- 10 Jan 2018
- 4 menit membaca
Diperbarui: 17 Apr
SETIDAKNYA sampai dengan berakhirnya bulan September 1965, ketika tatanan budaya masyarakat Indonesia masih dibagi dalam tiga kelompok politik, masing-masing Nasionalis, Agama, Komunis –disingkat Nasakom– sesuai maunya Pemimpin Besar Revolusi –disingkat Pembesrev– Soekarno sang orator ulung, maka dalam mengucapkan "selamat hari ulang tahun" disertai nyanyian "Happy Birthday to You", arkian kita akan segera mengetahui dari latar apa –Nasionalis, Agama, Komunis– yang memberi selamat ulang tahun tersebut berdasarkan pilihan istilah yang dipakainya.
LKN, lembaga budayanya PNI, memakai istilah hut, singkatan dari kata-kata "hari ulang tahun".
LESBUMI, lembaga budayanya NU, memakai istilah harlah, singkatan dari kata-kata "hari lahir".
LEKRA, lembaga budayanya PKI, memakai istilah ultah, singkatan dari kata-kata "ulang tahun".
Sekarang, yang paling bertahan di antara istilah-istilah itu adalah hut. Mudah-mudahan ini tidak disimpulkan bahwa tulisan ini seakan-akan berpihak pada golongan banteng ketaton.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















