- 28 Okt 2021
- 6 menit membaca
Diperbarui: 29 Jun
SUATU subuh pada Januari 2018. Setelah membuka matanya, Arian Afrîn bangkit dan berjalan pincang menuju wastafel di luar kamar rawatnya untuk cuci muka dan sikat gigi. Setelahnya, ia mengecek ponselnya untuk mencari kabar tentang kawan-kawan seperjuangannya di garis depan.
Seiring mentari mulai menyapa para penghuni kamp medis di sebuah wilayah utara Suriah yang dirahasiakan lokasinya itu, seorang dokter lantas memeriksa kepulihan Arian. Dia mengalami lima luka tembak: di pinggul kiri, perut, lengan kanan, dan dua di dadanya.
“Saya merindukan kawan-kawan. Di sini sudah seperti hidup di lingkungan sipil, di mana saya justru merasa takut akan maut. Di (garis depan) sana saya tak pernah takut mati,” kata Arian dalam permulaan dokumenter bertajuk Commander Arian: A Story of Women, War and Freedom.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















