Connie Sutedja Si Singa Betina dari Marunda

Mengorbit sejak 1960-an, nama Connie Sutedja melejit lewat film bertema silat Betawi garapan sineas Sofia WD.

16 April 2019
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Connie Sutedja Si Singa Betina dari Marunda
Poster "Singa Betina dari Marunda" yang melejitkan nama Connie Sutedja dalam perfilman nasional (Foto: Dok. Pribadi Connie Sutedja)

SI Mirah, jagoan cantik yang lihai “maen pukulan” alias silat, beraksi lagi. Cerita rakyat tentang perempuan pendekar berjuluk “Singa Betina dari Marunda” yang populer di masyarakat Betawi itu dipentaskan kembali oleh Sanggar Margasari. Adalah Unit Pengelola Museum Kesejarahan Jakarta yang mengangkat kisah yang pernah populer saat difilmkan tahun 1971 itu untuk memperingati Hari Kartini pada Sabtu, 13 April 2019.

Dalam dongeng-dongeng rakyat Betawi, sosok Mirah laiknya sosok Si Pitung, jawara silat yang acap diceritakan memberantas kesewenang-wenangan. Gelaran yang dipentaskan Sanggar Margasari itu seolah memutar kembali ingatan akan sosok Mirah yang diperankan Connie Sutedja dalam film Si Mirah racikan sineas Sofia WD, istri aktor WD Mochtar.

Dalam film itu pula nama Connie Sutedja untuk kali pertama melejit di belantika perfilman nasional –sebelumnya, Connie sudah main di film Anak-Anak Revolusi garapan sutradara Usmar Ismail (1964) namun hanya sebagai pemeran pembantu. Di film Singa Betina dari Marunda, Connie tampil sebagai pemeran utama, memainkan karakter si Mirah. Perannya dalam film-film bertema silat Betawi sudah dirintisnya di film Si Pitung (1970) dan Banteng Betawi (1971) sebagai pemeran pembantu.

“Iya, Singa Betina dari Marunda itu film saya yang paling meledak. Itu saya dapat (honor) Rp500 ribu. Heboh rasanya, sampai saya bisa beli rumah walau kecil di Polonia (Jakarta Timur). Di film itu jadi peran utama perempuan pertama. Biasanya kan peran utama (film bertema silat) itu laki-laki,” ujar Connie kala ditemui Historia di kediamannya di Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis, 11 April 2019.

Connie dipilih sutradara Sofia WD lantaran sudah tampil di dua film yang mengangkat kisah jagoan Betawi, Si Pitung. Selain karena paras cantiknya yang natural, Connie juga sudah fasih berlogat Betawi meski lahir di Tasikmalaya, 10 November 1944. “Saya banyak belajar saat ikut lenong, termasuk di TVRI. Ya karena lenong ngomongnya (dialognya) harus Betawi sesuai tuntutan skenario,” sambungnya.

Mengutip Ensiklopedi Jakarta: Culture & Heritage, Volume 3, film yang diproduksi PT Sumandra Film itu berkisah tentang sosok si Mirah yang keahlian silatnya menurun dari ayahnya, Bodong. Bersama ayahnya, Mirah rutin menjaga kampung Marunda dari berbagai gangguan keamanan yang dilakukan para bandit jago silat.

Lantaran berwajah cantik, si Mirah ditaksir banyak pria. Namun, Mirah hanya mau dipersunting pria yang mampu mengalahkannya. Akibatnya, banyak pria datang melamar tapi harus gigit jari lantaran keok saat beradu silat oleh Mirah.

Behind the Scene Singa Betina dari Marunda

Connie masih ingat betul kala ia harus memerankan Mirah. Lantaran sama sekali tak punya bekal beladiri, Connie lebih dulu mesti mempelajarinya. Hampir sebulan dia dilatih praktisi pencak silat sebelum syuting.

“Belajar silat khusus. Gurunya itu Octav Dirgantara (Setiadji). Sejak 1980 dia buka sekolah silat di Jerman. Kita diajari gerakan-gerakan silat kombinasi, enggak silat Betawi justru. Karena saya diperlukan fighting-nya saja. Jadi yang penting kuda-kudanya harus mantap. Fighting-nya juga dicampur karate,” ungkap Connie.

Selain dengan Oktav Dirgantara, beberapakali juga Connie berkonsultasi dengan salah satu seniornya, Raden Mochtar. “Dia juga berjasa mengajari saya karena rumahnya tetanggaan sama saya di Polonia. Dia mengajari saya agar kuda-kuda dan bagian di sini nih, harus kuat juga karena ada adegan saya harus ‘ngelempar’ WD Mochtar,” sambungnya sambil menunjuk pundak dan leher bagian belakangnya.

Connie Sutedja mengisahkan pengalamannya syuting film "Singa Betina dari Marunda" (Foto: Randy Wirayudha/Historia)

Di film itu pun Connie mendapat pengalaman pertama film action tanpa pemeran pengganti. Semua adegan, termasuk adegan berbahaya, dilakoni Connie sendiri sesuai permintaan Sofia WD.

“Ada adegan saya terjun dua meter, itu dilakukan sendiri, enggak pakai stand-in (pemeran pengganti) untuk diambil gambar pakai kamera low angle. Sofia WD kalau merayu saya untuk melakoni,’ Aduh Connie, kamu cantik, geulis, enggak apa-apa. Di bawah kan ada Om Parya (staf art) dijagain pakai kasur’. Saya gilanya, nekat saja, hahahaha,” ujarnya sambil tertawa lepas.

Lantaran melakukan adegan berbahaya itulah Connie sampai terluka di bagian kaki. Tapi itu bukan halangan, Connie tetap melanjutkan syuting dengan kaki diperban.

Baca juga: Jalan Panjang Sofia

“Waktu ada adegan di kali, saya juga kena celaka. Kaki saya kena paku dan beling. Akhirnya dibawa ke dokter, suntik tetanus. Dikasih libur hanya sehari, besoknya syuting lagi. Ya syutingnya pakai perban tapi didampingi dokter. Ya itulah bedanya dengan layar lebar sekarang ya. Lebih enak, semuanya juga lebih canggih. Kalau adegan-adegan berbahaya sekarang mah bisa pakai (efek visual) komputer,” tutupnya.

Sejarah-Film, Film
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
1 Suka
BOOKMARK