top of page

Bung Hatta dan Rakyat Tapanuli Selatan

Meski disambut dengan gegap gempita, ada yang mengganjal hati Bung Hatta: nyanyian Indonesia Raya dari orang-orang Tapanuli Selatan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Mohammad Hatta, wakil presiden pertama Republik Indonesia. (Wikimedia Commons).

12 Agu 2020
2 menit membaca

Padang Sidempuan, kota kecil di Tapanuli Selatan itu mendadak ramai. Orang-orang dari balik gunung-gunung datang berpuluh ribu banyaknya. Mereka berbaris di sepanjang jalan, semata-mata untuk melihat wajah seorang pembesar negeri. Mereka tak lain ingin menyaksikan dan mendengarkan Mohammad Hatta, Wakil Presiden Republik Indonesia saat itu. 


Bung Hatta, seturut dengan reportase wartawan Antara, Muhammad Radjab, tiba di Padang Sidempuan pada 19 Juli 1947. Kedatangan Hatta disambut dengan gembira dan meriah sekali. Dari pagi sampai jam 5 petang, rakyat menunggu di tepi jalan. Yang tua renta juga tidak ketinggalan.


“Seorang kakek berkata,” tutur Radjab dalam memoarnya Tjatatan dari Sumatra, “Sekarang aku relalah mati, karena sudah melihat Raja Islam.”


Menurut Radjab, masyarakat Tapanuli Selatan agak berbeda dari orang-orang di Utara. Di Tapanuli Selatan banyak ditemui orang-orang yang air mukanya jernih peramah, lunak, dan lekas tertawa. Tidak seperti saudara mereka di Utara yang kasar, bengis, dan kaku walaupun mungkin hatinya baik. Masyarakat Tapanuli Selatan membuat orang pendatang lekas menyesuaikan diri. Mereka suka menjamu tamu dan cenderung tidak mencurigai orang baru.

   

“Keinsafan nasional mereka lebih tinggi dari daerah lain-lain, mereka menerima kita bukan sebagai orang Sunda, orang Jawa, atau orang Minangkabau, tetapi sebagai orang Indonesia,” kata Radjab.


Meski demikian, ketika Hatta datang, ada perkara yang membuatnya jengkel dengan orang-orang Tapanuli Selatan. Waktu itu sedang bulan puasa. Untuk menjaga pita suaranya tetap prima kala berpidato, Hatta suka menjeda waktu dengan meminta massa menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”. Kemudian, melanjutkan pidato lagi.


“Dalam perjalanan itu aku mengalami, rakyat Tapanuli Selatan kurang pandai menyanyikan lagu ‘Indonesia Raya’,” kenang Hatta dalam Memoir.


Pengalaman tersebut disaksikan Hatta tatkala dirinya turun dari mobil dan berdiri di atas meja yang telah disiapkan untuk menyampaikan amanat. Hatta lalu meminta rakyat menyanyikan lagu “Indonesia Raya”. Namun menurut Hatta, nyanyian mereka begitu sumbang dan kacau.


Hatta berkeluh kesah kepada Aboe Bakar Lubis, wartawan Berita Indonesia dari Kementerian Penerangan. Lubis yang juga orang Tapanuli Selatan ini bertepatan berada di samping Hatta. Dalam Memoir, Hatta mengenang pembicaraannya dengan Lubis.


“Lagu apa yang mereka nyanyikan itu,” ujar Hatta, “Itu toh bukan lagu daerah?”


Lubis hanya menjawab singkat, “Indonesia Raya,” katanya.


“O,” kata Hatta dengan nada datar, “Begitukah lagu “Indonesia Raya”?


Mendengar itu, Lubis jadi malu dan mencari alasan logis. “Maksud mereka menyanyikan lagu ‘Indonesia Raya’. Tetapi mereka tidak terlatih dan sedikit kacau,” ujar Lubis.


“Tidak sedikit, melainkan banyak kacau,” sergah Hatta.


Omelan Hatta di Padang Sidempuan itu kiranya menggambarkan wataknya yang lurus dan disiplin. Apalagi sesuatu yang berhubungan dengan penghormatan kepada negara yang diperjuangankannya. Seperti dikatakan Mochtar Lubis dalam kumpulan tulisan Bung Hatta: Pribadinya dalam Kenangan, “pada diri Bung Hatta amat menonjol disiplin yang dipasangnya pada dirinya sendiri.”


Sesudah Padang Sidempuan Hatta melanjutkan perjalanan sampai ke Sibolga, Tapanuli Tengah. Di sana, rakyat menyanyikan lagi “Indonesia Raya” dengan baik dan benar. Dari Sibolga, lanjut lagi ke Tarutung, Tapanuli Utara.


Peristiwa Hatta di Tapanuli Selatan tampaknya menjadi sebuah sejarah kecil dari episode besar perjuangan masa revolusi. Menurut Aboe Bakar Lubis dalam Bung Hatta yang Saya Kenal, Hatta yang perangainya terlihat serius itu mendadak cair saban kali bersua dengannya seraya berkelakar. “Orang kampung Si Loebis tidak bisa menyanyi.”

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi kepala polisi wilayah Banyumas pada awal kemerdekaan. Dekat dengan anak buah, Gatot berhasil memimpin pasukan dalam pertempuran Ambarawa.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi tentara Belanda ditentang sang ayah karena tidak ingin anaknya menjadi penindas bangsanya. Dia membuktikan diri sebagai tentara yang peduli kaum lemah hingga dicap sersan gila oleh atasannya.
bg-gray.jpg
Ikut dikirim ke Ambon, Gatot Soebroto dikira keluarganya sudah mati. Masa Pendudukan Jepang membuatnya “menukar” seragam dari KNIL ke PETA.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s long journey to fight for justice for women came to a halt during the Japanese occupation.
Sjfaruddin yang memiliki keahlian di bidang ekonomi dipercaya Sjahrir sebagai menteri muda keuangan dalam Kabinet Sjahrir II. Mengeluarkan kebijakan untuk menggunting uang NICA dan uang Javasche Bank pecahan Rp. 5 menjadi dua bagian.
Sjfaruddin yang memiliki keahlian di bidang ekonomi dipercaya Sjahrir sebagai menteri muda keuangan dalam Kabinet Sjahrir II. Mengeluarkan kebijakan untuk menggunting uang NICA dan uang Javasche Bank pecahan Rp. 5 menjadi dua bagian.
Di masa tuanya, Sjafruddin yang sudah tidak berpolitik memilih menampilkan diri sebagai seorang mubaligh.
Di masa tuanya, Sjafruddin yang sudah tidak berpolitik memilih menampilkan diri sebagai seorang mubaligh.
Mulai Ōgon Bat hingga Ms. Marvel, dari Green Turtle sampai Sri Asih. Karakter pahlawan super Asia yang dulunya termarjinalkan kini unjuk kekuatan.
Mulai Ōgon Bat hingga Ms. Marvel, dari Green Turtle sampai Sri Asih. Karakter pahlawan super Asia yang dulunya termarjinalkan kini unjuk kekuatan.
Khawatir membawa pengaruh buruk, sekelompok orang menajis-najiskan film. Orang Islam berpikiran terbuka melawannya dengan film bertema Islam.
Khawatir membawa pengaruh buruk, sekelompok orang menajis-najiskan film. Orang Islam berpikiran terbuka melawannya dengan film bertema Islam.
Segala permasalahan tak harus selesai dengan adu otot. Hanya dengan kepala dingin, semua masalah akan mencair.
Segala permasalahan tak harus selesai dengan adu otot. Hanya dengan kepala dingin, semua masalah akan mencair.
Upaya mencari dana pembangunan di ibukota. Perusahaan Daerah sempat tak memenuhi harapan.
Upaya mencari dana pembangunan di ibukota. Perusahaan Daerah sempat tak memenuhi harapan.
transparant.png
bottom of page