top of page

Ketika Para Perwira Mengkritik Penampilan Sukarno

Presiden Sukarno kerap tampil necis dan gagah. Namun gaya berpakaian militernya mengundang kritik dari sejumlah perwira.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Sukarno dalam balutan seragam militer. Foto: AFP dan Fotoleren

  • 8 Jun 2021
  • 3 menit membaca

Jenderal Abdul Haris Nasution punya kesan tersendiri terhadap penampilan Presiden Sukarno. Menurutnya, Bung Karno senang terlihat modis dan perlente. Hingga sekali waktu, Nasution memberanikan diri menanyakan sesuatu yang sifatnya agak pribadi.


“Mengapa selalu pakai dasi, mengapa tidak dengan kemeja kerja saja?” tanya Nasution kepada Bung Karno.


“Ah, nanti saya masuk angin,” jawab Bung Karno sekedarnya seperti dikisahkan Nasution dalam memoar Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 4: Masa Pancaroba Kedua.    


Sudah jadi rahasia umum kalau Sukarno memang gemar bersolek. Dari atas ke bawah, Sukarno piawai memadukan kombinasi busana rancangannya sendiri. Seragam kepresidenan bergaya militer lengkap dengan atribut acap kali membalut tubuhnya. Kemudian, Sukarno suka pakai peci khas yang memahkotai kepalanya. Tidak luput, kaca mata hitam dan tongkat komando sebagai aksesoris. Kepiawaian Bung Karno dalam mengenakan itu semua diakui sendiri oleh putra sulungnya, Guntur Sukarnaputra.


“Dari sekian banyak kepala negara atau kepala pemerintahan,” kata Guntur dalam Bung Karno dan Kesayangannya, “Bapak terkenal sebagai salah satunya yang berpakaian secara dandy (rapih) dan mentereng.”


Meski demikian, perkara gaya berpakaian Sukarno menjadi sorotan bagi sejumlah perwira militer. Soalnya, Sukarno yang orang sipil itu suka tampil dengan uniform militer ke mana-mana. Nasution mengatakan bahwa Sukarno amat teliti dalam berpakaian. Penampilan Nasution sendiri bahkan tidak luput dari koreksi Sukarno.  


“Saya berkali-kali diingatkan karena kurang teliti berpakaian, bahwa taille baju saya tidak tepat dan sebagainya,” kenang Nasution.


Kritik yang tajam pernah disampaikan Brigjen Surachman, panglima Divisi Brawijaya. Masih dalam tuturan Nasution, ketika Sukarno berkunjung ke Jawa Timur, Surachman turut menyambut di lapangan terbang. Di sela-sela sambutan itu, Surachman menyisipkan pesan langsung kepada Sukarno. Begini kata Surachman, “Rakyat akan lebih senang melihat Presiden berpakaian sederhana, daripada dalam seragam militer gemerlapan.” Sontak saja perkataan itu bikin Sukarno marah. Kejadian itu membuat Sukarno tidak mau bicara. Surachman pun dicuekin.


Masukan yang paling menohok bagi Sukarno barangkali datang dari Jenderal Mayor Tahi Bonar Simatupang. Ketika menjabat Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP), Simatupang pernah terang-terangan meminta Sukarno agar jangan lagi memakai seragam militer. Dalam Percakapan dengan Dr. T.B. Simatupang, Simatupang mengenang “kelancangannya” kala menasihati Bung Karno itu terjadi saat dirinya masih perwira muda berusia  29 atau 30 tahun.


“Bung Karno”, kata Simatupang, “Saya sebagai Kepala Staf Angkatan Perang memakai uniform dan memberikan hormat kepada Bung Karno yang tidak memakai uniform, sehingga dengan demikian masyarakat melihat bukan yang memakai uniform itu yang tinggi, tapi yang tidak pakai uniform.”


Menurut Simatupang, presiden dapat memberikan contoh yang sangat baik dengan mengenakan pakaian sipil pada upacara militer. Dengan begitu, Sukarno memperoleh penghormatan sebagai panglima tertinggi bukan karena uniform-melainkan karena yang bersangkutan adalah kepala negara. Alih-alih menerima saran, Sukarno malah tersinggung dengan ucapan Simatupang. Namun, dia hanya memendam jengkel tanpa mau membicarakannya. Simatupang kemudian mendengar dari orang lain betapa marahnya Sukarno sehingga beredar rumor kalau Simatupang melarang Sukarno memakai uniform.


Bagi Sukarno, seperti diungkap Walentina Waluyanti de Jong, gaya dan penampilannya lebih pada soal insting, selera, kesadaran, dan pemahamannya tentang estetika. Jauh sebelum menjadi pemimpin bangsa, penampilannya selalu terjaga apik. Kecenderungan Sukarno untuk selalu tampil representatif memang sudah jadi bakat alamiah.


“Pada zaman Jepang yang serba susah pun, tetap saja Sukarno tampil flamboyan bak model saat tampil pada sampul majalah Djawa Baroe,” tulis Walentina dalam Tembak Bung Karno Rugi 30 Sen.


Soal penampilan, Sukarno sendiri dalam otobiografinya yang disusun Cindy Adams Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat mengatakan seragam dan peci hitam adalah tanda pengenal dirinya. Menurutnya itu adalah pakaian yang patut dikenakan bagi presiden selaku panglima tertinggi. Penampilan dengan uniform militer itu juga jadi suatu tanda yang dapat mengangkat kepercayaan diri, tidak hanya bagi diri Sukarno tetapi juga untuk rakyatnya.


“Setelah kemerdekaan Indonesia aku proklamirkan, aku harus bisa memberikan kepada mereka sebuah citra, suatu kebanggaan. Maka aku selalu memakai seragam,” kata Sukarno kepada Cindy Adams dalam My Friend the Dictator.



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Gerakan Pramuka pernah punya andil dalam menggiatkan pembangunan melalui transmigrasi. Namun, Transmigrasi Pramuka dinilai kurang tepat dan gagal.
bg-gray.jpg
An Italian general and national hero was commanding his ship when the Aceh War broke out. Alas, in the waters off Aceh, he contracted cholera and met his demise.
bg-gray.jpg
Henk Ngantung sebagai perancang lambang Kostrad diakui secara resmi oleh Soeharto. Dia juga menjadi warga kehormatan Kostrad. Namun, setelah peristiwa 1965, jasanya seakan dilupakan.
bg-gray.jpg
Ketimbang D.N. Aidit atau Adam Malik, A.K. Jusuf pernah dianggap murid terpandai oleh Sutan Sjahrir. Riwayat pemuda impulsif itu berujung tragis pasca menculik sang mentor.
Misi barisan Guardians of the Galaxy diselamatkan anjing galaksi berkekuatan super. Karakter yang terinspirasi dari Laika si martir antariksa Soviet.
Misi barisan Guardians of the Galaxy diselamatkan anjing galaksi berkekuatan super. Karakter yang terinspirasi dari Laika si martir antariksa Soviet.
Presiden Putin begitu sumringah menendang bola di Lapangan Merah laiknya Stalin delapan dasawarsa sebelumnya di tempat yang sama.
Presiden Putin begitu sumringah menendang bola di Lapangan Merah laiknya Stalin delapan dasawarsa sebelumnya di tempat yang sama.
Presiden Jokowi menjadi tamu kehormatan Republic Day India. Mengikuti jejak SBY dan Sukarno.
Presiden Jokowi menjadi tamu kehormatan Republic Day India. Mengikuti jejak SBY dan Sukarno.
Tema budaya bahari dipilih untuk mengingatkan bangsa Indonesia sebagai negara kepulauan dan laut sebagai penghubungnya.
Tema budaya bahari dipilih untuk mengingatkan bangsa Indonesia sebagai negara kepulauan dan laut sebagai penghubungnya.
Percampuran banyak budaya di Kota Budapest akan dituangkan lewat pameran bersama antar dua negara.
Percampuran banyak budaya di Kota Budapest akan dituangkan lewat pameran bersama antar dua negara.
Jejaring sosial bukan barang baru. Cikal-bakalnya sudah tercipta sebelum internet meluas di dunia.
Jejaring sosial bukan barang baru. Cikal-bakalnya sudah tercipta sebelum internet meluas di dunia.
transparant.png
bottom of page