Diperbarui: 15 Okt
RAMBUT gondrongnya masih basah. Disisir ke belakang. “Baru mandi, nih,” kata Arswendo Atmowiloto kepada saya dan seorang kawan di halaman rumahnya, Petukangan Selatan, Jakarta. Dia lalu mempersilakan saya dan seorang teman masuk ruang kerjanya. Kami menemuinya pada suatu hari tahun 2015 untuk keperluan penulisan artikel Historia.ID.
Ruang kerja Wendo ramai beragam barang. Dindingnya penuh foto diri, karikatur wajah, dan bingkai penghargaan. Kasur lipat berada di belakang kursi kerjanya. Sudut lainnya berisi komputer lawas dengan floppy disk. Ada juga sebuah mesin tik klasik. Di ruang ini Wendo menulis selama puluhan tahun. Kalau lelah, dia gelar kasur lantas tertidur pulas.
Wendo hidup dari menulis. Dia mengaku tak punya pekerjaan selain menulis. Kegiatan lainnya kelanjutan dari menulis. Dari menjadi produser, direktur, suami, bapak, sampai narapidana. “Pengalaman itu semua hanya berawal dari satu profesi. Sebagai penulis, pengarang,” ujar Wendo.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















