top of page

Asal-Usul Suku Tidung

Asal muasal Suku Tidung, subsuku Dayak beragama Islam yang baju adatnya disangka baju adat China.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Tahun Republik Indonesia Rp75.000 dan baju adat Suku Tidung (IG @sanggarnusantaradotcom).

  • 21 Agu 2020
  • 4 menit membaca

Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Tahun Republik Indonesia Rp75.000 sempat ramai diperbincangkan karena ada yang mengira salah seorang di gambar uang itu mengenakan baju adat China. Padahal, itu adalah baju adat milik Suku Tidung yang mendiami wilayah Kalimantan Utara (Kaltara).


Tjilik Riwut, mantan gubernur Kalimantan Tengah, menjelaskan dalam Maneser Panatau Tatu Hiang: Menyelami Kekayaan Leluhur bahwa Suku Tidung merupakan subsuku dari Suku Dayak Murut, salah satu dari tujuh suku besar, yang mendiami bagian utara Kalimantan bagian timur. Enam suku besar Dayak lainnya adalah Ngaju, Apu Kayan, Iban, Klemantan, Punan, dan Ot Danum. Suku Tidung sendiri terbagi lagi menjadi sepuluh suku kecil.


Hartatik, peneliti Balai Arkeologi Banjarmasin, menyebut Suku Tidung bermukim di wilayah pesisir dan menganut agama Islam. Kendati namanya diambil dari kata tiding atau tideng artinya gunung atau bukit.


"Nama ini menggambarkan kalau Suku Tidung berasal dari daerah hulu atau daerah pegunungan di wilayah Kalimantan sisi utara-timur (timur-laut)," tulis Hartatik dalam "Perbandingan Bahasa dan Data Arkeologi pada Suku Tidung dan Dayak di Wilayah Nunukan: Data Bantu untuk Rekonstruksi Sejarah dan Perubahan Budaya" yang terbit dalam jurnal Naditira Widya,Vol. 8 No. 1/2014.


Suku Tidung mempunyai pergerakan yang dinamis. Mereka pindah dari pedalaman Kalimantan, Kabupaten Tanah Tidung hingga ke Malaysia, Malinau, mendekati pantai di Nunukan, Tarakan, dan Berau.


Kedinamisan itu, menurut Hartatik, membuat Suku Tidung mendapat banyak pengaruh dari luar, terutama dari pelaut dan pedagang muslim. Sehingga, kini hampir semua orang Tidung beragama Islam.


Masih Kerabat Dayak


Arkeolog Balai Arkeologi Banjarmasin, Nugroho Nur Susanto dalam "Pengaruh Islam Terhadap Identitas Tidung Menurut Bukti Arkeologi" yang terbit dalamNaditira Widya, Vol. 7 No. 2/2013, menyebut bahwaSuku Tidung berpindah melalui Sungai Sesayap atau Sungai Malinau ke daerah hilir dan mendiami pesisir juga pulau-pulau kecil sisi timur Kalimantan lainnya. Perkiraannya mereka sudah meninggalkan tempat asalnya hampir 100 tahun yang lalu.


Karenanya sudah banyak cerita tutur yang terputus. Salah satunya Suku Tidung tak mengenal legenda atau mitos kejadian asal-usul moyangnya sebagaimana masyarakat Dayak lainnya. Khususnya yang meninggali wilayah Nunukan, seperti Tahol, Tenggalan, dan Agabag.


Kepercayaannya pun berbeda dibanding suku Dayak di Kalimantan Utara lainnya. "Karena Suku Tidung identik dengan muslim, sedangkan suku Dayak lainnya beragama Kristen," tulis Hartatik.


Kendati begitu, masih ada tradisi pra-Islam yang tersisa di antara masyarakat Tidung. Ini menjadi salah satu bukti hubungan kekerabatan mereka dengan suku Dayak.


"Sebagian dari mereka masih melakukan ritual yang berkaitan dengan tradisi nenek moyang, terutama yang berkaitan dengan tempat-tempat keramat," tulis Hartatik.


Walaupun sudah beragama Islam, kepercayaan adanya roh leluhur merupakan salah satu konsep megalitik yang dikenal oleh Suku Tidung hingga kini. Ada yang dikenal dengan ritual memanggil arwah di Batu Lumampu, membayar nazar di Batu Lumampu dan Batu Kelangkang, serta ritual pengobatan Badewa oleh tokoh adat.


"Kepercayaan kepada roh leluhur yang masih berlanjut hingga kini menunjukkan bahwa Suku Tidung dahulu mempunyai kepercayaan yang sama dengan suku Dayak Agabag, Tahol, dan Tenggalan," tulis Hartatik.


Nugroho menambahkan bahwa persahabatan Suku Tidung dengan alam yang masih dijaga secara umum mencerminkan spiritual Dayak. Akulturasi antara budaya pendatang dari luar, dalam hal ini Bugis, Melayu, dan Bajau yang mempengaruhi konsep religi mereka. Prosesnya panjang. Unsur budaya dari luar secara perlahan diterima oleh Suku Tidung kemudian diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menghilangkan kepribadian mereka.


Kedatangan Islam


Menurut Nugroho, selain sebagai sebuah suku, nama Tidung juga menunjuk kepada sebuah kerajaan yang kental dengan nuansa keislaman. Makam Maharaja Dinda I di Desa Sesayap, Kecamatan Sesatap Hilir, Kabupaten Tana Tidung;dan makam tokoh yang dihormati seperti Datu Bendahara dan Datu Mandul di Kecamatan Tana Lia, Pulau Mandul, Kabupaten Tana Tidung, menandakan kawasan ini sebagai daerah perpindahan awal orang Tidung. Mereka kemudian berdomisili di sana dan membentuk "suatu institusi" tradisional.


"Kerajaan ini terbentuk dari aktualisasi hegemoni yang berasal dari komunitas masyarakat berlatar belakang Suku Tidung," tulis Nugroho. "Ada kemungkinan mereka terpisahkan dari keluarga suku induknya, yaitu Suku Dayak Murut."


Institusi yang terbentuk ini dipercaya berupa kerajaan kecil. Secara tradisi, komunitas ini berdiri sendiri kemudian dikuasai oleh Kesultanan Bulungan yang mendapat pengakuan dari pemerintah kolonial Belanda.


Secara formal, Islam hadir ketika Kesultanan Bulungan menguasai Tidung, khususnya pada masa pemerintahan Sultan Muhammad 'Alimuddin (1817–1861). Hal ini ditandai dengan datangnya seorang ulama dari Arab yang singgah dahulu di Demak. Ulama yang melakukan Islamisasi ini dikenal sebagai Said Abdurrahman Bil Faqih.


Selain Bil Faqih, beberapa ulama lain ikut mendekatkan Suku Tidung dengan Islam. Buktinya adalah makam penyiar agama, Said Ahmad Maghribi di Desa Salim Batu, Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan. Letaknya di lereng tebing, di sebelah barat aliran Sungai Pimping yang bermuara di Teluk Sekatak. Berdasarkan angka tahun di nisan, ulama ini wafat pada 1832.


Orang Tidung memang lebih mudah menerima budaya luar karena umumnya mereka bermukim di pesisir, bagian hilir sungai dan pantai yang strategis. Jalurnya bisa lewat perdagangan, maupun budaya. "Hubungan Islam dengan Tidung memperkaya identitas mereka," tulis Nugroho.


Interaksi antara Suku Tidung dan Islam pun merata di daerah pesisir, muara sungai hingga pulau-pulau kecilnya. Ini ditunjukan dengan letak makam tokoh yang dihormati, seperti Datu Bendahara dan Datu Mandul di Pulau Mandul dan makam Maharaja Dinda I, tak jauh dari Sungai Selor yang berhubungan dengan Sungai Sesayap.


"Mobilitas Tidung di pesisir dan pulau-pulau kecil lainnya dibuktikan dengan peninggalan arkeologi terutama makam, antara lain di tepi Sungai Pemusian di Pulau Tarakan, Nunukan, dan Pulau Sebatik," tulis Nugroho.


Sayangnya, persaingan hegemoni politis dengan Kesultanan Bulungan menyebabkan Tidung terabaikan. Itu diperparah dengan kehadiran kolonialis Belanda. Politik adu domba dan campur tangan Belanda atas eksplorasi kekayaan alam minyak bumi dan perkebunan karet membuat Tidung semakin terpuruk.


"Dari bukti-bukti arkeologi kekuasaan politis Kerajaan Tidung sangat lemah. Meski begitu, keberadaannya tetap perlu diakui," tegas Nugroho.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Setiati rallied women to commemorate the first anniversary of Indonesia’s independence at the site where the Proclamation was read. They pressed on despite being blocked by Gurkha soldiers.
bg-gray.jpg
Gerakan Pramuka pernah punya andil dalam menggiatkan pembangunan melalui transmigrasi. Namun, Transmigrasi Pramuka dinilai kurang tepat dan gagal.
bg-gray.jpg
An Italian general and national hero was commanding his ship when the Aceh War broke out. Alas, in the waters off Aceh, he contracted cholera and met his demise.
bg-gray.jpg
Henk Ngantung sebagai perancang lambang Kostrad diakui secara resmi oleh Soeharto. Dia juga menjadi warga kehormatan Kostrad. Namun, setelah peristiwa 1965, jasanya seakan dilupakan.
Christopher Nolan mengemas “The Odyssey” menurut versinya. Odysseus terdampar di banyak tempat dan mengalami rintangan-rintangan rumit. Di mana saja lokasinya di dunia nyata?
Christopher Nolan mengemas “The Odyssey” menurut versinya. Odysseus terdampar di banyak tempat dan mengalami rintangan-rintangan rumit. Di mana saja lokasinya di dunia nyata?
Di tengah pandemi orang berharap vaksin menjadi solusi. Bagaimana ketika dahulu vaksin belum dikenal?
Di tengah pandemi orang berharap vaksin menjadi solusi. Bagaimana ketika dahulu vaksin belum dikenal?
Meski semua pesepakbola berharap tutup karier dengan manis, lima legenda ini justru mendapat kenyataan sebaliknya.
Meski semua pesepakbola berharap tutup karier dengan manis, lima legenda ini justru mendapat kenyataan sebaliknya.
Kisah anak melarat yang menjelma jadi petinju ternama. Jatuh-bangun setelah pernyataan kondangnya “No Mas!”.
Kisah anak melarat yang menjelma jadi petinju ternama. Jatuh-bangun setelah pernyataan kondangnya “No Mas!”.
Sosok kontroversial yang lahir dari keluarga fasis. Jurus-jurus politiknya mengubah wajah Formula One.
Sosok kontroversial yang lahir dari keluarga fasis. Jurus-jurus politiknya mengubah wajah Formula One.
Presidentinlinna, istana kepresidenan Finlandia yang sarat sejarah, terutama terkait Amerika dan Rusia.
Presidentinlinna, istana kepresidenan Finlandia yang sarat sejarah, terutama terkait Amerika dan Rusia.
transparant.png
bottom of page