala Putra Petir (1981) garapan Lilik Sudjio diperankan oleh Teddy Purba (Sancaka), Ami Prijono (Profesor Saelan), Anna Tairas (Minarti), dan W.D. Mochtar (Gazul). Gundala versi 1981 ini bercerita tentang Sancaka dan Profesor Saelan yang berhasil menemukan serum antimorfin. Gazul, bos sindikat narkoba, khawatir bisnisnya hancur akhirnya menculik mereka. Sancaka dan Profesor Saelan diminta membuat heroin sintetis. Sancaka menolaknya dan memberantas kejahatan Gazul dengan berubah menjadi Gundala berkekuatan petir.


Pengamat komik Henry Ismono berpendapat bahwa film Gundala versi pertama terasa berbeda dengan versi komik. “Roh Yogya-nya tidak terlihat. Namun, untuk ukuran masa itu, ya, terbilang berhasil,” katanya kepada Historia.


Sedangkan menurut peneliti dan kritikus film Umi Lestari, kualitas Lilik sebagai sutradara sebenarnya terletak pada caranya membangun mise-en-scene atau hal-hal yang muncul dalam gambar seperti properti, pakaian tokoh, gestur, dan lain-lain.


Misalnya, Umi terpana dengan ruangan dalam adegan ketika Gundala mendapatkan kekuatannya. Menurutnya, Lilik menunjukkan dunia fantasi penuh cahaya kristal. Dia menduga, Lilik menggunakan cara-cara sederhana untuk membuat film pahlawan super ini.


“Dia mungkin menggunakan plastik atau kain tembus pandang, sedangkan di belakangnya diberi lampu-lampu. Inilah instalasi artistik Lilik Sudjio yang kemungkinan besar jarang kita temukan di film Indonesia sekarang yang lebih memilih untuk menggunakan manipulasi digital,” terang Umi kepada Historia.


Umi juga menemukan hal serupa pada film garapan Lilik lainnya yaitu Ratu Ilmu Hitam (1981). Di mana secara sadar, tim artistik film mampu membangun instalasi khusus berupa ruangan yang menggambarkan sifat dari masing-masing karakter.


“Nah, hal detail semacam ini, membangun setting dengan sederhana namun memiliki kekuatan sinematis yang mampu menghipnotis penonton, sudah ada sejak Java Industrial Film atau studio pertama di Hindia Belanda berdiri,” ungkap Umi.


Menurut Umi, Lilik memang cukup fasih untuk segi artistik. “Film Lilik itu kaya karena dari gambar-gambarnya kita masih bisa merujuk ke gambar dalam film klasik Indonesia,” kata Umi.


Pendekar dan Pahlawan Super


Berdasarkan arsip Sinematek, Lilik nampaknya memang sudah biasa menggarap film-film pendekar atau pahlawan super. Sebelum Gundala, Lilik menggarap pahlawan super Darna Ajaib (1980). Tokoh superheroperempuan ini diadaptasi dari komik Darna karya Armin Tanjung. Aktris Lydia Kandau didaulat jadi pemain utamanya.


Untuk film pendekar, Lilik menyutradarai film Yuda Saba Desa (1967). Film ini bercerita tentang pesilat tangguh bernama Yuda yang diperankan oleh maestro Bing Slamet. Produksi Wahyu Film itu berhasil meraih penghargaan editing terbaik pada Pekan Apresiasi Film Nasional ketiga tahun 1967.


Lilik pula yang menyutradarai film pendekar populer Si Buta dari Goa Hantu (1970). Film dengan tokoh Si Buta yang membawa monyet ini diadaptasi dari komik karya Ganes TH.


Kemudian pada 1976, Lilik membuat film dengan tokoh Zorro berjudul Zorro Kemayoran. Film ini dibintangi oleh aktor komedi kawakan, Benyamin Sueb.“Benyamin yang biasanya melawak dalam film komedi yang lain, justru menjadi pahlawan di kalangan masyarakat Betawi dengan cara yang cukup dramatis,” kata Umi.


Lilik Sudjio. (Wikipedia).
Lilik Sudjio. (Wikipedia).

Lilik juga merupakan sutradara dari beberapa serial Wiro Sableng yang diadaptasi dari novel Bastian Tito. Ditangan Lilik lahir enam serial Wiro Sableng di antaranya Sepasang Iblis Betina (1988), Sengatan Satria Beracun (1988), Neraka Lembah Tengorak (1988), Orang-Orang Sakti dari Tangkuban Perahu (1988), Siluman Teluk Gonggo (1988), Tiga Setan Darah dan Cabuk Angin (1988).


Film lain bertema pendekar antara lain Djampang dan Djampang Mencari Naga Hitam (1968), Si Bego Menumpas Kutjing Hitam (1970), Pahlawan Goa Selarong (1972) dan Si Bongkok (1972) yang diperankan Sophan Sophiaan dan Widyawati.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Jauh sebelum kedatangan Belanda, tradisi literasi masyarakat Betawi telah berkembang pesat. Bahkan, mereka sudah mengenal penyewaan naskah.
bg-gray.jpg
Sebagai lulusan sekolah guru, Sudiro menghabiskan masa mudanya dengan menjadi guru sekaligus aktivis pergerakan nasional.
bg-gray.jpg
Selain jago catur, Sudiro muda mengisi hari-harinya semasa sekolah dengan aktif dalam pergerakan Jong Java dan kepanduan.
bg-gray.jpg
Kelahirannya disambut gembira oleh kakeknya sebagai cucu pertama. Diberinya nama Sudiro yang berarti berani. Selamat dari wabah Flu Spanyol.
Kala sidak ke Tanjung Priok, Menteri Purbaya mengingatkan untuk mencintai rupiah. Dahulu di pengujung Orde Baru gerakan cinta rupiah didengungkan Tutut Soeharto.
Kala sidak ke Tanjung Priok, Menteri Purbaya mengingatkan untuk mencintai rupiah. Dahulu di pengujung Orde Baru gerakan cinta rupiah didengungkan Tutut Soeharto.
Kisah kapten yang marah kepada komandannya. Satu telinga komandannya dipotongnya.
Kisah kapten yang marah kepada komandannya. Satu telinga komandannya dipotongnya.
Meredupnya prestise majalah sastra dan bertumbuhnya komunitas sastra daerah. Di era digital, setiap orang bisa menerbitkan karyanya sendiri.
Meredupnya prestise majalah sastra dan bertumbuhnya komunitas sastra daerah. Di era digital, setiap orang bisa menerbitkan karyanya sendiri.
Magnetron merupakan komponen penting dalam teknologi radar untuk perang. Seorang insinyur mengembangkannya untuk mesin pemanas makanan.
Magnetron merupakan komponen penting dalam teknologi radar untuk perang. Seorang insinyur mengembangkannya untuk mesin pemanas makanan.
Terpilih secara aklamasi menjadi Presiden RI, bagaimana perjalanan hidup Sukarno?
Terpilih secara aklamasi menjadi Presiden RI, bagaimana perjalanan hidup Sukarno?
Asrul Sani seniman legendaris, dikenal sebagai sastrawan, penyair, dan sineas. Pernah menjadi anggota laskar rakyat dan lulusan sarjana kedokteran hewan.
Asrul Sani seniman legendaris, dikenal sebagai sastrawan, penyair, dan sineas. Pernah menjadi anggota laskar rakyat dan lulusan sarjana kedokteran hewan.
transparant.png
bottom of page