top of page

Sukarno, Kopi, dan Peuyeum

Saat hidup di Bandung, Sukarno selalu kekurangan uang. Untuk memenuhi kebutuhannya, ia tak segan "menjual" tulisannya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Sukarno dan pejabat di Bandung (Wikimedia Commons)

31 Okt 2019
3 menit membaca

BANDUNG 1920-an, menjadi masa-masa tersulit bagi Sukarno dan keluarga kecilnya. Meski banyak yang telah mengakui Bung Karno sebagai pemimpin, kehidupannya tidak otomatis menjadi lebih baik. Sangat sedikit pekerjaan yang bisa diambilnya kala itu. Praktis hidup Sukarno serba pas-pasan.


Untuk menyambung hidup, Sukarno mendirikan jasa biro arsitek bersama kawannya, Ir Anwari. Namun pekerjaannya itu sama sekali tidak dapat diandalkan. Diceritakan Cindy Adams, dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, demi memenuhi berbagai kebutuhan, Sukarno terpaksa menyewakan beberapa kamar rumahnya di Jalan Dewi Sartika No.22.


Sekalipun rumah itu kecil, tetapi tiga ruangan di dalamnya telah cukup memberi penghidupan bagi Sukarno dan istrinya, Inggit Garnasih. Dalam sebulan, Sukarno dapat mengumpulkan kira-kira 110 rupiah dari hasil sewa satu rumah. Itu sudah termasuk beranda rumah yang dijadikan kantor akuntan oleh Dr. Samsi.


Tetapi rupanya pemasukan itu masih belum bisa menutupi keperluan mereka. Inggit pun mau tidak mau harus membantu suaminya dengan berjualan bedak dan alat-alat kecantikan lain yang dibuat sendiri di dapur rumahnya. Bahkan ketika penjualan kosmetik sedang sepi, Sukarno harus memberanikan diri meminjam beberapa rupiah kepada salah seorang penyewa bernama Suhardi.


“Benar-benar suatu rahmat dari Tuhan Yang Maha Pengasih, bahwa selalu saja tersedia jalan untuk menjalani kehidupan yang berat ini,” ujar Sukarno.


Meski hidup serba pas-pasan, Sukarno merasa memiliki banyak orang yang selalu siap membantunya. Setiap kali kawan-kawannya di PNI (Partai Nasional Indonesia) maupun THS (Technische Hoogeschool) memiliki uang lebih, mereka pasti selalu datang bertamu ke rumah Sukarno. Sambil membawa kopi dan peuyeum –makanan hasil fermentasi khas Jawa Barat berbahan dasar singkong– mereka akan bercengkrama hingga larut.


Pernah Sukarno berjanji untuk mentraktir salah seorang kawannya, Sutoto. Ia merasa malu karena setiap kali bertemu, selalu kawannya itu yang membayar minum. Sutoto memang sering datang untuk merundingkan berbagai soal dengan Sukarno. Suatu sore ia janji untuk berkunjung. Setiba di Jalan Dewi Sartika No. 22, bukannya segelas kopi dan peuyeum yang menyambutnya, tapi lagi-lagi ucapan maaf dari Si Bung.


“Maaf, Sutoto, sebagai tuan rumah aku tidak dapat menjamumu. Aku tidak punya uang,” ucap Sukarno lirih.


Seperti sudah terbiasa, Suroto hanya berkata “Ah, Bung selalu tidak punya uang.”


Selagi keduanya duduk-duduk dengan muka muram di beranda rumah, seorang wartawan melintas sambil mengayuh sepedanya.


“Heee, mau ke mana?” panggil Sukarno.


“Cari tulisan untuk koranku,” teriak Si Wartawan.


“Aku akan bikinkan buat kamu,” ucap Sukarno.


“Berapa?” tanya wartawan itu sambil memperlambat jalan sepedanya.


“Sepuluh rupiah!” tanpa membalas penawaran Sukarno, Si Wartawan seperti hendak mempercepat laju sepedanya.


“Oke, lima rupiah,” Sukarno menawar.


Masih belum menerima jawaban, Sukarno menurunkan tawarannya. “Dua rupiah bagaimana? Asal cukuplah untuk bisa mentraktir kopi dan peuyeum. Setuju?”


“Setuju!” Si Wartawan langsung mengiyakan. 


Sang wartawan itu lalu turun dan segera memarkirkan sepedanya ke dinding rumah. Sementara dia dan Sutoto berbincang, Sukarno mulai memainkan jari jemarinya di atas sebuah kertas kosong. Bagi Sukarno menulis bukanlah sesuatu yang sulit. Begitu banyak persoalan politik yang tersimpan di pikirannya. Sukarno seakan tidak pernah kehabisan bahan tulisan apapun tema yang diajukan.


Tanpa satupun coretan, kertas yang tadinya kosong telah terisi oleh kurang lebih 1.000 perkataan. Tidak sampai 15 menit, satu tulisan lengkap telah diterima Si Wartawan. Ia lalu pamit pulang. Wajahnya girang, begitu juga dengan Si Bung. Tanpa disangka-sangka Sore itu Sukarno kesampaian menraktir kawannya. Uang hasil menumpahkan unek-uneknya itu pun langsung dibelanjakan. Sutoto, Sukarno, serta Inggit duduk di beranda rumah. Mereka melewati sore itu dengan segelas kopi dan sepiring peuyeum hangat.


“Bagi kami kemiskinan bukanlah sesuatu yang perlu membuat malu. Kami semua orang yang berpikiran idealis,” ungkap Sukarno.


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Proyek beras sintetis Tekad menjadi skandal korupsi pada awal pemerintahan Soeharto. Dua pengusaha ditangkap di Jepang.
bg-gray.jpg
It was not without reason that Ahmad Subardjo was nicknamed “The Guarantor of Independence” in Indonesia. However, he was absent when Sukarno proclaimed independence.
bg-gray.jpg
Saat memimpin Jakarta, Sudiro dihadapkan pada kondisi berantakan. Putar otak demi pembangunan kota, termasuk cari dana di luar lungsuran dari pusat. Sering pula gagasannya ditolak pemerintah pusat.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo was born in Karawang to a family of Acehnese and Javanese nobility. The beloved son of a civil service police officer, he moved to Batavia to continue his education at a Dutch school.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Tuan rumah terhindar dari malu di Indonesia Open 2019 berkat kegemilangan ganda putra. Sektor yang dulunya dipandang sebelah mata.
Tuan rumah terhindar dari malu di Indonesia Open 2019 berkat kegemilangan ganda putra. Sektor yang dulunya dipandang sebelah mata.
Cara mudah ikut melestarikan lingkungan sekaligus merawat situs-situs bersejarah dari rumah.
Cara mudah ikut melestarikan lingkungan sekaligus merawat situs-situs bersejarah dari rumah.
Nilai budaya Melayu mulai luntur. Namun, bisa kembali dihidupkan melalui ingatan kolektif yang masih muncul dalam tradisi masyarakat Melayu.
Nilai budaya Melayu mulai luntur. Namun, bisa kembali dihidupkan melalui ingatan kolektif yang masih muncul dalam tradisi masyarakat Melayu.
Permainan serupa latto-latto pernah digandrungi anak-anak di Amerika Serikat, Inggris, dan Eropa. Permainan ini kemudian dilarang karena berbahaya.
Permainan serupa latto-latto pernah digandrungi anak-anak di Amerika Serikat, Inggris, dan Eropa. Permainan ini kemudian dilarang karena berbahaya.
transparant.png
bottom of page