top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Peristiwa di Malang yang Terus Dikenang

Pengalaman lucu KSAU Suryadarma saat bertugas ke Malang semasa Perang Kemerdekaan.

23 Agu 2019

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Utami dan Suryadarma saat tunangan, 2 Februari 1938 (Foto: repro buku "Saya, Soeriadi, dan Tanah Air")

LANTARAN sering melihat suaminya terpingkal-pingkal ketika menceritakan pengalamannya tak lama setelah proklamasi kemerdekaan, Raden Roro Utami Ramelan (kemudian dikenal sebagai Utami Suryadarma; rektor Universitas Res PUblica 1964-1966) menuslikan pengalaman lucu suaminya, Suryadi Suryadarma (KSAU 1946-1963), itu dalam memoar berjudul Saya, Soeriadi dan Tanah Air. Pengalaman itu terjadi di Malang.


Setelah mendapat tugas membantu Kepala Staf Umum TKR Letjen Urip Sumohardjo menyusun Tentara Keamanan Rakyat (TKR), termasuk TKR Djawatan Oedara, Suryadarma ditugaskan Urip ke Jawa Timur untuk mengkonsolidasi beragam kelompok perjuangan setempat guna dilebur ke dalam TKR. Ditemani Adisutjipto, Suryadarma berangkat ke Surabaya beberapa hari menjelang 10 November.


“Maka di Surabaya, ketika mereka berdua sudah bertemu-muka dengan pimpinan pertempuran, mereka memberikan berbagai penjelasan yang diperlukan,” kata Utami dalam memoarnya.


Suryadarma dan Adisutjipto lalu melanjutkan perjalanan ke Pangkalan Udara Bugis (kini Lanud Abdurrahman Saleh), Malang. Lanud ini merupakan lanud pertama yang dioperasikan Indonesia setelah merdeka. Adalah Mayor Mutakat Hurip, ketua Koordinator Badan Perjuangan eks militer, yang membuatnya bisa dioperasikan lantaran berhasil melakukan pengambilalihan persenjataan –mulai dari senjata penangkis udara, persenjataan detasemen pengaman lapangan, hingga 105 pesawat di lanud– dari pihak Jepang di bawah Kolonel Katagiri pada September 1945.


Setelah beroperasi, Hendro Suwarno ditunjuk menjadi komandan pangkalan oleh Kolonel Sujai dari Divisi VII. Lantaran masa revolusi, di mana hampir semua segi masih dirintis dari nol, penunjukan Hendro pun berjalan lucu.


“Hendro Suwarno pangkatnya apa?” tanya Sujai.


“Wah, nggak ngerti. Lha, Pak Jai pangkatnya apa?” jawab Hendro.


“Ya kolonel. Kalau begitu, Mas Hendro Letnan Kolonel.”


“Lalu, apa kerjanya?” tanya Hendro.


“Begini saja, saya pegang bagian pendidikan, you pegang operation. Komandan pangkalannya Hendro Suwarno. Yang lain, ya berpangkat mayor saja,” kata Sujai, dikutip Irna HN Soewito dkk. dalam Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950.


Letkol Hendro itulah yang berupaya ditemui Suryadarma dan Adisoetjipto. Maka, begitu sampai Lanud Bugis, keduanya langsung menuju kantor Hendro dan diterima ajudan sang komandan dengan sebilah katana di pinggang. Keduanya dipersilakan menunggu.


Setelah cukup lama menunggu, keduanya dipersilakan masuk ke ruang kerja Letkol Hendro. Alih-alih langsung menemui kedua tamunya, Hendro justru menanyakan siapa sang tamu kepada ajudannya. Sang ajudan lalu meneruskan, “Siapa Anda?”


Selanjutnya, dioalog antara tamu dan Hendro pun berlangsung terus-menerus melewati perantaraan ajudan. Hal itu membuat Suryadarma dan Adisoetjipto selalu menahan tawa setiap kali melihat ajudan datang.


“Soeriadi dan Adisoetjipto tahu persis bahwa si komandan sedang meniru seorang komandan tentara Jepang yang berhadapan dengan seorang pribumi,” kata Utami.


Semuanya berakhir ketika Suryadarma menjelaskan bahwa dirinya merupakan utusan Kepala Staf Umum TKR Letjen Oerip. Mengetahui tamunya adalah orang yang lebih tinggi pangkatnya, Hendro langsung menghampiri Suryadarma dan Adisoetjipto sambil meminta maaf.


“Soeriadi dan Adisoetjipto tidak dapat lagi menahan gelinya, dan meledaklah tawa mereka terbahak-bahak. Komandan pangkalan malu sekali, apalagi setelah mengetahui ia sedang berhadapan dengan pucuk pimpinannya sendiri,” sambung Utami.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

The Legacy of the Colonial Gas Network

The Legacy of the Colonial Gas Network

After being halted due to the war, the Dutch gas company resumed its operations but was later nationalized by the Indonesian government. What is the fate of this colonial legacy?
Sumitro Djojohadikusumo Ingin BNI Jadi Bank Sentral

Sumitro Djojohadikusumo Ingin BNI Jadi Bank Sentral

Sumitro Djojohadikusumo sebagai ketua komisi ekonomi dalam KMB ingin BNI menjadi bank sentral. Namun, De Javasche Bank yang ditetapkan sebagai bank sentral untuk melancarkan pembayaran utang Indonesia kepada Belanda.
Juragan Tembakau dari Parakan

Juragan Tembakau dari Parakan

Rumah keluarga Siek di Parakan menyimpan kejayaan masa lalu dalam perdagangan gambir hingga tembakau di Jawa.
Tatkala Wolter Mongisidi Diburu KNIL

Tatkala Wolter Mongisidi Diburu KNIL

Ketika anggota Harimau Indonesia berhasil melarikan diri dengan bantuan warga, tentara KNIL mulai mengancam masyarakat sekitar untuk mencari Wolter dan teman-temannya.
Sekilas Perjalanan Sukarno ke Venezuela

Sekilas Perjalanan Sukarno ke Venezuela

Kunjungan singkat Sukarno yang berkesan. Terinspirasi bikin jembatan yang tak kalah megah dari Venezuela.
bottom of page