top of page

Bahasa Daerah yang Terancam Punah

Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional membuat bahasa daerah semakin terpinggirkan. Dianggap udik dan kampungan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

21 Sep 2016
4 menit membaca

Diperbarui: 19 Mar

NURHAYATI RAHMAN, guru besar filologi di Universitas Hasanuddin Makassar, memperlihatkan salinan aksara dalam menulis teks La Galigo. Beberapa hurufnya terlihat tak biasa dan aneh. Tak seperti aksara Bugis dan Makassar yang dipelajari di sekolah. “Coba lihat huruf Sa-nya. Ada tiga buah aksara yang digunakannya,” katanya. “Terus bandingkan dengan huruf Sa dalam aksara sekarang, hanya ada satu dan seperti ketupat.”


Tiga penanda huruf Sa dalam teks La Galigo yakni berbentuk satu garis lurus tegak, atau kadang-kadang satu garis miring, dan bahkan menyerupai simbol listrik yang digunakan perusahaan listrik negara. Aksara huruf Ja pun memiliki tiga buah penanda. Sementara aksara Ngkaq, Nya, Nra, dan Mpa hanya menggunakan satu buah penanda yakni garis lurus –seperti kata penghubung dalam menuliskan dua kata yang terulang dalam ejaan bahasa Indonesia saat ini.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page