top of page

Harriet “Musa” Pembebas Budak

Kisah perempuan kulit hitam yang memimpin eksodus kaumnya dari perbudakan. Dituntun “Suara Tuhan”.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Biopik "Harriet" jadi yang pertama mengangkat kisah ikon aktivis Harriet Tubman di versi layar lebar. (focusfeatures.com).

20 Mei 2021
7 menit membaca

Diperbarui: 11 Jul

SUATU malam di tahun 1849, Araminta ‘Minty’ Ross (diperankan Cynthia Erivo) berlari ke dalam hutan. Nafasnya terengah-engah. Ketimbang ditangkap kembali oleh Gideon Brodess (Joe Alwyn), tuannya yang memburunya, Minty bertaruh nyawa dengan loncat ke Sungai Delaware.


Minty beserta ibu, seorang saudari, dan keempat saudaranya merupakan budak selama turun-temurun di pertanian keluarga Brodess di Bucktown, Maryland. Sementara ayahnya, Ben Ross (Clarke Peters), dan suaminya, John Tubman (Zackary Momoh), sudah berstatus manusia bebas.


Minty kabur lantaran ia hendak dijual pemiliknya, sebagaimana dua saudarinya beberapa tahun lalu. Tuhan memberi keajaiban dengan masih melindungi Minty. Ia selamat setelah loncat ke sungai dan dirawat Thomas Garret (Tim Guinee), seorang pandai besi kulit putih yang juga aktivis anti-budak di Wilmington. Garret pula yang lantas membantu Minty melintasi perbatasan Maryland menuju Philadelphia yang bebas perbudakan.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page