- 6 Nov 2012
- 4 menit membaca
Diperbarui: 1 hari yang lalu
PAGI itu, Jumadi, 30 tahun, asyik menghitung uang di kiosnya di pasar Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Sementara seorang perempuan paruh baya awas mengamati dagangan Jumadi. Matanya menyisir lapak, mencari sesuatu di tumpukan sayuran. “Bang, tempenya mana?” tanya perempuan itu. Jumadi berhenti menghitung lalu berkata, “hari ini udah gak ada, bu. Kemarin masih ada kiriman,” kata Jumadi.
Mulai pengujung Juli yang lalu santer tersiar kabar pengrajin tempe mogok produksi. Namun baru pada 25 Juli Jumadi dan pedagang sayur lainnya di Lenteng Agung tak menerima pasokan tempe. Lewat surat edaran Nomor 29/org/VII/12, Pusat Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Puskopti) menginstruksikan kepada seluruh pengrajin tahu dan tempe agar menghentikan produksi sementara selama tiga hari (25-27 Juli 2012). Pengrajin tempe yang nekat tetap berproduksi akan di-sweeping dan tempenya disita. Aksi mogok itu sebagai protes atas naiknya harga kedelai dari Rp5.000 menjadi Rp8.200 per kilogram.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












