top of page

Kiai NU dan Daging Babi

Ketika para kiai NU melucu. Dari soal makan babi sampai Jawa tanah kiai.

loading_historia_white.gif
transparant.png

K.H. A.bdul Wahid Hasyim. (Betaria Sarulina/Historia.ID).

8 Agu 2019
2 menit membaca

SORE itu, menjelang 1943, Saifuddin Zuhri (mantan menteri agama era Sukarno dan Soeharto) dan beberapa kawannya mengunjungi kantor Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) pimpinan Hasyim Asy’ari di Taisodori (kini Tugu Kunstkring Paleis di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat).


Saifuddin bermaksud mencurahkan kegelisahan dari aktivitas yang sedang dikerjakannya. Ia bersama beberapa tokoh Islam saat itu sedang ikut dalam program penggemblengan ulama berjiwa Nippon yang dibuat pemerintah Jepang. Mereka dipersiapkan untuk membantu Jepang memenangkan perang melawan Sekutu.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page