Enam Wajah di Balik Topeng Spider-Man

Mengupas habis enam aktor Spider-Man sejak baheula. Mana yang paling Anda suka?

13 July 2019
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Enam Wajah di Balik Topeng Spider-Man
Tiga aktor Spider-Man paling populer, Tobey Maguire, Andrew Garfield & Tom Holland (Columbia Pictures/Sony Pictures) (Gun Gun Gunadi/Historia).

HABIS Tobey Maguire dan Andrew Garfield, terbitlah Tom Holland. Tiga aktor itu menjadi pemeran Peter Parker alias Spider-Man paling populer dan timeless, utamanya bagi para fans Marvel Cinematic Universe (MCU). Holland jadi pujaan baru setelah era Tobey dan Garfield.

Holland kembali beraksi sebagai Peter Parker dalam sekuel Spider-Man: Far From Home, produksi ke-23 franchise MCU yang rilis sejak 2 Juli 2019. Demam filmnya tengah mewabah pasca-Avengers: Endgame, termasuk di tanah air.

Debut Holland memerankan Spider-Man sendiri berlangsung di garapan ke-13 franchise MCU, Captain America: Civil War (2016). Lantas, berturut-turut Holland membintangi Spider-Man: Homecoming (2017), Avengers: Infinity War (2018), hingga Avengers: Endgame (2019), dan Far From Home (2019).

Sejak itu, nama Holland selalu dibanding-bandingkan dengan Tobey Maguire dan Andrew Garfield oleh para fans Spider-Man di seantero bumi. Siapa di antara ketiganya yang paling top, masing-masing fans tentu punya pilihan.

“Saya lebih suka Tom Holland daripada Tobey atau Andrew. Tobey bagus sebagai Peter tapi tidak sebagai Spider-Man. Andrew bagus sebagai Spider-Man tapi tidak sebagai Peter. Dan, Tom bagus sebagai keduanya (Peter Parker dan Spider-Man),” tutur Ragina Oksavinata, salah satu penonton yang rajin mengikuti film-film Spider-Man sejak era Tobey Maguire.

Founder Komunitas Marvel Indonesia Dedi Fadim juga cenderung memfavoritkan Holland. Menurutnya, di antara Maguire, Garfield, dan Holland, terlihat jelas perbedaan pendalaman karakternya.

“Paling suka saat ini dengan Tom Holland karena dia bisa kasih lihat pengembangan karakternya. Dari film ke film ada peningkatan. Tobey bagus tapi selama tiga film karakternya enggak berubah, begitu juga Garfield,” ungkapnya kepada Historia.

Namun, sambung Dedi, perbedaan ketiganya tak lepas dari soal versi komik ciptaan Stan Lee mana yang jadi sumbernya. Film-film Spider-Man sejak 2002 berhulu dari dua versi komik, yakni versi orisinil Earth 616 dan versi Ultimate Universe.

“Di versi Earth 616, Peter Parker jadi Spider-Man sejak kuliah dan jadi fotografer lepas. Sedangkan di versi Ultimate Universe, Parker lebih ke versi remaja. Tobey lebih masuk ke karakter original-nya menurut saya karena karakter dan kepribadiannya mirip banget: kutu buku, pintar, pemalu, dan fisik yang lebih cocok jadi superhero,” sambungnya.

Sedangkan Garfield disebut lebih mencerminkan Parker yang sudah ngampus, sudah bisa bersosialisasi, lebih dewasa menyikapi sesuatu dan enggak pemalu. Bawel, jahil, iseng dan ngocol. Sementara, Holland lebih mirip versi ultimate-nya karena jadi superhero pas usia pelajar dan kisahnya berlanjut di sekuelnya saat Parker masuk kuliah namun belum bekerja sebagai fotografer di The Daily Bugle.

Namun, perbandingan ketiga nama di atas justru menenggelamkan beberapa nama lain yang pernah memerankan karakter bikinan legenda Stan Lee dan Steve Ditko pada 1962 itu. Dari total enam aktor pemeran Spider-Man, ada tiga nama sebelum Maguire, Garfield, dan Holland. Berikut ketiganya:

Donald F. Glut (1969)

Kendati low-budget dan berformat film pendek 12 menit, Donald F. Glut jadi pionir lewat peran dan karyanya dalam film Spider-Man yang dirilisnya pada 1969. Ini jadi kali pertama Spider-Man nongol di film live-action setelah Stan Lee dan Steve Ditko meluncurkan karakternya di komik tujuh tahun sebelumnya. Tentu, film ini digarap tanpa seizin Marvel Comics maupun Stan Lee.

Baca juga: Goodbye Stan Lee!

Glut dalam I Was a Teenager Movie Maker: The Book memaparkan, mulanya ia hanya seorang mahasiswa University of Southern California yang terinspirasi mengangkat karakter komik idolanya ke layar perak. Disebut amatiran karena Glut juga merangkap sebagai produser, sutradara, penulis naskah, pengisi narasi, editor tata suara, dan pemeran Spider-Man. Beberapa aktor lain turut dilibatkan dan diupah rendah. Salah satunya, Donna Shane. Dia berperan sebagai putri dari penjahat Dr. Lightning, yang diplot akan diselamatkan Spider-Man.

“Filmnya dibuat film berwarna dan saya menggunakan banyak trik kamera, termasuk menggunakan miniatur, animasi stop-motion, hingga backward photography. Lokasi syuting dilakukan di Bronson Canyon dan Marlboro House, gedung apartemen tempat saya tinggal. Untuk menggambarkan Spider-Man memanjat gedung, kameranya saya miringkan,” terang Glut.

Film ini mulanya hanya diputar di rumah sahabatnya, Michael Nesmith, di Hollywood Hills dengan proyektor pinjaman. Penontonnya sekadar keluarga Nesmith dan sejumlah fans plus teman-teman sekampus. Publik baru menyaksikan karyanya dalam rangkuman dokumenter I Was a Teenage Movie Maker (2006), di antara sejumlah karya-karya film pendek Glut lainnya.

Nicholas Hammond (1977-1981)

Aktor ini didapuk jadi pemeran Spider-Man pertama dalam film yang diproduksi secara profesional delapan tahun setelah versi amatir karya Glut. Hammond dipilih rumah produksi Danchuck Productions dan Marvel Television karena pengalamannya berperan sebagai aktor utama film legendaris The Sound of Music (1965).

Hammond jadi ujung tombak film Spider-Man garapan sineas Egbert Warnderink Swackhamer produksi 1977 yang merupakan pilot project sebelum dilanjutkan dalam serial televisi 1978-1979. Hammond kembali memerankan Spider-Man dalam sekuel Spider-Man Strikes Back (1978) dan Spider-Man: The Dragon’s Challenge (1981). Namun, penampilan Hammond baik di versi film maupun seri televisi yang ditayangkan CBS justru bikin Stan Lee geleng-geleng kepala.

“(Pemeran Spider-Man) terlihat seperti anak nakal…bodoh, terlalu kutu buku. Hasilnya jelek. Tidak ada humornya sama sekali. Penulis naskahnya terus membuat naskah yang buruk. Tidak terasa human interest-nya,” ujar Stan Lee sebagaimana dikutip Bob Batchelor dalam Stan Lee: The Man behind Marvel.

Shinji Todo (1978)

Aktor Jepang ini memerankan Spider-Man untuk versi Jepang. Seiring populernya serial Spider-Man versi televisi di Amerika Serikat pada 1978, perusahaan Jepang Toei Company membeli hak siarnya dari Marvel selama empat tahun. Inti perjanjiannya, tulis Shirrel Rhoades dalam Comic Book: How the Industry Works, Toei boleh memodifikasi sosok Spider-Man jika tak ingin menggarapnya mirip dengan versi Amerika.

Jadilah Spider-Man yang diperankan Todo bukan ber-alter ego Peter Parker lagi, melainkan Takuya Yamashiro. Dalam versi Jepang, Takuya berprofesi sebagai pembalap motor. Todo mulanya terlibat dalam seri televisi dan kembali dilibatkan dalam spin-off berupa film Supaidaman yang berdurasi 24 menit dan dirilis 22 Juli 1978.

“Diceritakan Takuya merupakan anak sulung ilmuwan astro-arkeolog Dr. Hiroshi Yamashiro. Takuya menjadi Supaidaman setelah ayahnya tewas usai menginvestigasi jatuhnya meteor yang ternyata membawa pasukan alien untuk menginvasi bumi,” urai Rayna Denison dalam tulisannya, “American Superheroes in Japanese Hands”, termuat dalam Superheroes on World Screens.

Tobey Maguire (2002-2007)

Sejatinya, Marvel dan Stan Lee ingin Spider-Man kembali nongol di layar lebar pada 1990-an. Namun, impian itu baru terwujud dua tahun setelah pergantian abad dengan mengandalkan Tobey Maguire di balik topeng Spider-Man. Ia jadi andalan dalam trilogi garapan Sam Raimi, Spider-Man (2002), Spider-Man 2 (2004), dan Spider-Man 3 (2007).

Menjelang produksi Spider-Man (2002), Maguire bukan opsi pertama pilihan Sony Pictures selaku distributor utama. “Sony menginginkan nama-nama besar seperti Leonardo DiCaprio atau Freddie Prinze Jr. Namun sutradara Sam Raimi tak sependapat. Ia malah tertarik pada Maguire setelah melihat perannya di film The Cider House Rules (1999) karena keotentikan performanya,” sebut Mark Ginocchio dan Tom DeFalco dalam 100 Things Spider-Man Fans Should Know & Do Before They Die.

Raimi mengajaknya audisi dan lulus jadi aktor utamanya. Sebelum masuk produksi, Maguire rela menyisihkan waktu hingga lima bulan latihan fisik, termasuk latihan beladiri. Keputusan Raimi berbuah manis lantaran triloginya yang melibatkan Maguire terbilang sukses besar hingga menyisakan kesan tersendiri bagi para fans.

“Saya tak khawatir dianggap satu-satunya Spider-Man. Saya menunggu cukup lama dalam karier saya untuk menunjukkan bahwa saya punya karakter lain dalam diri saya,” ungkap Maguire, dikutip Philip Abraham dalam biografi Tobey Maguire.

Andrew Garfield (2012-2014)

Publik mengenang Garfield sebagai Spider-Man yang bukan tengah kasmaran dengan MJ alias Mary Jane Watson, kekasih Spider-Man paling dikenal. Dalam dualogi garapan sineas Marc Webb: The Amazing Spider-Man (2012) dan The Amazing Spider-Man 2 (2014), sang jagoan punya kekasih lain, Gwen Stacy. Cewek pirang teman satu sekolah Parker yang diperankan Emma Stone ini tak kalah jenius.

Garfield merupakan pilihan utama sutradara Marc Webb, yang sebelumnya menyeleksi sejumlah calon. “Dia wajah baru dan saat casting, dia langsung punya chemistry dengan calon lawan mainnya, Emma Stone, padahal itu pertemuan pertama mereka. Dari gerak-geriknya dan bahasa tubuhnya, saya tahu dia cocok untuk jadi Peter Parker,” ungkap Webb, dikutip Movie Talk, 17 April 2012.

Pilihan Webb terhadap Garfield ternyata tepat. Pendahulu Garfield, Tobey Maguire, merasa Garfield jadi pilihan pas buat film versi baru. “Saat tahu bahwa sutradara yang terlibat adalah Marc Webb, saya penasaran siapa yang akan jadi Peter Parker. Ketika saya dengar adalah Andrew, saya bilang, sempurna! Andrew aktor yang hebat,” tutur Maguire, dikutip VMan edisi Mei 2012.

Tom Holland (2016- )

Ia jadi wajah baru Peter Parker/Spider-Man selepas masa Maguire dan Garfield. Seperti diuraikan di atas, Holland sudah terlibat di lima film MCU, termasuk yang terbaru Far From Home. Ia jadi pilihan utama produser Kevin Feige dan Amy Pascal setelah perannya di film The Impossible (2012), Wolf Hall (2015) dan In the Heart of the Sea (2015) dilihat sang produser. Ia digambarkan sebagai Peter Parker yang lebih muda dan memperlihatkan lebih detail soal problem sehari-hari yang dihadapi remaja usia 15 tahunan tapi tetap harus ikut menangkal kemungkaran.

Di sini, Spider-Man juga punya tambatan hati yang serupa tapi tak sama, Michelle yang disapa MJ. Ya, bukan Mary Jane Watson sebagaimana kisah asalnya di komik atau eranya Tobey Maguire. “Memang di versi sekarang (Spider-Man versi MCU) ada pengembangan cerita. Biar tidak terlalu full action, dibuat sisi cinta remaja buat bumbu cerita. MJ-nya bukan yang kita kenal seperti umumnya. MJ-nya pun hanya nama panggilan. Jadi saya sendiri enggak pernah mengakui ini Mary Jane asli,” sambung Dedi Fadim.

Namun setidaknya dalam film terbaru Holland sebagai Spider-Man, Far From Home, diselipkan satu adegan seorang cameo yang naga-naganya bakal dikaitkan dengan Spider-Man era Tobey Maguire. Apalagi kalau bukan kemunculan bos media The Daily Bugle yang ‘nyolot’, J. Jonah Jameson. Dalam credit title-nya, ia kembali diperankan J.K. Simmons, di mana aktor senior ini turut memerankan karakter yang sama di trilogi Spider-Man era Tobey Maguire.

“Dia (J. Jonah Jameson) sangat cocok karena karakter ini salah satu bumbu serunya. Paling enggak, ada kemungkinan film berikutnya menceritakan karakter Peter Parker setelah kuliah dan kerja di Daily Bugle. Jameson memang diciptakan Stan Lee dengan kepribadian yang ‘rese’. Apapun demi dapat berita sensasional, selalu memutarbalikkan fakta karena enggak mau berita yang biasa saja agar rating medianya tinggi,” tandas Dedi.

Film
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
2 Suka
BOOKMARK