top of page

Tragedi Pesawat Angkatan Udara di Mata Utami Suryadarma

Kiprah TNI AU di masa kacau dalam ingatan seorang perempuan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Utami dan Suryadarma saat tunangan, 2 Februari 1938 (Foto: repro buku "Saya, Soeriadi, dan Tanah Air")

  • 4 Apr 2020
  • 3 menit membaca

SEBAGAI bagian dari upaya pemerintah mengatasi pandemi corona atau Covid-19, TNI Angkatan Udara (AU) ikut andil dengan mengerahkan pesawat angkutnya ke RRC. “TNI Angkatan Udara memberangkatkan pesawat angkut berat C 130 Hercules ke Shanghai, China untuk mengangkut logistik kesehatan penanganan virus Corona (COVID-19) di Indonesia,” demikian diberitakan detik.com, 22 Maret 2020.


Menkopolhukam Mahfud MD menyebut tugas yang dijalankan TNI AU itu amat mengharukan. “Menurutnya, di saat rakyat Indonesia diminta pemerintah untuk tidak melakukan aktivitas di luar rumah, sedangkan personel TNI itu diminta pergi jauh dari rumah untuk mencari obat Corona.”


Apa yang dilakukan para personil TNI AU itu seolah melanjutkan perjuangan para perwira muda AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia, nama sebelum TNI AU) yang menjalankan tugas mengangkut obat-obatan pada 1947 yang kemudian dijadikan Hari Bakti AU. Kejadian itu selalu diingat  Utami Suryadarma, istri KSAU Komodor Suryadarma, yang kemudian menuliskannya dalam memoar berjudul Saya, Soeriadi, dan Tanah Air. Utami ingat betul suatu hari di pengujung Juli tahun 1947 ketika kediamannya di Yogyakarta didatangi Adisujipto dan “dokter karbol” Abdulrachman Saleh. Kedua pemuda-perwira yang bersama Suryadarma ikut merintis AURI itu datang untuk berpamitan. 


Adisutjipto dan dokter karbol –julukan yang melekat pada Abdulrahman Saleh karena kebiasaannya semasa sekolah kedokteran di Batavia mengepel asrama menggunakan karbol– akan berangkat ke Singapura untuk mengambil bantuan obat-obatan bantuan dari Palang Merah Malaya untuk Palang Merah Indonesia. Mereka akan terbang menggunakan pesawat DC-3 Dakota bernomor registrasi VT-CLA.


Pertemuan berjalan akrab seperti biasa ketika kedua bawahan Suryadarma itu membahas masalah AURI dan perjuangan dengan sang KSAU. Ketika kunjungan selesai, kedua perwira muda AURI itu berpamitan seperti biasa mereka bertemu sebelumnya.


Semua berjalan seperti biasa setelah itu. Adisutjipto dan dokter kadet berangkat ke Singapura, sementara Suryadarma mengurusi AURI dan Utami bersumbangsih dengan membantu perjuangan di garis belakang bersama gerakan perempuan.


Namun, pada 29 Juli 1947 sore Utami mendapati kejanggalan di atas langit Yogyakarta. “Kita semua mendengar bunyi deruman sebuah pesawat Dakota. Suamiku heran karena biasanya pesawat kita yang datang dari luar negeri, mendarat di Yogyakarta pada malam hari kalau hari sudah sungguh-sungguh gelap. Saat itu sore hari yang masih terang-benderang,” ujarnya.


Kejanggalan itulah yang membuat Suryadarma, kata Utami, segera berlari ke mobilnya untuk menuju Lanud Maguwo (kini Lanud Adisucipto) yang letaknya tak terlalu jauh dari kediaman KSAU. Kedua anak Suryadarma-Utami, yakni Priyanti dan Erlangga, ikut dengan ayah mereka.


Utami menunggu di rumah dengan hati cemas. Kecemasannya seketika berubah menjadi kesedihan ketika suami bersama kedua anaknya tiba dari Maguwo petang itu. Suryadarma mengabarkan bahwa pesawat Dakota yang suaranya mereka dengar sore itu ternyata Dakota yang –disewa AURI dari Kalingga Air milik Bidju Patnaik, pengusaha India yang bersimpati pada perjuangan kemerdekaan Indonesia– ditumpangi Adisutjipto dan dokter karbol dan pesawat itu baru saja jatuh ditembak pesawat Belanda.


“Dakota VT-CLA mengeluarkan asap; baling-baling sebelah kanan patah. Pesawat itu kehilangan keseimbangan dan tembakan masih gencar dilancarkan. Ketika menukik tajam, dari pintu pesawat tampak beberapa sosok tubuh terlempar ke luar. Pesawat miring hingga sayap kirinya melanggar pucuk pohon, kemudian jatuh melayang membentur tanggul sawah,” kata saksi bernama Soma Pawiro sebagaimana dikutip Irna Soewito dkk. dalam Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950.


“Hatiku tersayat-sayat rasanya,” kata Utami mengingat keadaan saat dia mendengar kabar pilu itu. “Untuk petama kalinya saya menyaksikan suamiku menangis sekembalinya dari Maguwo.”


Malam itu juga Suryadarma –yang sebelum pulang ikut membawa jenazah korban Dakota ke rumahsakit– dan Utami ke Rumahsakit Bethesda, tempat para jenazah disemayamkan. Presiden Sukarno, Wapres Moh. Hatta, dan Pangsar Jenderal Soedirman sudah ada di rumahsakit ketika mereka tiba.


Suryadarma amat terpukul oleh kejadian itu, kata Utami. Selain kehilangan sahabat sekaligus bawahan-bawahan yang cakap, dia sebagai pemimpin AURI yang masih seumur jagung kehilangan pencetak-pencetak kader penerbang-penerbang baru. Praktis hanya tinggal Halim Perdanakusuma dan Iswahyudi yang dapat diandalkannya untuk terus menjalankan roda kehidupan AURI.


Sama dengan suaminya, Utami juga terpukul oleh kejadian tersebut. “Sebelumnya saya merasa ngeri melihat janazah para korban, tetapi rasa itu hilang ketika saya melihat wajah Adisoetjipto dan dr Karbol. Wajah mereka berdua utuh sepenuhnya, meskipun ada sedikit luka terbakar. Namun saya tidak dapat menahan airmata yang bercucuran. Baru beberapa hari yang lalu mereka berdua datang berpamitan ke rumah, karena akan berangkat ke Singapura untuk tugas penting ini. Sekarang mereka sudah kembali dari menjalankan tugas, tetapi mereka telah tidak bernyawa. Bagaimana saya tidak sedih dan bagaimana saya dapat menahan airmata mengingat itu semua,” kata Utami.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Anak muda putus sekolah dan menganggur menjadi problem di banyak daerah di Indonesia. Di Jombang, sebuah kota kecil di Jawa Timur, mereka diberikan keterampilan praktis dan praktik lapangan lalu dikirim ke Lampung dalam program Transmigrasi Pramuka.
bg-gray.jpg
The United States’ hydrogen bomb tests in the Eniwetok Atoll in the Pacific alarmed a member of the Indonesian House of Representatives, who urged the government to mobilize opposition on the international stage.
bg-gray.jpg
Jenderal Soedirman mendukung Persatuan Perjuangan yang digagas Tan Malaka. Namun, dia kemudian meninggalkan kawan sehaluan setelah terjadi peristiwa kudeta 3 Juli 1946.
bg-gray.jpg
Setelah Sutan Sjahrir dibebaskan, para pengikut Tan Malaka menyodorkan konsepsi untuk disetujui Sukarno. Hatta menyadari sedang terjadi kudeta.
Mampukah Jokowi dan Ahok menuntaskan masalah Jakarta yang diwariskan dari zaman ke zaman?
Mampukah Jokowi dan Ahok menuntaskan masalah Jakarta yang diwariskan dari zaman ke zaman?
Dalam situasi Perang Dingin, hantu komunis dimunculkan di Hollywood. Hampir semua insan perfilman yang dicap kiri jadi pesakitan.
Dalam situasi Perang Dingin, hantu komunis dimunculkan di Hollywood. Hampir semua insan perfilman yang dicap kiri jadi pesakitan.
Georgia jadi debutan di Piala Eropa 2024 dan berpotensi jadi tim kejutan. Seperti apa gerangan mulanya sepakbola di Tanah Kartvelia itu?
Georgia jadi debutan di Piala Eropa 2024 dan berpotensi jadi tim kejutan. Seperti apa gerangan mulanya sepakbola di Tanah Kartvelia itu?
<strong></strong>Melalui lukisan dan karya instalasi, beberapa perupa kontemporer Indonesia merayakan 70 tahun kemerdekaan Indonesia.
Melalui lukisan dan karya instalasi, beberapa perupa kontemporer Indonesia merayakan 70 tahun kemerdekaan Indonesia.
Dicurangi wasit asal Malaysia, atlet tenis meja putri Indonesia memutuskan WO di final melawan atlet Malaysia.
Dicurangi wasit asal Malaysia, atlet tenis meja putri Indonesia memutuskan WO di final melawan atlet Malaysia.
Berbagai benda bersejarah di dalam ruang penyimpanan koleksi Museum Provinsi Sulawesi Tenggara hilang dibobol maling. Tak ada petugas keamanan dan CCTV.
Berbagai benda bersejarah di dalam ruang penyimpanan koleksi Museum Provinsi Sulawesi Tenggara hilang dibobol maling. Tak ada petugas keamanan dan CCTV.
transparant.png
bottom of page