Connie Sutedja Si Ratu Vespa

Bermula dari kontes Ratu Vespa, Connie diajak main film Usmar Ismail. Kiprahnya tak lekang digerus masa.

14 April 2019
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Connie Sutedja Si Ratu Vespa
Sukarni, alias Connie Sutedja, aktris lintas zaman yang pertamakali diorbitkan Usmar Ismail (Dok. Connie Sutedja).

PARAS geulis khas priangan itu masih saja tampak. Kerutan-kerutan di wajah yang mengiringi usia yang menginjak 74 tahun sama sekali tak menghilangkan kharismanya. Sesekali, ia menyibakkan kipas yang dipegangnya saat memutar kembali kaset ingatan di kepalanya.

Connie Sutedja, aktris kawakan lintas zaman itu hingga sekarang masih eksis di seni peran. Masyarakat awam mungkin mengenalnya sebagai “Bu Hebring”. Sebagian penikmat film bisa jadi paling kenal dengan karakternya sebagai wanita judes bermulut tajam yang acap jadi lawan main Benyamin S. Kesan ini mungkin yang paling ditangkap generasi sekarang lantaran film-film Benyamin S masih acap diputar di stasiun-stasiun TV swasta. Beberapa pemerhati film juga mengenalnya sebagai si Mirah, karakter jagoan utama dalam film Singa Betina dari Marunda.

Connie memang berkiprah di dunia layar lintas genre. Hampir semua tema film dengan bermacam karakter yang diperankannya selalu dinikmatinya.

“Horor ada, drama juga ada. Ya kalau saya tergantung dikasih apa saja suka. Walau kalau boleh pilih, saya senang genre komedi meski komedi itu enggak gampang. Di luar layar lebar, saya juga pernah main lenong di TVRI. Mereka (seniman-seniman lenong, red.) itu kaya dengan improvisasinya. Saya jadi banyak belajar juga,” tutur Connie saat ditemui Historia di kediamannya di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis 11 April 2019.

Bermula dari Kontes Ratu Vespa

Lahir di Tasikmalaya pada 10 November 1944 dari pasangan Sutedja dan Hadijah, sosok bernama asli Sukarni itu mengaku tak pernah bercita-cita jadi public figure. “Karena memang dulu ibu saya senang sosok Bung Karno (Presiden Sukarno), makanya namanya Sukarni. Mungkin kalau saya lahirnya laki-laki, pasti dikasih nama sama, Sukarno,” sambungnya.

Connie Sutedja sejak belia sudah acap ikut ajang-ajang kecantikan (Dok. Connie Sutedja).

Sedari belia, dia memang sudah senang dengan film. “Dulu awalnya bersentuhan dengan film itu karena senang sekali nonton Tarzan itu di Bioskop di Tasik. Saya jadi suka membayangkan ikut gelantungan gitu, ‘Auoooooo’, hahahaha…,” lanjutnya diiringi gelak tawa.

Baca juga: Kiprah Bomber 29

Beranjak remaja, Connie gandrung ikut ajang-ajang unjuk kecantikan. Di salah satu ajang itulah Connie mendapat ajakan main film untuk kali pertama, Anak-Anak Revolusi. Sebagaimana dimuat dalam Apa dan Siapa Orang Film Indonesia, Connie menang kontes Ratu Vespa tahun 1964 dan segera menarik perhatian Usmar Ismail yang tengah menggarap film kolosal bertema perang kemerdekaan itu.

“Sebenarnya waktu masih sekolah juga sudah ikut drama-drama gitu, walau belum ada pikiran akan jadi artis. Hobi dan bakat sudah ada dan sesudah dewasa saya suka ikut kontes kebaya, kontes kacamata, dan kontes Ratu Vespa. Itu di Bandung dalam rangka HUT Divisi Siliwangi 1964. Alhamdulillah menang,” kata Connie.

Tak hanya bermodal cantik, kontes yang sudah digelar sejak 1962 itu juga mengharuskan para pesertanya terampil menunggangi skuter khas Italia itu. “Pakai vespa punya sendiri, lalu saya pakai kebaya naik vespa, bergaya-gaya, terus atraksi muter-muter dengan vespanya. Saya kebetulan pakai kebaya khas mojang priangan dan mungkin di situ poinnya saya menang, walau yang lain juga pakai baju-baju daerah. Tapi mungkin juga karena lagi musimnya lagu ‘Mojang Priangan’, jadi saya menang,” ujarnya lagi.

Dari situlah awal kariernya bermula. Salah satu asisten Usmar, Marsito Sitorus, melacak keberadaan Connie yang kembali ke kampung halamannya usai mengikuti Kontes Ratu Vespa. Connie segera ditawari main sebagai serdadu Laswi (Laskar Wanita) di film produksi Perfini itu berjudul Anak-Anak Revolusi.

“Ya, jadi itu film pertama saya, bukan Madju Tak Gentar. Saya diundang datang ke Hotel Preanger di Bandung. Di sana saya ketemu langsung dengan Pak Usmar. Ya di-interview lah, ditanya yang umum-umum. Yang paling saya ingat, Pak Usmar berpesan, bisa enggak, ngomongnya pakai bahasa Indonesia karena bahasa Sunda saya kok tebal banget katanya,” terang Connie.

Debut di Layar Lebar

Hanya sekali interview, Usmar Ismail langsung sreg dengan sosok Connie. Parasnya sangat khas priangan dan tak punya dandanan aneh-aneh cocok untuk peran pembantu yang dibutuhkan sang sineas legendaris itu. “Ya dilihat mungkin rambut saya panjang natural, kuku-kuku saya enggak dicat. Mungkin memang dia waktu itu butuhnya sosok yang Sunda banget. Karena di film itu ada satu lagi Armand Effendi yang dari Garut. Mungkin ya supaya atmosfer priangannya terasa,” sambungnya.

Alih-alih menggunakan nama aslinya, dia sudah pakai nama Connie di film itu. Pasalnya, itu nama panggilan sehari-hari di keluarganya sejak kecil.

Connie pun menjalani debutnya bersama para pemain yang sudah senior macam Sukarno M. Noer, Rahmat Hidayat, Rita Sahara, dan Wahab Abdi. “Itu kita syutingnya di Ciwidey, Soreang. Tapi sebelum mulai kita dilatih dulu, saya tentara dari Batalyon Cendrawasih selama satu bulan di Situ Patenggang. Personel-personelnya kan ikut main juga. Diajari menembak juga pakai pistol dan senapan karena karakter saya kan juga akan membawa senjata,” jelasnya.

“Di film pertama itu saya dapat honor Rp150. Lumayan banyak di masa itu. Kan perannya juga capek ya, lari-lari juga. Waktu itu honor pertama saya belikan emas, karena saya hobi beli mas, kalung, ya namanya orang kampung dulu.”

Kendati masih belum punya bayangan apakah akan terus berkiprah di dunia perfilman usai film perdananya itu, Connie serius di dunia akting. Keluarganya pun mendukung. “Hanya saja, ayah berpesan, jangan sembarangan. Jaga nama besar keluarga,” ungkapnya.

Connie Sutedja hingga kini masih setia di seni peran lewat beragam sinetron dan FTV (Randy Wirayudha/Historia).

Connie betul-betul merasakan “mitos” tangan emas seorang Usmar Ismail. Terbukti sampai saat ini Connie tercatat sudah terlibat dalam 50 produksi layar perak. Belum lagi eksistensinya yang masih berkibar di beragam judul serial drama, sinetron, dan FTV.

“Orang bilang, siapa artis yang didapatkan Usmar Ismail, bakal jadi, bakal terus (berkiprah). Saya mah waktu itu enggak hirau. Saya juga berpikirnya satu film, sudah selesai. Tapi ternyata dari Sarinande menawarkan di film Madju Tak Gentar (1965). Makanya orang paling berjasa buat saya dalam perfilman itu Pak Usmar Ismail yang menemukan saya,” kata Connie menutup pembicaraan.

Film
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
3 Suka
BOOKMARK