top of page

Jinarwa Raden Ngabehi Ranggawarsita

Makna nama Ranggawarsita mencerminkan perjuangannya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Museum Ronggowarsito di Semarang, Jawa Tengah. Foto: wisatajateng.com.

2 Agu 2012
4 menit membaca

Diperbarui: 23 Apr

SHAKESPEARE pernah bilang: “Apalah arti sebuah nama? Mawar, jika diganti dengan nama lain, pasti akan sama harumnya.” Bagi Ki Herman Sinung Janutama, pekerja budaya dan pemerhati persoalan filsafat, tentu saja nama sangat berarti. Bahkan, dia membedah peran pujangga besar Raden Ngabehi Ranggawarsita (1802-1873) dari namanya.


Menurut Ki Herman membaca makna nama Raden Ngabehi Ranggawarsita dengan cara landa (Belanda) atau barat, akan mendapati simpulan yang tidak proporsional atau ala barat. Karena itu, dia menggunakan kajian budaya Jawa dari tradisi paramasastra atau jinarwa Jawi, yang telah dicontohkan oleh para leluhur Jawa yang tersebar dalam berbagai teks kejawen.


“Inilah yang disebut alam kapujanggan Jawi. Di dalamnya terdapat banyak model operasi demi menggali maknanya (jinarwa). Kali ini saya hanya menggunakan beberapa saja di antara operasi-operasi tersebut. Yakni operasi jinarwa dasanama, jarwadhosok, kiratabasa, dan garba,” papar Ki Herman dalam kuliah umum bertajuk “Islam dan Mistisisme Nusantara: Ranggawarsita, Islam dan Kejawen,” di Salihara, 28 Juli lalu.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page