- 19 Des 2020
- 2 menit membaca
Diperbarui: 11 Apr
PASAR Senen, Jakarta di era berlakunya Perjanjian Renville (1948) merupakan wilayah Belanda. Kendati jatuh bergantian ke tangan penguasa yang berbeda, sejak 1930-an, kawasan itu tetap menjadi tempat nongkrong yang nyaman bagi para jago, seniman, pedagang barang bekas dan tukang catut. Di tahun 1940-an, Pasar Senen bahka kerap menjadi tempat bertemunya para mahasiswa pejuang kemerdekaan.
“Pada mulanya, para mahasiswa pejuang tersebut datang ke Senen untuk menjual atau membeli buku ke toko loak Nasution (yang) terletak di belakang Bioskop Grand,” ungkap Misbach Yusa Biran dalam Keajaiban Pasar Senen.
Chairil Anwar termasuk seniman yang kerap mangkal di Pasar Senen. Menurut Hasan Aspahani dalam Chairil Anwar: Sebuah Biografi, selain memang Pasar Senen sudah menjadi tempat tongkrongan favoritnya sejak zaman Jepang, secara jarak, kawasan itu memang tidak terlalu jauh dari kantornya di Gunung Sahari.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















