top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Komponis dari Betawi

Dia dianugerahi bakat alam dalam bermusik. Karya lagunya bernilai abadi.

6 Jun 2012

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Ismail Marzuki. Foto: wikimedia.org.

Diperbarui: 19 Des 2025

JAUH sebelum daerah Kwitang di Jakarta sesak dengan bangunan rumah, toko, dan gedung perkantoran, di sana pada 1900-an tinggallah sebuah keluarga Betawi berada. Pemiliknya, Marzuki, memiliki bisnis bengkel mobil. Dia tinggal bersama seorang anak lelakinya, Ismail, yang lahir pada 11 Mei 1914 –kelak nama sang ayah melekat pada namanya, menjadi Ismail Marzuki. Istrinya meninggal dunia saat Ismail berusia tiga tahun.


Kepiawaian Marzuki dalam urusan kunci inggris dan oli rupanya tak menurun pada anaknya. Sedari kecil, Ismail yang kerap disapa Maing justru menaruh hati pada musik. Dia gemar mendengar alunan merdu  dari gramafon milik keluarganya. Saat itu, dia pun mencoba bermain rebana, ukulele, dan gitar seperti kegemaran ayahnya bermain rebana dan kecapi serta handal melantunkan lagu bersyair Islam.

    Ingin membaca lebih lanjut?

    Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

    Advertisement

    Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

    Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

    Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
    Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

    Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

    God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
    Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

    Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

    Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
    Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

    Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

    Tuan Rondahaim melawan Belanda di Simalungun hingga akhir hayatnya. Dia tidak pernah menyerah. Penyakit rajalah yang menghentikan perlawanannya.
    “Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

    “Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

    Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
    bottom of page