top of page

Legenda Keroncong Itu Berpulang

Mus Mulyadi Sang Raja Keroncong meninggal dunia setelah lebih dari tiga dekade melawan penyakit gula.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Mus Mulyadi. (Youtube GNP Music).

  • 11 Apr 2019
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 3 Mei

DARI Surabaya, ia menapaki kebintangannya. Bermula dari pop, Mus Mulyadi hingga akhir hayatnya dikenal sebagai Raja Keroncong. Dalam beberapa kesempatan, mendiang juga dijuluki Buaya Keroncong, untuk mengingatkan pada kota kelahirannya. Hari ini, Kamis (11/4/2019), kakak maestro jazz Mus Mujiono itu berpulang di usia 73 tahun.


Kabar duka itu datang dari putra keduanya, Erick Haryadi, melalui akun Instagram-nya. Mus Mulyadi mengembuskan nafas terakhir pada Kamis pagi di Rumah Sakit Pondok Indah karena penyakit diabetes. Pria kelahiran 14 Agustus 1945 itu lalu dimakamkan di Joglo, Jakarta Barat.


Mus Mulyadi sudah berjuang melawan penyakitnya sejak 1984. Sejak itu, penglihatannya mulai terganggu. Bahkan pada 2004 mata kanannya sudah tak lagi bisa melihat dan lima tahun berselang mata kirinya juga tak lagi bisa berfungsi normal.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page