top of page

Jejak Permainan Congklak

Permainan congklak bukan untuk menang, tetapi menghibur melalui hubungan timbal-balik.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 1 Mei 2014
  • 2 menit membaca

Perempuan bermain dakon atau congklak, 1910. (KITLV).


BU BEI menimang angannya kembali ke masa kanak-kanak. Ketika tengah gandrung bermain congklak dengan menggunakan biji sawo kecik, keasyikan itu terhenti. Ibunya berpikiran lain.


“Kamu tidak pantas main congklak. Kamu sudah gede,” kata sang ibu yang ingin mempersiapkan anaknya menjadi seorang priyayi.


Begitulah Arswendo Atmowiloto dalam novel Canting memotret kehidupan keluarga priayi Jawa. Salah satunya kebiasaan bermain congklak.


Congklak atau dakon merupakan permainan tradisional yang populer di Jawa. Ia dimainkan segala umur, lelaki maupun perempuan. Menurut A.J. Resink-Wilkens dalam Het Dakonspel (Permainan Dakon), permainan dakon biasa dimainkan anak-anak perempuan dari kalangan bangsawan.


Menurut James Dananjaya dalam Folklor Indonesia, permainan ini tersebar luas di Asia dan Afrika, yang terkena pengaruh kebudayaan Islam. Di Srilanka namanya canka, di Semenanjung Melayu disebut conkak, di Filipina cunkayon, dan di Afrika mankala. Sementara dalam Nusa Jawa Silang Budaya: Jaringan Asia, Dennys Lombard menyebut permainan ini sama dengan mangala yang terdapat di berbagai tempat lain di Samudera Hindia, Madagaskar, dan Turki, setidaknya sejak abad ke-17.


Dakon, menurut Lombard, berasal dari kata daku atau saya, yang mengesankan penonjolan ego. Ia merupakan contoh terbaik dari permainan tradisional yang nonkompetitif. Tujuannya untuk menghibur melalui hubungan timbal-balik yang menenangkan daripada merangsang sebuah persaingan ilusi. Ketika orang Eropa memainkannya untuk kali pertama, dengan terkejut mereka menyadari bahwa permainan ini berbeda dari “dam-daman” (catur Jawa); tujuan permainan tersebut bukanlah untuk “menang.”


“Peraturannya memang dibuat demikian rupa sehingga permainan dapat berlangsung berjam-jam dan hanya sekali-kali terhenti karena kekalahan (yaitu habisnya biji di dalam lubang tertentu) salah satu pemain,” tulis Lombard.


Bukti arkeologis mengenai permainan ini ditemukan dalam ekskavasi di Panjunan, Banten, pada 1983 yakni berupa Bidak Congklak Terakota. Pada masanya situs ini merupakan pabrik tembikar. Bidak Congklak Terakota yang terbuat dari tanah liat tersebut kini menjadi koleksi Museum Nasional.


“Artefak tanah liat yang dikategorikan sebagai kebutuhan sekunder antara lain berupa barang permainan seperti congklak…,” tulis Heriyanti Ongkodharma dalam Kapitalisme Pribumi Awal Kesultanan Banten 1522-1684.


Tinggalan arkeologis pada masa prasejarah (megalitikum) berupa batu monolit juga disebut batu dakon, mengambil sebutan dari bidak permainan dakon karena kemiripannya. Batu Dakon biasanya berdampingan dengan menhir.


Menurut arkeolog Agus Aris Munandar, ada dua pandangan mengenai fungsi Batu Dakon. Kalangan ahli prasejarah beranggapan lubang di batu itu berfungsi sebagai altar sesajian seperti kembang-kembangan atau biji-bijian. Kalangan lainnya beranggapan fungsinya sebagai proyeksi peta bintang seperti di dataran tinggi India.


“Apakah Batu Dakon punya pertalian dengan permainan dakon tentu harus dilakukan penelitian lebih lanjut,” katanya kepada Historia.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Jauh sebelum kedatangan Belanda, tradisi literasi masyarakat Betawi telah berkembang pesat. Bahkan, mereka sudah mengenal penyewaan naskah.
bg-gray.jpg
Sebagai lulusan sekolah guru, Sudiro menghabiskan masa mudanya dengan menjadi guru sekaligus aktivis pergerakan nasional.
bg-gray.jpg
Selain jago catur, Sudiro muda mengisi hari-harinya semasa sekolah dengan aktif dalam pergerakan Jong Java dan kepanduan.
bg-gray.jpg
Kelahirannya disambut gembira oleh kakeknya sebagai cucu pertama. Diberinya nama Sudiro yang berarti berani. Selamat dari wabah Flu Spanyol.
Kala sidak ke Tanjung Priok, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengingatkan untuk mencintai rupiah. Dahulu di pengujung Orde Baru gerakan cinta rupiah didengungkan Tutut Soeharto.
Kala sidak ke Tanjung Priok, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengingatkan untuk mencintai rupiah. Dahulu di pengujung Orde Baru gerakan cinta rupiah didengungkan Tutut Soeharto.
Kisah kapten yang marah kepada komandannya. Satu telinga komandannya dipotongnya.
Kisah kapten yang marah kepada komandannya. Satu telinga komandannya dipotongnya.
Meredupnya prestise majalah sastra dan bertumbuhnya komunitas sastra daerah. Di era digital, setiap orang bisa menerbitkan karyanya sendiri.
Meredupnya prestise majalah sastra dan bertumbuhnya komunitas sastra daerah. Di era digital, setiap orang bisa menerbitkan karyanya sendiri.
Magnetron merupakan komponen penting dalam teknologi radar untuk perang. Seorang insinyur mengembangkannya untuk mesin pemanas makanan.
Magnetron merupakan komponen penting dalam teknologi radar untuk perang. Seorang insinyur mengembangkannya untuk mesin pemanas makanan.
Terpilih secara aklamasi menjadi Presiden RI, bagaimana perjalanan hidup Sukarno?
Terpilih secara aklamasi menjadi Presiden RI, bagaimana perjalanan hidup Sukarno?
Asrul Sani seniman legendaris, dikenal sebagai sastrawan, penyair, dan sineas. Pernah menjadi anggota laskar rakyat dan lulusan sarjana kedokteran hewan.
Asrul Sani seniman legendaris, dikenal sebagai sastrawan, penyair, dan sineas. Pernah menjadi anggota laskar rakyat dan lulusan sarjana kedokteran hewan.
transparant.png
bottom of page