top of page

Kisah Tentara Jadi Diplomat

Pengalaman seorang kolonel menjadi diplomat sebagai kepala perwakilan Republik Indonesia di Singapura. Mendapat berbagai fasilitas yang tidak dapat dinikmati hingga membangun Wisma Indonesia.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Soegih Arto (memakai jas hitam) pernah menjadi Konsul Jenderal RI di Singapura. (Repro Sanul Daca).

8 Mei 2020
3 menit membaca

LETNAN Kolonel Soegih Arto ingin sekali menjadi diplomat. Menurut kabar yang dia dengar dari handai taulan, kerja sebagai abdi negara di luar negeri itu enak. Gaji cukup untuk hidup dan kalau pandai mengatur keuangan dapat ditabung sebagai bekal pulang ke Indonesia. Soegih Arto pun pernah kesengsem melihat Susanto Tirtoprodjo, duta besar Republik Indonesia untuk Belanda yang selalu tampil berpakain rapi dan naik turun mobil kemana-mana.


Masa magang sebagai diplomat mungkin sudah dijalani Soegih Arto sewaktu menjabat Komandan Komando Militer Kota Besar di Medan tahun 1956. Meski sebentar, setidaknya Soegih Arto sudah memiliki kontak dengan konsul-konsul dari India, Amerika Serikat, Tiongkok, dan Inggris. Soegih Arto dan istri kerap diundang dalam hajatan ulang tahun negara-negara tersebut. Dia bangga benar ketika diajak ikutan toast gelas sebagai tanda selamatan. Serasa jadi orang penting, katanya.     


Dalam otobiografinya Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Purn.) Soegih Arto, ada kisah lucu kala dirinya bersua dengan konsul Tiongkok yang hanya mau berbicara dalam bahasa Tionghoa. Sementara Soegih Arto mempergunakan bahasa Indonesia. Perkara beda bahasa ini bikin pekerjaan penerjemah jadi semakin rumit. Kalau si konsul berlelucon, dia sudah ketawa duluan baru Soegih Arto menyusul setelah diterjemahkan. Sebaliknya, giliran Soegih Arto yang menceritakan lelucon, maka dia tertawa lebih dulu, lalu sang konsul ikutan terpingkal setelah penerjemah menceritakan ulang dalam bahasa Tionghoa. Akhirnya, mereka pun tertawa lagi bersama-sama. Makan waktu tapi kocak.  

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Djalimin was sentenced to 15 years in prison for killing a Dutch man who was about to rape her. A question posed by a member of the Indonesian House of Representatives to the government led to her release.
bg-gray.jpg
Bersama Henk Sneevliet, Adolf Baars mempelopori komunisme di Indonesia. Takdir keduanya setali tiga uang, berakhir tragis di tangan Nazi.
bg-gray.jpg
Jauh di pedalaman hutan Papua yang terisolasi, sejumlah warga Lampung turut menjalani hidup sebagai tahanan politik. Salah satunya adalah Sjahmin Pandjinegara.
bg-gray.jpg
PKI memiliki tradisi intelektual yang kuat. Membawa gagasan ke tengah masyarakat melalui pendidikan dan pemberantasan buta huruf. Hasilnya menjadi salah satu partai terbesar.
Negeri-negeri yang bergulat dari masa transisi menuju demokrasi, kejahatan kemanusian di masa lalu acap menjadi beban di masa kini.
Negeri-negeri yang bergulat dari masa transisi menuju demokrasi, kejahatan kemanusian di masa lalu acap menjadi beban di masa kini.
Bergabung dengan NATO bukan hanya jadi masalah buat Presiden Rusia Vladimir Putin. Tujuh puluh tahun silam, hal itu juga menjadi masalah warga Islandia.
Bergabung dengan NATO bukan hanya jadi masalah buat Presiden Rusia Vladimir Putin. Tujuh puluh tahun silam, hal itu juga menjadi masalah warga Islandia.
Bahu-membahu di bawah panji Unifikasi. Melebur jadi satu dengan menghayati lagu “Arirang”.
Bahu-membahu di bawah panji Unifikasi. Melebur jadi satu dengan menghayati lagu “Arirang”.
Arsenal merayakan FA Cup tanpa euforia penonton di Wembley. Berbeda jauh dari suasana final di stadion ikonik itu 97 tahun silam.
Arsenal merayakan FA Cup tanpa euforia penonton di Wembley. Berbeda jauh dari suasana final di stadion ikonik itu 97 tahun silam.
Orang-orang Melanesia menyanyikan lament untuk bangkit dari duka. Menjadi sejarah lisan perjalanan manusia dalam mempertahankan hidup.
Orang-orang Melanesia menyanyikan lament untuk bangkit dari duka. Menjadi sejarah lisan perjalanan manusia dalam mempertahankan hidup.
Yang kita butuhkan, mungkin, bukan Nelson Mandela tapi kemauan dan keberanian untuk menebus dosa masa lalu dengan berbagai cara yang bisa memenuhi rasa keadilan.
Yang kita butuhkan, mungkin, bukan Nelson Mandela tapi kemauan dan keberanian untuk menebus dosa masa lalu dengan berbagai cara yang bisa memenuhi rasa keadilan.
transparant.png
bottom of page