top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Jodoh Dono Ditunjukkan Jailangkung

Dono bertemu jodoh yang ditunjukkan jailangkung ketika perploncoan di UI.

23 Jul 2020

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Dono bersama istri, Titi Kusumawardhani, dan tiga anaknya: Andika Aria Sena, Damar Canggih Wicaksono, dan Satrio Sarwo Trengginas. (Dok. Andika Aria Sena).

Diperbarui: 17 Nov 2025

JODOH ada di tangan Tuhan. Namun, manusia harus berusaha untuk mencarinya. Sehingga setiap orang punya cerita bagaimana mendapatkan pasangan hidupnya. Ceritanya ada yang biasa, berliku, bahkan luar biasa, seperti Dono yang jodohnya ditunjukkan jailangkung. Boleh percaya, boleh tidak, bebas saja.


Ketika duduk di bangku SMP, Wahyu Sardono, yang kemudian dikenal luas sebagai Dono, main jailangkung dengan adik, kakak, dan ibunya. Kakaknya menanyakan kepada jailangkung, siapa pacar Dono dan asalnya dari mana. Jailangkung itu menulis: Titi Kusumawardhani dari Madiun.


“Iya memang pernah main jailangkung ketika SMP dulu, kami rame-rame, ada kakak dan ibu saya. Yang lucu memang dikasih tahu calonnya dari Madiun namanya Titi,” kata Rani Toersilaningsih (65 tahun), adik Dono yang sekarang menjadi dosen FE UI, kepada Historia.ID.


Akhirnya, Dono bertemu dengan jodoh yang ditunjukkan jailangkung itu: Titi Kusumawardhani yang biasa disapa Didiet.


Majalah Tempo, 17 November 1979, melaporkan, waktu itu, Dono, anggota Warung Kopi Prambors, berambut gondrong dan pakai celana pendek, membentak-bentak Didietyang diplonco ketika mau masuk jurusan Fakultas Ilmu-ilmu Sosial (FIS) UI pada 1974. Meski demikian, di akhir perploncoan, Didiet memilih Dono sebagai senior yang paling disukainya.


Dono dan Didiet kemudian menjalin kasih hingga ke jenjang pernikahan pada 13 November 1979. Dono mengatakan ingin punya dua anak saja, tapi ternyata dikaruniai tiga anak: Andika Aria Sena, Damar Canggih Wicaksono, dan Satrio Sarwo Trengginas.


“Tapi saya tak ingin anak saya jadi tentara,” kata Dono dikutip Tempo.


Benar saja, anak Dono tidak ada yang jadi tentara. Anak pertama menjadi broadcaster, anak kedua dosen bahkan pendidikan doktoralnya teknik nuklir, dan yang ketiga jurnalis.


Ketika ditanya, apakah akan terus melucu setelah menikah? “Hidup ini rasanya lebih enak dengan canda,” kata Dono yang saat itu menjadi asisten dosen di Departemen Sosiologi FIS UI.


Namun, mengapa dalam pesta pernikahannya, Dono tidak melucu. Dono punya jawaban jitu: “Saya ingin serius untuk sekali ini saja. Kalau saya harus melucu, lebih baik undangannya saya jual.”


Soal jodohnya itu, Tempo menyebut, Dono pernah diingatkan oleh ibunya yang meninggal tiga bulan sebelum pernikahan Dono. “Calon istrimu itu persis seperti yang dikatakan jailangkung dulu,” kata ibunya.


Menariknya, seorang pembaca bernama Jose Alves S. dari Kampung Poetete, Kabupaten Ermera, Timor Timur, mengirim surat menanyakan siapakah jailangkung itu:


“Pada Tempo, 17 November, Pokok & Tokoh tentang Wahjoe Sardono, dinyatakan bahwa memperoleh istri sesuai petunjuk jailangkung. Sebagai penduduk provinsi termuda RI, bolehkah kami tahu siapakah jailangkung itu? Dapatkah redaksi atau Wahjoe Sardono memberi penjelasan? Karena kemungkinan sama dengan keadaan di daerah kami, di mana agama Zentiu mengajarkan percaya pada batu/kayu.”


Redaksi menjawab: “Jailangkung adalah boneka sederhana yang bisa dibuat sendiri, yang dengan ‘mantra’ tertentu dianggap bisa menjawab berbagai pertanyaan gaib. (Dono boleh menambah. Kan kamu yang punya soal?).”


Barangkali di antara pembaca ada yang mau mencoba main jailangkung buat menanyakan siapa jodohnya.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Tuan Rondahaim melawan Belanda di Simalungun hingga akhir hayatnya. Dia tidak pernah menyerah. Penyakit rajalah yang menghentikan perlawanannya.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
bottom of page