Pahlawan Tanpa Senapan

Kisah seorang prajurit Amerika Serikat dalam Perang Pasifik yang jadi pahlawan justru karena tak angkat senjata.

1486042427000
  • BAGIKAN
Pahlawan Tanpa Senapan
Judul: Hacksaw Ridge | Pemain: Andrew Garfield, Teresa Palmers, Rachel Griffiths, Hugo Weaving | Sutradara: Mel Gibson | Produser: Terry Benedict, Paul Currie, Bruce Davey | Produksi: Pandemonium Films, Permut Productions, Vendian Entertainment | Rilis: 2016

SEORANG pria terpental diterjang peluru. Tak lama kemudian bom meledak dan mengobarkan api. Korban-korban berjatuhan. Di bawah hujan peluru, empat pria berpakaian hijau sibuk mengangkat para korban.

Adegan-adegan pertempuran, dari Perang Saudara hingga Perang Pasifik, menjadi pembuka film ini. Setelah itu kita dibawa ke masa lalu (flashback) dengan suasana alam di Pegunungan Blue Ridge, Virginia, Amerika Serikat, tahun 1929. Dua bocah Doss bersaudara, Desmond dan Harold, sering menghabiskan waktu bermain di sana. Namun sebagaimana umumnya anak-anak, keduanya juga kerap ribut dan berkelahi.

Masa kecil Desmond dan Harold menjadi suram setelah kedua orangtua mereka, Tom Doss (Hugo Weaving) dan Bertha Doss (Rachel Griffiths), mulai sering bertengkar. Desmond bahkan menemukan ibunya menangis di kegelapan malam saat dia terbangun dari tidur. Demi membela ibunya, Desmond hampir menembak ayahnya.

Lima belas tahun berlalu. Saat Desmond (Andrew Garfield) bekerja membersihkan gereja, terdengar keramaian di luar. Dia buru-buru ke tempat datangnya suara. Seorang pria terkapar dan mengerang kesakitan akibat tertabrak mobil. Desmond ikut menolong. Dia membebatkan kain pada luka yang terus mengeluarkan darah dan menemani korban ke Rumahsakit Lynchburg Hospital. Di sana, dia berkenalan dengan seorang perawat bernama Dorothy (Teresa Palmer), yang kemudian dinikahinya.

Suatu hari, Desmond meminta izin kepada ayahnya untuk mengabdi pada negara dengan terjun ke medan perang. Meski sempat mendapat tantangan dari sang ayah, dia akhirnya berangkat ke pangkalan militer Fort Jackson. Setelah mendapat pembekalan dan pelatihan, bahkan ujian mental dari instruktur hingga teman-teman seasrama yang membuli bahkan mengeroyoknya, Desmond berangkat ke Pasifik. Dia ditugaskan di Okinawa, Jepang.

Wahana menuju kematian pun dimulai. Sebuah jebakan dari pasukan Jepang mengagetkan para prajurit Paman Sam. Dalam hitungan detik, pasukan Jepang yang sudah siap memberondong mereka. Korban berjatuhan. Desmond dan teman-temannya dari unit medis kalang-kabut menangani mereka.

Desmond membuktikan bahwa dia bukan paramedis biasa. Dia siap mempertaruhkan nyawa. Ketika pasukannya mundur, dia seorang diri kembali ke garis depan untuk mencari mereka yang masih hidup dan memberi pertolongan.

Adegan-adegan pertempuran menjadi ajang pembuktian kehebatan sutradara meramu cerita dan menuangkannya sebagai tontonan. Cara seorang prajurit tewas, nasib jasad yang belum tertangani, atau perjuangan Desmond menolong amat kuat memainkan perasaan. Puncak dramatisasi terjadi pada pengujung film; Mel Gibson menutup filmnya dengan baik meski tak amat ciamik.

[pages]

Belas kasih

Film ini diangkat dari kisah nyata. Desmond Litty Doss lahir di Lynchburg, Virginia, Amerika Serikat, pada 7 Februari 1919. Dia putra dari pasangan William Thomas Doss dan Bertha E Oliver. Sewaktu kecil, dia akrab dengan Harold, adiknya. Ke mana-mana, keduanya hampir selalu bersama.

Kebahagiaan masa kecil terusik karena sang ayah masuk ke dalam jurang alkohol setelah masa Depresi. Namun sang ibu dengan tekun mengajarkan ajaran Kristiani. Desmond menjadi anak yang taat beragama. Keyakinan mendalam pada Yesus, yang mengorbankan diri untuk menebus dosa manusia, menginspirasinya untuk menjadi penolong.

Audrey Doss, adik perempuan Desmond, ingat pada suatu hari radio menyiarkan berita kecelakaan lalulintas di Route 29 dan korbannya, seorang perempuan, membutuhkan banyak darah. Desmond langsung berjalan sejauh tiga mil menuju Lynchburg Hospital, tempat korban berada, untuk menyumbangkan darahnya. Perbuatan itu tak hanya terjadi sekali. Dan Desmond tak pernah mengeluh meski harus pergi-pulang berjalan kaki.

Kemantapan hati untuk menjadi penolong meyakinkan Desmond untuk terjun ke Perang Pasifik. Tak seperti pemuda lainnya, sebagai penganut Kristen Advent Hari Ketujuh yang taat, Desmond ogah memanggul bedil. Prinsip itu membuatnya mengalami kesulitan pada masa awal dia diterima di Divisi 77 AD AS.

Pada musim panas 1944, Desmond bertugas sebagai tenaga medis tempur di Guam dan Leyte di Filipina dan menerima medali Bronze Star. Dia kemudian ambil bagian dalam pertempuran di Okinawa pada musim semi 1945. Di Okinawa inilah perjuangannya menjadi legenda.

Dalam suatu momen, seorang diri dia mengikat ikat satu per satu korban dan mengerek turun ke tempat aman di bibir pantai. Dia tak peduli dalam bahaya, kerap diburu dan hampir tertangkap, bahkan terluka parah yang diobatinya sendiri. “Namun dalam keadaan terluka pun, dia masih sempat menyelamatkan beberapa nyawa,” tulis Herman Bauman dalam I am Saved and Yes I am Perfect. Sedikitnya 75 nyawa –bahkan menurut Bauman, 100 nyawa– berhasil selamat berkat keberanian Desmond. Dan selama perang itu pula, karena memegang keyakinan agamanya, tak satu peluru pun ditembakkannya.

Lantaran lukanya di medan tempur tak memungkinkannya lagi berdinas di militer, Desmond memilih jadi petani. Atas pengabdiannya, Presiden Harry S. Truman dengan bangga menyematkan Medal of Honor. Desmond menjadi pemberitaan dan menjadi inspirasi.

“Dua puluh tahun setelah Desmond Doss dianugerahi Medal of Honor, pemuda patriotik Amerika lain mengabdikan diri ke medan pertempuran. Namanya Curtis A Reed dari Gillette, Wyoming. Seperti Desmond, dia penganut Advent Hari Ketujuh. Seperti Desmond, dia amat ingin dan berhasrat untuk mengabdi pada negara,” tulis Booton Herndon dalam The Unlikeliest Hero.

Desmond wafat pada 23 Maret 2006 di usia 87 tahun.

[pages]

Drama Pertama, Fakta Kedua

Dalam film beralur maju-mundur ini, sutradara Mel Gibson piawai membangun dramatisasi. Mulai babak pertama hingga terakhir, drama yang hadir amat memikat. Cara para prajurit tewas hingga tekad dan upaya keras Desmond menyelamatkan nyawa rekan-rekannya amat menyayat.

Alasan entertain mungkin membuat Gibson lebih mengedepankan dramatisasi ketimbang mentah-mentah menelan fakta. Konsekuensinya, banyak adegan yang murni fiksi atau jadi fiksi. Misalnya, pertengkaran Desmond dan ayahnya. Pertengkaran itu hadir dalam alur flashback, ketika Desmond terbangun dari mimpi buruk di lubang perlindungan di Okinawa. Faktanya, itu adalah pertengkaran ayahnya dengan pamannya ketika keduanya sama-sama mabuk. Di film, Desmond hampir menembak ayahnya. Faktanya, ayahnya hampir menembak pamannya sebelum digagalkan ibunya.

Desmond juga digambarkan senang datang ke rumahsakit karena jatuh hati pada perawat bernama Dorothy. Faktanya, Desmond sering datang ke rumahsakit karena senang menolong orang. Dorothy sendiri baru lulus menjadi perawat beberapa tahun setelah pertemuannya dengan Desmond. Dan pertemuan pertama keduanya terjadi di gereja, bukan di rumahsakit.

Untuk keperluan drama pula, Gibson berani menambahkan fiksi, entah tokoh atau peristiwa. Tokoh antagonis Smitty (Lukas Bracey), teman Desmond di asrama, merupakan karakter fiksi murni.

Toh, keberanian Gibson melenceng dari fakta dan memasukkan banyak fiksi justru membuat film ini kian dramatis. Kesan film heroik murahan sama sekali tak muncul. Mungkin drama buatan Gibson terlalu digdaya sehingga mengubur riak-riak kecil.

[pages]

  • BAGIKAN
0 Suka
BOOKMARK