Relawan Penyelamat Peradaban

Sekelompok relawan berangkat ke garis depan untuk menyelamatkan karya seni Eropa yang dicuri Nazi.

1488632604000
  • BAGIKAN
Relawan Penyelamat Peradaban
Judul: The Monuments Men | Sutradara: George Clooney | Pemain: Bill Murray, Bob Balaban, Cate Blanchett, Hugh Bonneville, John Goodman, Jean Dujardin, Matt Damon | Produksi: Columbia Pictures | Rilis: Februari 2014. Foto: Claudette Barius/Columbia Pictures.

Di Ghent, Belgia, beberapa biarawan bekerja tergesa-gesa. Mereka berkejaran dengan waktu. Tentara Jerman-Nazi sudah dekat. Dalam kegelapan malam, mereka berangkat menggunakan truk dengan membawa karya-karya seni klasik Eropa ke tempat yang mereka anggap aman. Adegan ini menjadi pembuka film The Monuments Men.

Saat Perang Dunia II, Hitler mencuri sejumlah karya seni seni, mulai lukisan hingga patung. Dia ingin memajangnya di Fuehrer Museum, yang bakal dibangun di Linz, Austria, sebagai pusat peradaban dunia. Sejumlah pemeduli budaya, terutama di Amerika dan Eropa, cemas.

Seorang kurator museum Frank Stokes (diperankan George Clooney) memberikan laporan kepada Presiden AS Franklin Delano Roosevelt. Dia khawatir, pencurian karya seni yang dilakukan Hitler secara sistematis bakal membahayakan peradaban umat manusia. Presiden Roosevelt lalu membentuk Monuments Men, sebuah kelompok dalam seksi Monuments, Fine Arts, Archives (MFAA), untuk menyelamatkan warisan budaya negara-negara Eropa dari kehancuran akibat perang.

Stokes, bersama beberapa teman dari beragam profesi, bergabung. “Jika Anda merusak karya-karya mereka, dan lebih jauh sejarah, itu ibarat aku tak pernah ada. Seperti abu beterbangan,” ujar Stokes menjelaskan misi penyelamatan itu kepada rekan-rekannya.

Setelah mendapat pelatihan militer singkat, anggota Monuments Men diterjunkan di pantai Normandia, Prancis. Mereka lalu menyebar ke tempat-tempat yang terdapat karya-karya seni terancam keselamatannya. James Granger (diperankan Matt Damon) yang menjadi “mata-mata” membangun kontak dengan Claire Simone (Cate Blanchett), pegawai Jeu de Paume Museum di Paris. Simone diam-diam mencatat karya seni-karya seni yang dicuri Nazi di Prancis. Melalui catatan Simone itulah Monuments Men menemukan karya-karya yang awalnya tak diketahui tempat persembunyiannya.

Kerja keras membawa mereka ke puncak penemuan di tambang garam kuno yang terletak di Altausee, kaki pegunungan Alpen, Austria. Di tempat persembunyian yang terletak sekira seribu meter di dalam perut gunung itulah tersembunyi karya-karya masterpiece dunia.

[pages]

Kisah Nyata

Film ini diangkat dari buku The Monuments Men: Allied Heroes, Nazi Thieves and the Greatest Treasure Hunt in History karya Robert M. Edsel dan Bret Witter.

Robert M. Edsel memulai kariernya dalam bisnis eksplorasi minyak dan gas. Pada 1995, dia menjual perusahaannya dan pindah ke Eropa. Dia lalu tinggal di Florence, Italia, untuk memenuhi ketertarikannya di bidang seni. Dia menyewa seorang profesor sejarah seni untuk mengajarinya bagaimana melihat seni. Dia membaca banyak buku. Dia melihat karya-karya besar dari satu museum ke museum lain. Suatu waktu, ketika berdiri di jembatan Ponte Vecchio, kegelisahan menyergap.

“Saya tahu saya bukan sejarawan Perang Dunia II, tapi saya cukup tahu bahwa Eropa hancur berkeping-keping,” katanya kepada Wall Street Journal, 1 Mei 2013. “Jadi, jika benua ini berantakan, bagaimana semua karya seni bertahan? Mereka tak punya kaki. Mereka tidak pergi bersembunyi sendiri. Jadi saya mulai meminta orang-orang di Florence, dan mereka semua mengatakan ‘itu pertanyaan yang menakjubkan’.”

Selama bertahun-tahun, dia mencari jawabannya. Melalui penelusuran arsip hingga wawancara, dia mendapatkannya: Hitler dan Nazi mencuri karya-karya agung, dan ada sekelompok orang yang berupaya menyelamatkannya. Edsel lalu menuangkannya dalam sebuah buku foto Rescuing Da Vinci (2006), The Monuments Men (2009) bersama Bret Witter, dan Saving Italy: The Race to Rescue a Nation’s Treasures from the Nazis (2013). The Monuments Men menarik perhatian George Clooney, seorang aktor sekaligus sutradara, untuk mengadaptasikannya ke layar lebar.

Dalam film, Clooney melakukan beberapa perubahan dan pengembangan karakter. Frank Stokes, misalnya, adalah rekaan dari tokoh asli George Stout, konsevator seni dari Museum Fogg, Harvard. Atau Donald Jeffries, mengacu Ronald Balfour, yang tewas dalam upaya penyelamatan. Clooney juga menghadirkan karakter fiksi, Jean-Claude Clermont (Jean Dujardin).

Clooney tak berpretensi membuat film serius. Jadi, jangan harap Anda menemukan ketegangan demi ketegangan. Ini bukan film perang. Clooney menampilkan kisah ini dengan sentuhan humor yang cukup membuat kita tersenyum, tanpa mengabaikan sisi yang menyentuh. Walter Garfield (diperankan John Goodman) yang tambun, misalnya, kerap menghadirkan kelucuan. Dalam latihan, dia terjatuh saat menaiki papan rintangan. Ketika Jean-Claude Clermont berlari ke arah tempat arah suara tembakan sniper untuk menyerang, Garfield memberi tembakan perlindungan yang justru hampir menciderai rekannya. Namun film ini juga menyajikan adegan-adegan yang begitu menyentuh.

[pages]

Kedodoran Fakta

Meski secara sinematografi sangat baik, film ini kedodoran dalam fakta sejarah. Dalam film, Frank Stokes adalah penggagas upaya penyelamatan karya-karya seni yang dicuri maupun terancam dicuri Nazi. Lalu terbentuklah Monuments Man. Pada kenyataannya, George Stout bergabung dengan MFAA justru setelah seksi itu terbentuk. Stout memang mengusulkan pembentukan relawan penyelamat karya seni, tapi ditolak. Karena upayanya bertepuk sebelah tangan itulah dia lalu mendaftar ke Angkatan Laut dan ikut berperang.

Monuments Man juga awalnya dibentuk untuk menyelamatkan bangunan-bangunan bersejarah. Itu sebabnya para anggota Monuments Men berkoordinasi dengan panglima pasukan setempat untuk menghindari pemboman di dekat bangunan-bangunan bersejarah. Baru kemudian Monuments Men ikut menyelamatkan karya-karya seni.

Penyimpangan lainnya, dalam film, para pemeduli budaya bergerak karena “Nero Decree” yang dikeluarkan Hitler untuk memusnahkan semua fasilitas komunikasi, transportasi, termasuk karya seni yang berhasil mereka curi agar tak jatuh ke tangan pasukan Sekutu dan di kemudian hari bisa dijadikan bukti pemberat di pengadilan. Padahal “Nero Decree” tak secara spesifik menyebut karya seni dan produk budaya. Hitler juga hanya memerintahkan pemusnahan karya seni yang dianggapnya tak bermutu, semisal karya beraliran kubisme, surealisme, dan ekspresionisme. Karya seni yang dianggap bernilai justru dia selamatkan dan rencananya bakal dipajang di museum yang bakal didirikannya di Linz. Altar Ghent, misalnya, oleh Hitler justru dianggap sebagai buah kejeniusan bangsa Arya.

Masih banyak fakta melenceng yang disuguhkan film ini. Tapi sudahlah, ini hanya sebuah film. Dan yang terpenting, film ini bukan semata berhasil menghibur tapi juga menyuguhkan kisah keberanian, ketulusan, rasa tanggungjawab sekelompok relawan terhadap karya-karya penanda peradaban.

[pages]

  • BAGIKAN
0 Suka
BOOKMARK