top of page

Roem: Tidak Ada Waktu Membenci Sukarno

Mohammad Roem sangat terkesan oleh kebijakan ibu dari Subadio Sastrosatomo. Salah satunya meminta sang anak untuk memaafkan Presiden Sukarno yang telah memenjarakannya.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 21 Mei 2020
  • 3 menit membaca

Periode 1960-an merupakan tahun-tahun terberat bagi perpolitikan Indonesia. Perubahan sikap Presiden Sukarno yang dianggap menjadi penyebabnya. Gelombang kehancuran pun begitu kentara saat pemerintah mulai menutup diri dari berbagai kritik. Juga saat mereka semakin reaktif terhadap berbagai tindakan yang dinilai bertentangan dengan kebijakan sang pemangku kekuasaan.


Akibatnya, pada 1962, enam orang tokoh penting tersingkir dan dipenjarakan. Sebagian dari mereka adalah kawan yang pernah berjuang bersama Sukarno semasa kemerdekaan, yakni: Sutan Sjahrir, Prawoto, Mohammad Roem, Subadio Sastrosatomo, Anak Agung Gde Agung, dan Sultan Hamid. Bagi Roem, diceritakan dalam Bunga Rampai dari Sejarah, penangkapan tersebut cukup membuat ia dan kawan-kawannya tertekan.


“Alasannya karena menurut “logika revolusi” harus ditarik garis yang tegas antara kawan dan lawan. Karena kami tidak dapat dipandang sebagai kawan maka kami dianggap musuh. Sangat sederhana berpikir menurut logika revolusi!” tegas Roem.


Selama di balik jeruji, para tahanan politik ini ditempatkan di dalam blok yang sama. Ikatan emoisonal pun semakin terbangun di antara mereka. Satu sama lain sudah saling mengenal sifat-sifat, serta kebiasaan kawan senasibnya ini. Dan di antara semuanya, Roem cukup tertarik dengan kebiasaan Subadio yang beraktifitas pada pukul 12 malam.


Bermodalkan rasa penasaran, Roem memberanikan diri bertanya kepada Subadio. Tokoh PSI (Partai Sosialis Indonesia) itu lalu bercerita bahwa dia diberi pesan oleh ibunya agar jangan tidur sebelum jam 12 malam, atau jika sesuatu membuatnya terpaksa harus tidur, dia diminta untuk bangun meski hanya sebentar. Kemudian di luar kamar tidur, Subadio diminta untuk “memohon kepada Tuhan agar dosa Sukarno dimaafkan”.


Roem terperangah. Hampir tidak ada komentar yang keluar dari mulutnya saat Subadio berkata demikian. Dia tidak menyangka kawannya ini memiliki pandangan hidup seperti itu, mengingat sikap Sukarno kepadanya. Roem juga menyaksikan sendiri ucapannya bukan hanya sebatas di mulut saja, setiap malam Subadio benar-benar melaksanakan pesan sang ibu. Meski hanya sebuah kalimat sederhana, pesan ibu Subadio terukir begitu dalam di ingatan Roem.


“Subadio seorang yang berbahagia, meskipun sudah matang dan dewasa, masih mempunyai seorang ibu, yang memberikan pandangan hidup. Tentu Subadio sendiri setuju, dalam pada itu sesuatu “pengasih” dari ibu, mempunyai nilai lebih, dari pada kalau sikap hidup itu hasil pemikiran sendiri,” ungkap Roem.


Suatu hari dia berkesempatan bertemu ibu Subadio saat kunjungan ke penjara. Keduanya sempat saling menyapa dan berbincang. Selain pemikirannya, kepribadian ibu Subadio juga rupanya membuat Roem terkesan. Berbagai pertanyaan seketika timbul dibenaknya: apakah ibu Subadio memang tidak membenci Sukarno? atau Mengapa dia meminta putranya memohon kepada Tuhan agar dosa Sukarno dimaafkan?


“Kesimpulan penulis, ialah bahwa Ibu Sastrosatomo (Subadio) tidak membela Sukarno, tapi prihati dan berusaha agar putranya jangan dihinggapi penyakit benci Sukarno. Dan kalimat yang ia berikan kepada putranya itu merupakan suatu latihan mental yang dikerjakan tiap hari, yang menurut penulis efeknya akan tepat,” tulis Roem.


Lantas bagaimana dengan sikap Roem? Baginya ucapan ibu Subadio sangat menolongnya. Dia jadi sungguh-sungguh memikirkan kebenciannya kepada Sukarno, dan mempertimbangkan agar tidak membenci Sukarno atas segala dosa yang dibuatnya. Sebab kebencian, kata Roem, tidak memberi manfaat apapun. Tapi dia tidak mungkin bisa bersikap sejauh ibu Subadio di dalam memandang sosok Sukarno.


Terkesan Tidak Membenci


Pada Agustus 1967, Roem berangkat ke Belanda. Setiba di Bandara Schiphol, Amsterdam, sejumlah wartawan telah menunggu kedatangan Roem. Mereka ingin meminta kabar terkini soal Indonesia dari sang diplomat. Terutama tentang perubahan situasi politik yang sedang terjadi di Tanah Air, dan kondisi Sukarno di dalam negeri. Setelah selesai memberi keterangan pers, Roem pamit melanjutkan perjalanannya. Ketika akan beranjak, seorang wartawan melontarkan pertanyaan yang menohok.


“Tuan Roem, mengapa anda tidak membenci Sukarno?” tanyanya.


Roem terdiam. Dia sama sekali tidak ingin menceritakan kepada wartawan itu bahwa seorang perempuan yang bijaksana telah memberkati pikirannya dengan falsafah yang sangat baik. Sambil berpura-pura heran, Roem berbalik melontarkan pertanyaan.


“Siapa bilang saya tidak membenci Sukarno? Saya sudah ditahan 4 tahun 4 bulan, tanpa diadili,” pungkas Roem.


“Anda menjawab berbagai-bagai pertanyaan tentang Sukarno, dan tidak ada gejala-gejalanya bahwa anda membenci Sukarno,” jawab si wartawan.


Karena sesi wawancara memang sudah selesai, dan beberapa kawan yang menjemput sudah lama menunggu, Roem segera mengakhiri percakapan itu. Sambil tertawa dia mengatakan: “Oh, saya tidak punya waktu untuk membenci Sukarno”. Para wartawan tertawa dan mereka berpisah.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Kala ditugaskan ke Pontianak, Rudy Blatt dapat informasi pembantaian rakyat oleh Jepang. Berinisiatif mencari para penjahat perang Jepang itu.
bg-gray.jpg
Pernah berguru ke Rahmah El Yunusiyah dan H.R. Rasuna Said, Shamsiah Fakeh getol memperjuangkan kemerdekaan negeri dan kaumnya. Kini, buku memoar aktivis Malaysia berdarah Minang itu dilarang pemerintah Malaysia.
bg-gray.jpg
Dalam novel-novel karangannya, Motinggo Boesje menyuguhkan bumbu seksualitas dan erotisme yang digandrungi pembaca. Di akhir masa kepengarangannya, dia menekuni sastra serius.
bg-gray.jpg
Soekaesih menulis brosur tentang pengalaman pahit sebagai tahanan politik di Boven Digoel. Dia berkeliling kota di Belanda untuk membagikan pengalamannya. Menuntut penutupan kamp konsentrasi itu dan pembebasan para tapol.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Pablo Escobar mengisi kebun binatangnya dengan kuda nil. Setelah kematiannya, kuda nil itu berkembang biak tak terkendali hingga menimbulkan masalah.
Pablo Escobar mengisi kebun binatangnya dengan kuda nil. Setelah kematiannya, kuda nil itu berkembang biak tak terkendali hingga menimbulkan masalah.
Tokeitai umumnya terkenal kejam. Namun ada yang baik di kamp perempuan meski sadis di kamp laki-laki seperti Sersan Yamadji.
Tokeitai umumnya terkenal kejam. Namun ada yang baik di kamp perempuan meski sadis di kamp laki-laki seperti Sersan Yamadji.
transparant.png
bottom of page